<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>the tuKang nggEdebLuEs</title>
	<link>http://irf.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 13:19:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Setelah Batang Pertama, Ada Lagi Yang Selanjutnya &#8230;</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 13:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/</guid>
		<description><![CDATA[	Bagian ketiga dari trilogi cerita tentang racun nikotin yang dikemas dalam lintingan kertas sigaret &#8230;.. Untuk lebih jelas, silakan baca dua tulisan sebelumnya &#8230;.

	Benar-benar susah untuk sembuh dari yang namanya kecanduan.
Ada saja yang membuat iman tergoda. 
	Seperti yang saya alami. Keinginan untuk lepas dari kecanduan terhadap racun yang terserak dalam sebatang rokok, ternyata belum bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Bagian ketiga dari trilogi cerita tentang racun nikotin yang dikemas dalam lintingan kertas sigaret &#8230;.. Untuk lebih jelas, silakan baca dua tulisan sebelumnya &#8230;.<br />
<a id="more-113"></a></p>
	<p>Benar-benar susah untuk sembuh dari yang namanya kecanduan.<br />
Ada saja yang membuat iman tergoda. </p>
	<p>Seperti yang saya alami. Keinginan untuk lepas dari kecanduan terhadap racun yang terserak dalam sebatang rokok, ternyata belum bisa terealisasi. Keinginan, tak seiring dengan kenyataan. </p>
	<p>Yah, saya belum berhasil untuk benar-benar lepas dari nikotin. Hanya sebulan. Ya, hanya sebulan paru-paru saya benar-benar bebas dari asap pembakaran tembakau. </p>
	<p>Setelah itu, ada batang pertama yang saya isap, setelah bebas sebulan. Selanjutnya, ada berbatang-batang lintingan tembakau berbagai merek, yang saya bakar ujungnya dan saya isap asapnya. </p>
	<p>Memang, dibanding waktu sebelum bebas sebulan, intensitasnya sekarang sudah jauh berkurang. Tapi untuk lepas sama sekali, saya belum bisa. </p>
	<p>Saya masih berusaha &#8230;.<br />
Sebatang, dua batang, mungkin masih bisa dimaklumi<br />
Tapi tidak sama sekali dalam sehari, tentu lebih baik &#8230;<br />
Saya akan berusaha &#8230;. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sebulan</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 16:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/</guid>
		<description><![CDATA[	Pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. (penggalan dari postingan saya sebelumnya) 
	Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. (juga penggalan dari postingan saya sebelumnya)

	Sekarang saya sudah tahu jawaban pertama. Sampai kapan? Sebulan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. (penggalan dari postingan saya sebelumnya) </p>
	<p>Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. (juga penggalan dari postingan saya sebelumnya)<br />
<a id="more-112"></a></p>
	<p>Sekarang saya sudah tahu jawaban pertama. Sampai kapan? Sebulan. Ya, cuma sebulan, saya bebas asap sejak saya berhenti merokok karena sakit dan dikasih obat bronkitis sama dokter. </p>
	<p>Hari ini, Sabtu (8/3), ketika saya menulis postingan ini pukul 23.30, saya sudah menyulut lima batang rokok yang identik dengan dunia cowboy. Saar saya menulis kalimat ini, kepulan asap rokok menemani saya. </p>
	<p>Kenapa cuma sebulan? Jawabannya ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi.</p>
	<p>Yup, beberapa jam sebelumnya, saya butuh asap rokok. Saya kedinginan. Liputan bencana alam banjir di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo itu membuat saya gelisah. </p>
	<p>Data belum komplet, kondisi cuaca tidak bersahabat, medan yang gelap, obyek yang saya ambil dengan kamera poket saya tak bisa terekam dengan baik, informasi yang masih sumir, dan beragam kondisi tak mengenakkan lainnya. </p>
	<p>Saya akhirnya melangkah ke warung, membeli satu pak rokok cowboy, untuk menetralisir suasana hati. Lumayan. Beban saya sedikit terangkat bersama mengepulnya asap ke udara yang saya embuskan dari mulut, meski mulut saya terasa pahit. Rasa yang sudah sebulan kemarin tidak menghinggapi lidah saya. </p>
	<p>Tapi saya tetap berniat bebas asap lagi. Mulai dari sekarang. Sampai kapan? Sampai saya membutuhkan kepulan racun itu lagi. Entah kapan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bebas Asap &#8230;. Sampai Kapan?</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 10:57:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/</guid>
		<description><![CDATA[	Saya secara sengaja mengontaminasi darah saya dengan nikotin, sejak SMP. Tepatnya SMP kelas dua. Saya lupa, itu di awal kelas dua, pertengahan, atau akhir. Awalnya coba-coba, karena melihat teman yang lebih dulu mengisap lintingan tembakau. Terlihat gagah, jantan &#8230;.

Di kamar teman saya, sebatang rokok Gudang Garam International soft pack yang sebungkus harganya Rp 350 - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya secara sengaja mengontaminasi darah saya dengan nikotin, sejak SMP. Tepatnya SMP kelas dua. Saya lupa, itu di awal kelas dua, pertengahan, atau akhir. Awalnya coba-coba, karena melihat teman yang lebih dulu mengisap lintingan tembakau. Terlihat gagah, jantan &#8230;.<br />
<a id="more-111"></a><br />
Di kamar teman saya, sebatang rokok Gudang Garam International soft pack yang sebungkus harganya Rp 350 - saat itu - saya ambil. Deg-degan. Saya bakar ujung rokok itu. Saya isap asapnya.  Batuk-batuk. Saya isap lagi. Lumayan sukses, meski mulut jadi terasa pahit. Habis sebatang. </p>
	<p>Belum puas. Saya masih ingin merokok. Bersama satu teman, saya pergi ke penjual rokok di pojokan kampung dekat rumah teman saya. Beli rokok Bentoel dua batang. Satu untuk saya, satu lagi untuk kawan saya. Saya lupa harganya. Saya bakar lagi lintingan tembakau itu, saya isap asapnya, sampai habis. </p>
	<p>Dari coba-coba, saya mulai berubah menjadi perokok. Tapi intensitasnya masih jarang. Biasanya, saya merokok saat menonton film di bioskop, bersama kawan-kawan, atau sendiri. Di Wonosobo, kota di mana saya tumbuh, merokok di bioskop tidaklah dilarang. Untuk perokok pemula yang takut ketahuan orang tua, itu malah jadi tempat yang aman untuk mengisap racun. </p>
	<p>Masa SMA, aktivitas merokok bahkan dilakukan tak jauh dari lingkungan sekolah. Biasanya saat istirahat, seusai menyantap nasi di kantin yang ada di luar halaman sekolah, saya - juga kawan-kawan sekolah - merokok, meski sedikit deg-degan takut ketahuan guru. </p>
	<p>Masa kuliah, saya seolah tak terkekang. Hidup jauh dari orang tua, membuat saya merasa lebih bebas. Mengisap tembakau tanpa takut ketahuan. Namun saya tetap tidak berani merokok di rumah, ketika pulang kampung. </p>
	<p>Pertengahan masa kuliah, saya baru berani merokok di rumah saya. Bapak ibu sudah tahu. Dan tidak memarahi. Hanya menyarankan, kalau bisa tidak usah merokok. Kalaupun merokok, jangan terlalu banyak. Saya cuma nggah nggih nggah nggih saja, diwejangi seperti itu. </p>
	<p>Akhir masa kuliah, saya mulai jadi perokok hampir berat. Tiap ujian, bahkan menjelang ujian skripsi, asap menjadi teman baik saya saat belajar. </p>
	<p>Masa kerja, saya mulai menjelma menjadi perokok berat. Meski ada yang kelasnya lebih berat dari saya, sanggup menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Saya, sehari tidak sampai sebungkus. Tapi tetap saya katakan perokok berat, meski dalam situasi tertentu, saya betah tidak merokok seharian, bahkan seminggu. Tapi itu sangat situasional. </p>
	<p>Sebagai perokok, saya itu termasuk asbak. Berbagai merek, bisa diterima mulut saya. Seperti asbak, yang tidak pernah menolak puntung rokok merek apapun. </p>
	<p>Di awal karir merokok, Gudang Garam International - sering juga disebut Gudang Garam Filter - jadi pilihan. Bentoel juga. </p>
	<p>Lalu berderet. Marlboro, Lucky Strike, Sampoerna King, Djarum Super, Sampoerna A Mild, LA Light, U Mild, Star Mild, Dji Sam Soe dan entah berapa banyak lagi merek rokok yang pernah saya isap. Sampai tingwe, ngelinting dewe, juga saya lakoni. </p>
	<p>Dalam kondisi tertentu, saya bahkan mengatakan diri saya, sepur alias kereta api. Mulut ngebul terus. Merokok terus. Biasanya terjadi, saat dalam situasi jenuh menunggu, baik saat tugas peliputan atau dalam situasi lain, yang membuat saya bosan. Kalau dada mulai terasa sesak, biasanya agak saya turunkan intensitasnya. </p>
	<p>Berkali-kali, saya ingin berhenti merokok. Tapi selalu susah. Ketika saya sakit, rokok saya tinggalkan. Lalu muncul niat, setelah sembuh tidak merokok lagi. Tapi biasanya, niat itu hanya bertahan beberapa hari. Saya tetap merokok dan merokok lagi, menikmati racun secara sengaja. </p>
	<p>Saya tahu, apa risiko yang saya hadapi dengan mengisap lintingan tembakau itu. Saya sadar. Tapi saya sulit lepas. Mungkin bisa dibilang, kecanduan saya lumayan akut. </p>
	<p>Sampai sekitar tiga pekan lalu. Ketahanan tubuh saya menurun. Saya sakit. Meriang, panas dingin, pusing, pilek. Ciri-ciri sakit flu. Batuk juga sesekali. Awalnya batuk biasa. Kemudian muncul dahak. </p>
	<p>Selang dua hari, saya periksakan ke dokter. Saya sampaikan keluhan yang saya rasakan. Dokter tanya, apakah saya perokok. Saya jawab, iya, tapi sudah dua hari tidak merokok karena sakit. Perokok berat? Saya jawab, tidak terlalu berat. </p>
	<p>Setelah pemeriksaan, dokter meminta saya tidak mengonsumsi gorengan. Banyak minum susu, cukup istirahat, cukupi vitamin. Tapi dia tidak menyampaikan, apa penyakit yang saya derita. Kemudian dia meminta saya mengambil obat yang sudah disediakan, agar penyakit saya sembuh. </p>
	<p>Sampai saya tiba di kamar kos, saya belum tahu apa penyakit saya. Yang saya tahu, saya sakit flu. Kemasan obat saya buka. Saya baca petunjuk mengkonsumsi. Dari label yang dipasang, saya tahu, jenis obat itu untuk mengobati sakit apa. </p>
	<p>Kemudian, saya kaget ketika membaca label salah satu obat yang saya terima. Di label itu tertulis, bronkitis. Welah, saya sakit bronkitis? Walah &#8230; walah, saya tidak menyangka. </p>
	<p>Setelah saya sembuh dari sakit dan bisa beraktivitas normal, saya cari tahu tentang penyakit bronkitis. Ada sejumlah penyebab, salah satunya asap rokok. </p>
	<p>Sejak itulah, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya tidak merokok. Sudah lebih tiga pekan ini, paru-paru dan jantung saya bebas asap. </p>
	<p>Berat? Sudah pasti. Namanya perokok berat, tiba-tiba saya berkeputusan, berusaha tidak merokok. Sering, saya tiba-tiba ingin merokok. Keinginan yang kuat. Apalagi jika saya terpapar asap rokok yang diembuskan kawan-kawan saat ngobrol. </p>
	<p>Yang paling berat adalah setelah makan. Sudah menjadi ritual bagi perokok, untuk mengisap nikotin sehabis makan. Rasanya sangat nikmat. Lengkap. </p>
	<p>Namun, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya berusaha keras untuk tidak melakukannya. Agak tersiksa memang. </p>
	<p>Saya tidak tahu, sampai kapan bisa bebas asap seperti yang sudah saya alami selama lebih dari tiga pekan ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. </p>
	<p>Saya cuma berusaha, untuk saat ini, menjalankan fase bebas asap ini sebaik mungkin. Dan nyatanya, memang napas terasa lebih lapang karena rongga dada tidak terkontaminasi asap. Tapi ya itu tadi, pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga Tetap Berdedikasi</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 10:37:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/</guid>
		<description><![CDATA[	9 Februari kemarin, kaum jurnalis di Indonesia memperingati Hari Pers Nasional ke-62. Semoga tetap &#8220;independen, obyektif dan tanpa prasangka&#8221; dalam bertugas. Semoga tetap mendengarkan &#8220;suara hati nurani rakyat&#8221; dalam menjalankan &#8220;amanat hati nurani rakyat&#8221;.  Semoga mampu berkontribusi untuk &#8220;meningkatkan dinamika masyarakat&#8221;. Semoga tetap &#8220;berani tanpa tendensi&#8221; dalam menjalankan tugas-tugas kewartawanannya, sehingga masyarakat memperoleh informasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>9 Februari kemarin, kaum jurnalis di Indonesia memperingati Hari Pers Nasional ke-62. Semoga tetap &#8220;independen, obyektif dan tanpa prasangka&#8221; dalam bertugas. Semoga tetap mendengarkan &#8220;suara hati nurani rakyat&#8221; dalam menjalankan &#8220;amanat hati nurani rakyat&#8221;.  Semoga mampu berkontribusi untuk &#8220;meningkatkan dinamika masyarakat&#8221;. Semoga tetap &#8220;berani tanpa tendensi&#8221; dalam menjalankan tugas-tugas kewartawanannya, sehingga masyarakat memperoleh informasi yang &#8220;jernih bernilai&#8221;. Sebab &#8220;selalu ada yang baru&#8221; dalam dunia informasi, yang perlu disampaikan kepada masyarakat. Amin 1000 x &#8230;.<br />
<a id="more-110"></a><br />
Catatan :<br />
1. Independen, Obyektif, tanpa Prasangka (motto harian &#8220;Suara Merdeka&#8221;, sebelum merubah motto menjadi &#8220;Perekat Komunitas Jawa Tengah&#8221;).<br />
2. Suara Hati Nurani Rakyat (motto harian Kedaulatan Rakyat)<br />
3. Amanat Hati Nurani Rakyat (motto harian Kompas)<br />
4. Meningkatkan Dinamika Masyarakat (motto harian Solo Pos)<br />
5. Berani tanpa Tendensi (motto harian Wawasan)<br />
6. Jernih Bernilai (motto harian Joglosemar)<br />
7. Selalu Ada yang Baru (motto harian Jawa Pos)</p>
	<p>target=&#8221;_blank&#8221;><img src="http://i72.photobucket.com/albums/i170/blues_biruku/wartawan.jpg" border="0" alt="Photobucket"/><br />
<!--more--></p>
	<p>Foto di atas diambil salah satu rekan fotografer - saya lupa persisnya, tapi kalau tidak salah oleh rekan Anwar Mustafa dari Jawa Pos Radar Solo - dalam acara pembukaan pameran foto karya pewarta foto Solo, di Solo Square Mall, pertengahan tahun 2007 silam. Momen langka, di mana wartawan tulis, fotografer, reporter radio, kameramen TV, sampe pemegang kebijakan, yang semuanya berkecimpung di industri media dan semuanya memiliki mobilitas tinggi, bisa berkumpul bersama, meski tidak semuanya. </p>
	<p>Posisi berdiri (dari kiri ke kanan) :<br />
Lia (SP FM), Rika (JP Raso), Yudha (68H), Bowo (Metro TV), Andhika (Antara), Begog D Winarso (Pemred JP Raso), Gus Yam (TA TV), Jokowi (Wali Kota Surakarta), Agus (SP), Agung (Meteor), Abah (Wawasan), Irfan (SM), Igun (SM) &#8230;.. dua orang yang tidak terlihat mukanya dan hanya kelihatan sebagian kepalanya tidak diketahui, siapa mereka</p>
	<p>Posisi tengah (dari kiri ke kanan) :<br />
Bahana (Kompas), Akbar (Antara), Onggo (Karavan), Ari (JP Raso) </p>
	<p>Posisi duduk (dari kiri ke kanan) :<br />
Eki (Kompas), Indah (SP), Ichwan (JP Raso), Burhan (SP), Pita (Solo Radio), Yoyok (SP) </p>
	<p>Tetap jaga kondisi tubuh, kawan, karena pekerjaan kita menuntut ketahanan tubuh yang tinggi &#8230; hehehehehehe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ironis Legendaris</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/12/07/ironis-legendaris/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/12/07/ironis-legendaris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 10:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/12/07/ironis-legendaris/</guid>
		<description><![CDATA[	sepinya hidup dalam penjara &#8230;&#8230;
tak juga hilangkan &#8230;&#8230;..
rasa sesal dan rasa bersalah &#8230;.
bayangmu &#8230; wajahmu &#8230; datang menggoda &#8230;..
(penggalan lirik lagu &#8220;Trauma&#8221;, album &#8220;Semut Hitam&#8221;, &#8220;God Bless - 1988&#8243;)

Saya masih SD ketika album ketiga dari grup God Bless - band rock Indonesia yang terbentuk sejak saya belum lahir di dunia - itu meledak luar biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>sepinya hidup dalam penjara &#8230;&#8230;<br />
tak juga hilangkan &#8230;&#8230;..<br />
rasa sesal dan rasa bersalah &#8230;.<br />
bayangmu &#8230; wajahmu &#8230; datang menggoda &#8230;..<br />
</em>(penggalan lirik lagu &#8220;Trauma&#8221;, album &#8220;Semut Hitam&#8221;, &#8220;God Bless - 1988&#8243;)<br />
<a id="more-106"></a><br />
Saya masih SD ketika album ketiga dari grup God Bless - band rock Indonesia yang terbentuk sejak saya belum lahir di dunia - itu meledak luar biasa di pasaran musik Indonesia. Saya merengek kepada bapak saya, agar membelikan kaset itu. </p>
	<p>Hampir tiap hari, setelah dibelikan kaset itu, saya mendengarkan album tersebut. Sudah tentu, lagu &#8220;Semut Hitam&#8221; jadi favorit, selain &#8220;Kehidupan&#8221; atau &#8220;Trauma&#8221;. Lagu lainnya, saya tidak begitu ingat. </p>
	<p>Beberapa saat kemudian, kaset itu hilang. Entah ke mana. Saya tak lagi bisa mendengarkan lagu-lagu di album tersebut. </p>
	<p>Lagu &#8220;Semut Hitam&#8221; terus jadi <em>anthem</em> bagi penikmat musik rock Indonesia. Termasuk di panggung-panggung musik. Bahkan sampai saya kuliah, saya masih sempat melihat sebuah band kampus membawakan lagu itu. </p>
	<p>Tapi yang sering terngiang malah lagu &#8220;Trauma&#8221;, yang liriknya saya torehkan sebagai intro postingan ini. Padahal itu bukan lagu unggulan God Bless kala mengeluarkan album tersebut. </p>
	<p>Sampai kemudian, saat hampir menyelesaikan kuliah, saya membeli kaset &#8220;The Story of God Bless&#8221;, yang berisi deretan karya terbaik band tersebut dari empat album yakni &#8220;Huma Di Atas Bukit&#8221;, &#8220;Cermin&#8221;, &#8220;Semut Hitam&#8221; dan &#8220;Raksasa&#8221;. </p>
	<p>Woilaaaa &#8230;. saya menemukan juga lagu &#8220;Trauma&#8221; di album the best itu. Dan saya kembali menyukainya &#8230;. </p>
	<p><em>pada suatu ketika &#8230;..<br />
ku duduk sendiri &#8230;&#8230;..<br />
di pucuk cemara &#8230;&#8230;<br />
aku merenung, kujilat angkasa &#8230;&#8230;&#8230;<br />
kuciumi, matahari &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. </em><br />
(penggalan lirik lagu &#8220;Menjilat Matahari&#8221;, album &#8220;Raksasa&#8221;, &#8220;God Bless - 1989&#8243;)</p>
	<p>Saya juga masih SD, ketika sering melihat video clip band God Bless membawakan lagu &#8220;Menjilat Matahari&#8221;, yang sering diputar di acara Album Minggu Ini milik TVRI dulu. </p>
	<p>Gaya Ahmad Albar saat menyanyikan bagian awal lagu, kemudian berlari ke tengah band-nya, atau gaya Eet - gitaris God Bless saat itu, menggantikan Ian Antono yang mengundurkan diri - melihat ke arah kamera saat memainkan gitarnya, sebagian masih terekam di otak saya. Jadul &#8230; hehehehe</p>
	<p>Hanya itu yang sebatas saya kagumi waktu itu. Terlihat keren. Baru setelah saya membeli album &#8220;The Story of God Bless&#8221; di penghujung masa kuliah, saya sadar kalau aransemen lagu itu, menurut saya, dahsyat. Sangat dahsyat malah. Permainan keyboard Jockie Soeryoprayogo di intro lagu, yang membuat lagu itu keren. Termasuk permainan gitar Eet yang bernafaskan speed metal. Wow &#8230;</p>
	<p>Dari sekian banyak lagu God Bless, saya paling suka &#8220;Musisi&#8221;. Baik dari segi lirik, juga musik. Saya pertama tahu lagu ini saat sering menonton acara konser-konser atau festival musik di kampus. Lagu ini sering dijadikan lagu wajib untuk dimainkan, karena tingkat progresifitas musiknya. </p>
	<p>Dan saya suka &#8220;Musisi&#8221; karena menurut saya, lagu ini bisa masuk dikategorikan progressive rock, salah satu genre musik rock yang saya suka. </p>
	<p><em>getar jiwa kuungkapkan ke dalam nada..ooh.. tercipta lagu<br />
kutuliskan kata hati ke dalam bait..ooh..tercipta lirik<br />
berkisah..nada riang dan nada sendu<br />
ungkapan desah kalbu di dalam diri</em><br />
(penggalan lirik lagu &#8220;Musisi&#8221;, album &#8220;Raksasa&#8221;, &#8220;God Bless - 1989&#8243;) </p>
	<p>Album terakhir yang dikeluarkan God Bless adalah &#8220;Apa Kabar&#8221; yang diedarkan 1997 silam. Sayang, album ini kurang terdengar kabarnya. Lagu &#8220;Serigala Jalanan&#8221; tak mampu mengangkat tinggi kegaharan God Bless. Duo gitaris Ian Antono dan Eet Syachranie tak mampu mendongkrak pamor God Bless lebih tinggi. </p>
	<p>Setelah itu, pamor God Bless meredup. Namun mereka sudah menjadi legenda. Beberapa waktu lalu, saat Soundrenaline digelar, band ini sempat naik panggung lagi, menjadi penguasa massa dalam konsernya. </p>
	<p>Namun sayang, vokalis Iyek kurang merdu lagi. Di beberapa bagian lagu yang ia nyanyikan, suaranya fales. Padahal dia menyanyi di nada rendah. Sudah tentu, saat menyanyi di nada tinggi, kefalesan suaranya makin terdengar. Ia sering mencorongkan mikrofonnya ke arah penonton yang bernyanyi bersama. </p>
	<p>Saya kadang membandingkan God Bless dengan Deep Purple. Bisa dibilang, band dari belahan dunia yang berbeda ini satu angkatan. Bahkan God Bless pernah menjadi band pembuka konser Deep Purple di Indonesia. </p>
	<p>Dari DVD bajakan konser Deep Purple tahun 2000 (kalau tidak salah) yang saya tonton, suara Ian Gillan, vokalis band tua itu, masihlah merdu. Tak terdengar nada fales. Tapi saat menyanyi di nada tinggi, tak bisa dipungkiri, urat lehernya tak lagi mendukung. Meski kadang dipaksakan dan berhasil, hasilnya tidaklah mengecewakan. Tak terdengar minor. </p>
	<p>Faktor usia, memang tak bisa dihindari, berpengaruh pada kualitas suara. Namun faktor gaya hidup pun berpengaruh. Saya tidak tahu gaya hidup apa yang dijalankan dua vokalis band legendaris itu. Dari majalah yang sering saya baca, gaya hidup rock star biasanya liar. Tak usah disebutkan definisi liarnya seperti itu, saya pikir Anda yang membaca postingan ini sudah tahu. </p>
	<p>Namun kenapa, sebagai sesama band tua, kualitas suara vokalis band Deep Purple masih terjaga mutunya, sementara kualitas suara band God Bless saya rasakan sangat menurun kualitasnya? Kenapa sebagai vokalis, aset utama itu tidak dijaga? </p>
	<p>Lebih ironis lagi, saat beberapa waktu lalu, Ahmad Albar ditangkap polisi karena diduga terlibat kasus narkoba. Saya tidak mau berkomentar soal ini. Masalah narkoba, itu pilihan dari yang melakoni. Dan semua ada konsekuensinya. </p>
	<p>Saya cuma berpikir, God Bless ini band legendaris. Band rock yang berpengaruh pada peta musik Indonesia. Tapi sayang, di usia yang sudah matang sebagai band, perjalanan band ini tersandung ironi. Terasa antiklimaks &#8230;. </p>
	<p>Sayang &#8230;&#8230;&#8230;.</p>
	<p>NB : Rasa ironis itu jadi makin tergores, setelah saya membaca tulisan yang dicatat oleh seorang blogger yang juga jurnalis di <a href="http://roesman.blogspot.com/2007/07/apa-kabar-god-bless.html">sini</a>. Tapi God Bless masih tetap menjadi salah satu band favorit saya :p
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/12/07/ironis-legendaris/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sugeng Riyadi, Dalem Nyuwun Pangapunten Lair Lan Batos Umpami Wonten Kalepatan Dumateng Panjenengan Sedoyo</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/10/16/sugeng-riyadi-dalem-nyuwun-pangapunten-lair-lan-batos-umpami-wonten-kalepatan/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/10/16/sugeng-riyadi-dalem-nyuwun-pangapunten-lair-lan-batos-umpami-wonten-kalepatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2007 10:21:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/10/16/sugeng-riyadi-dalem-nyuwun-pangapunten-lair-lan-batos-umpami-wonten-kalepatan/</guid>
		<description><![CDATA[	Sega kupat duduhe santen, sedaya lepat nyuwun pangapunten
Bubur bening sambele ati, lebur dining riyaya adi 
	Satunggal tahun laminipun wekdal ingkang tansah kauruk sifat lepat lan luput, kairing dinten riyoyo puniko kawulo ngaturaken gunging samudro pangaksami

Es blewah turah-turah, diwadahi piring malah angel mangane
Melu Muhammadiyah opo pemerintah, sing penting aku njaluk pangapurane 
	Ngaturaken Sugeng Riyadi 1 Syawal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sega kupat duduhe santen, sedaya lepat nyuwun pangapunten<br />
Bubur bening sambele ati, lebur dining riyaya adi </p>
	<p>Satunggal tahun laminipun wekdal ingkang tansah kauruk sifat lepat lan luput, kairing dinten riyoyo puniko kawulo ngaturaken gunging samudro pangaksami<br />
<a id="more-104"></a><br />
Es blewah turah-turah, diwadahi piring malah angel mangane<br />
Melu Muhammadiyah opo pemerintah, sing penting aku njaluk pangapurane </p>
	<p>Ngaturaken Sugeng Riyadi 1 Syawal 1428 H. Taqoballahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim, wa kullu amin wa antum bil khair. Minal aidin wal faizin. Mugi Gusti Allah tansah paring hidayah, maghfirah saha barokah dumateng kita sedaya. Rahayu ingkang tinemu, sembada ingkang sinedya, jumbuh ingkang ginayuh</p>
	<p>Ngaturaken Sugeng Riyadi, nyuwun agunging pangaksami, nyuwun tambahing pangestu wonten ing lampahing gesang</p>
	<p>Datan wonten bait sastra kang rinajit ingkang langkung agung kejawi atur Sugeng Riyadi. Sepinten kalepatan mugi lebur ing dinten ingkang riyadi punika</p>
	<p>Ngaturaken Sugeng Riyadi 1 Syawal 1428 H. Bingahing manah awit Gusti sampun hangganjar kamenangan, lumebet dateng dinteng ingkang fitri. Nyuwun pangapunten sedoyo lepat lan kekhilafan. Mugi Gusti tansah ngluberaken rahmat, karunia, taufik lan hidayah dateng kito sedoyo </p>
	<p>Wilujeng dinteng agung riyaya 1428 H. Titah kagungan lepat, kasampurnan kagungane Gusti. Monggo ngapunten ing apunten lir trus ing batos </p>
	<p>Rinengga pudya, pudyaning satata<br />
Nyuwun kanthi purbwaning 1 Syawal 1428 H, sih lumebering samodra pangaksami, lahir dumuginipun batos, menggah sedaya lepat saha klentu, mugi sageto lebur ing dinten riyadi meniko </p>
	<p>Santen dicampur gulo, kupat diupokoro<br />
Semanten ugi kawulom, menawi lepat nyuwun ngapuro </p>
	<p>Sinar tan tulus lan sucining kalbu, mugi sirno sedaya dosa kalepatan, gumatos rumaketing silaturohim. Mijil manjal maning sesanti. Nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan</p>
	<p>Sumber : SMS
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/10/16/sugeng-riyadi-dalem-nyuwun-pangapunten-lair-lan-batos-umpami-wonten-kalepatan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/10/10/mudik/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/10/10/mudik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 12:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/10/10/mudik/</guid>
		<description><![CDATA[	Kepada pengunjung blog ini, saya - Irfan Salafudin aka tukang nggedeblues - mengucapkan : 
	Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H
Mohon maaf atas seluruh kesalahan kata yang meninggalkan sakit di hati &#8230;.
Mohon maaf atas seluruh khilaf perbuatan yang menyesakkan dada &#8230;.
Mohon maaf atas seluruh hal-hal yang menyebabkan terjadinya friksi &#8230;.
Lahir batin &#8230;&#8230;.. 
	Semoga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kepada pengunjung blog ini, saya - Irfan Salafudin aka tukang nggedeblues - mengucapkan : </p>
	<p>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H<br />
Mohon maaf atas seluruh kesalahan kata yang meninggalkan sakit di hati &#8230;.<br />
Mohon maaf atas seluruh khilaf perbuatan yang menyesakkan dada &#8230;.<br />
Mohon maaf atas seluruh hal-hal yang menyebabkan terjadinya friksi &#8230;.<br />
Lahir batin &#8230;&#8230;.. </p>
	<p>Semoga kita kembali suci di hari yang fitri<br />
Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum &#8230;.</p>
	<p>NB : juragan blog ini mudik ke ndesonya di Wonosobo antara 12-15 Oktober.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/10/10/mudik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Yang Hilang</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/10/08/ada-yang-hilang/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/10/08/ada-yang-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 10:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
	<category>musik</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/10/08/ada-yang-hilang/</guid>
		<description><![CDATA[	Aku hanya bisa terdiam melihat kau pergi
Dari sisiku dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semuanya
Yang pernah terjadi tak lagi kau rasa

Masih adakah tentang aku di hatimu
Yang kau rasakan, coba kau rasakan
Mudahkan bagimu untuk hapuskan
Semua kenangan bersama denganku
	Tak pernah sedikitpun aku bayangkan
Betapa hebatnya cinta yang kau tanamkan
Hingga waktu beranjak pergi
Kau mampu hancurkan hatiku
	Ada yang hilang dari perasaanku
Yang terlanjur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku hanya bisa terdiam melihat kau pergi<br />
Dari sisiku dari sampingku<br />
Tinggalkan aku seakan semuanya<br />
Yang pernah terjadi tak lagi kau rasa<br />
<a id="more-102"></a><br />
Masih adakah tentang aku di hatimu<br />
Yang kau rasakan, coba kau rasakan<br />
Mudahkan bagimu untuk hapuskan<br />
Semua kenangan bersama denganku</p>
	<p>Tak pernah sedikitpun aku bayangkan<br />
Betapa hebatnya cinta yang kau tanamkan<br />
Hingga waktu beranjak pergi<br />
Kau mampu hancurkan hatiku</p>
	<p>Ada yang hilang dari perasaanku<br />
Yang terlanjur sudah kuberikan padamu<br />
Padahal aku tak berarti tanpamu<br />
Berharap kau tetap disini<br />
Berharap dan berharap lagi</p>
	<p>(Ipang - OST Realita Cinta dan Rock N Roll) </p>
	<p>belakangan, saya senang ndengerin lagu ini. struktur musik rock n roll-nya, menurut saya, pas. nada kuncinya mayor, tapi ipang bisa menyanyikan lagunya seperti suara minor. keren. unsur blues-nya juga ada. </p>
	<p>tapi ada hal lain, yang membuat saya belakangan jadi sering ndengerin lagu ini. baca saja liriknya, karena ada bagian-bagian tertentu dari lirik tersebut yang sedang saya rasakan &#8230; hehehehehehehe &#8230;&#8230;.</p>
	<p>tapi itu sudah jadi bagian hari kemarin. kalaupun saya tetap dengar lagu ini, ya cuma sekadar nostalgia &#8230; hahahahahahaha </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/10/08/ada-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Negeri di Pucuk Gunung &#8230;&#8230;</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/09/11/negeri-di-pucuk-gunung/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/09/11/negeri-di-pucuk-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 12:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/09/11/negeri-di-pucuk-gunung/</guid>
		<description><![CDATA[	Kami menyebutnya negeri di awan
Negeri yang terletak di pucuk-pucuk gunung
Berselimutkan dingin dan kabut di kesehariannya
Juga semburat fajar keemasan dan jingga senja
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;

&#8220;Kami menyebutnya negeri di awan&#8221;. Ya, negeri di awan. Ini sebutan kami - saya dan juga beberapa kawan - ketika berniat mengadakan perjalanan, dalam perjalanan, atau ketika menjejakkan kaki kami di pucuk gunung. 
	Pucuk gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kami menyebutnya negeri di awan<br />
Negeri yang terletak di pucuk-pucuk gunung<br />
Berselimutkan dingin dan kabut di kesehariannya<br />
Juga semburat fajar keemasan dan jingga senja<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<a id="more-101"></a><br />
&#8220;Kami menyebutnya negeri di awan&#8221;. Ya, negeri di awan. Ini sebutan kami - saya dan juga beberapa kawan - ketika berniat mengadakan perjalanan, dalam perjalanan, atau ketika menjejakkan kaki kami di pucuk gunung. </p>
	<p>Pucuk gunung itu, yang kami sebut negeri di awan. Kata yang kami ambil dari judul lagunya Katon Bagaskara, dekade 90-an lalu. Bagi saya dan beberapa kawan, pucuk gunung itulah bentuk sebenarnya dari apa yang disebut Katon sebagai negeri di awan. </p>
	<p>&#8220;Di mana kedamaian, menjadi istananya &#8230;.. &#8221; begitu kata Katon dalam lagunya itu. Yup. di negeri pucuk gunung itu, kami merasa bebas. Lepas dari penat keseharian. </p>
	<p>Memandang panorama luar biasa yang dihamparkan Gusti Allah di muka bumi dari puncak gunung, bagi saya pribadi - dan mungkin juga kawan-kawan - adalah nikmat. Menikmati dingin, ditemani kepulan asap rokok dan makanan serta minuman hangat, bagi saya juga salah satu bentuk kedamaian. </p>
	<p>Semburat keemasan di ufuk timur, adalah sasaran pertama kami, ketika mendaki. Kalaupun tidak terkejar karena kami sudah kecapekan setelah berjalan berjam-jam menembus malam, kami masih bisa memandanginya dari punggungan gunung, tempat kami berdiri saat itu. </p>
	<p>Selanjutnya adalah edelweis. Lalu desa dan kota-kota yang bentuknya yang terlihat sangat kecil di kejauhan. Juga tekstur melekuk-lekuk dari jurang-jurang di punggung gunung. Dan yang pasti, awan-awan yang mengambang. </p>
	<p>Subhanallah &#8230;.. </p>
	<p>Sering kami merasa enggan untuk pulang. Tapi kalau yang satu ini, disebabkan kami merasa capek duluan, membayangkan beratnya medan yang harus kami tempuh dalam perjalanan pulang &#8230; hehehehehe</p>
	<p>Tapi sudah bertahun-tahun, saya tidak berkunjung ke negeri di pucuk gunung. Setelah Lawu, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Merapi saat masa kuliah dulu, sudah bertahun-tahun, saya hanya merindukan aroma gunung. Terakhir ya, 1999, ketika Merapi masih bersahabat bagi para penyusur punggungnya. </p>
	<p>Apalagi sekarang. Pekerjaan saya menyita waktu. Artinya, berkunjung ke pucuk gunung sering jadi impian. Pergi ke daerah ketinggian seperti Tawangmangu, kadang jadi sedikit pelepasan rindu saya pada suasana negeri di awan. </p>
	<p>Tapi, beberapa hari lalu, saya melonjak girang. Ada ajakan untuk mengunjungi negeri di awan. Ke Bromo. Puncak yang belum pernah saya tapak. Bersama sebuah rombongan. </p>
	<p>Dan kerinduan saya pada hawa gunung, terpupuskan ketika memandang horizon di ufuk timur, saat matahari menyemburatkan sinar kuning keemasannya. Atau ketika melihat awan kental mengambang, di mana saya bisa melihatnya dari sisi atas, tidak dari sisi bawah saat kita ada di daratan biasa. </p>
	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img align="left" hspace="8" src="http://i72.photobucket.com/albums/i170/blues_biruku/IMG_5405.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"/></a> Kepulan asap belerang yang memerihkan mata dan menyesakkan napas, menjadi bumbu penyedap perjalanan saya. Gemetar di kedua kaki saat menuruni anak tangga ketika turun dari puncak Bromo, menjadi bahan nostalgia saya, karena itu selalu saya rasakan setiap kali mendaki. Tentu, karena capek. </p>
	<p>Memang, mendaki Bromo tak seberat menuju pucuk gunung yang lain. Kalau di gunung lain, harus berjalan kaki dari kaki gunung sampai puncak. Di Bromo, saya - dan anggota rombongan yang lain - naik kuda, melewati lautan pasir, sampai ke bagian sebelum puncak gunung. </p>
	<p>Untuk ke puncak, ada tangga setinggi - mungkin - 100 meter. Jadi tidak capek, jika dibandingkan pendakian ke gunung lain. Tapi, puncak gunung tetaplah puncak gunung. Negeri di awan, ada di situ. </p>
	<p>Subhanallah &#8230;. </p>
	<p>Saya pernah membaca buku soal cerita para pendaki. Di buku itu, saya lupa judulnya, ada bagian ketika salah satu pendaki gunung kelas dunia yang biasa mendaki gunung-gunung tertinggi di muka bumi - saya juga lupa namanya - menuturkan, betapa jengkelnya dia saat ditanya kenapa dia mendaki gunung. </p>
	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img align="right" hspace="8" src="http://i72.photobucket.com/albums/i170/blues_biruku/IMG_5418.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"/></a> &#8220;Kenapa kamu mendaki gunung,&#8221; tanya orang-orang pada pendaki itu.<br />
&#8220;Karena gunung ada di situ,&#8221; kata si pendaki, yang mungkin bingung ditanya demikian. </p>
	<p>Saya pun demikian. Dulu saya - mungkin juga kawan-kawan pendaki yang lain - kadang ditanya, ngapain mendaki gunung? Cari susah saja. Mending tidur di rumah, enak &#8230;. Selalu saja bingung untuk menjawab. </p>
	<p>Mungkin benar kata orang-orang yang menanyakan kenapa kami mendaki gunung. Ketika mendaki, saya sering merasa, &#8220;Duh &#8230; capek bener, kapok deh. Besok gak mau naik gunung lagi.&#8221; </p>
	<p>Tapi pernyataan itu tidak pernah terealisasi, karena saya naik dan naik gunung lagi, bersama kawan-kawan saya. </p>
	<p>Kalau sekarang saya ditanya seperti itu, saya akan menjawab, karena di pucuk gunung ada negeri di awan. Meskipun saya sadar, waktu untuk bisa mendaki gunung sekarang sudah susah saya temukan. Tapi saya tetap senang, karena pernah berkunjung ke negeri penuh kedamaian. </p>
	<p>NB : kapan ya, bisa naik gunung lagi? hehehehehe &#8230;. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/09/11/negeri-di-pucuk-gunung/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga Makin Sejahtera</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2007/08/17/100/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2007/08/17/100/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Aug 2007 10:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2007/08/17/100/</guid>
		<description><![CDATA[	Perihnya masih terasa
Sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa
Sungguh mahal ongkosnya

Apapun yang kan terjadi
Aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi
Tak kan pernah terjadi
	Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang
	Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti
Lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat
Berdoa terus berdoa
	Hingga mulutnya berbusa busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya
Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Perihnya masih terasa<br />
Sakitnya tak terhingga<br />
Nafsu ingin berkuasa<br />
Sungguh mahal ongkosnya<br />
<a id="more-100"></a><br />
Apapun yang kan terjadi<br />
Aku tak akan lari<br />
Apalagi bersembunyi<br />
Tak kan pernah terjadi</p>
	<p>Air mata darah telah tumpah<br />
Demi ambisi membangun negeri<br />
Kalaulah ini pengorbanan<br />
Tentu bukan milik segelintir orang</p>
	<p>Belum cukupkah semua ini<br />
Apakah tidak berarti<br />
Lihatlah wajah ibu pertiwi<br />
Pucat letih dan sedihnya berkarat<br />
Berdoa terus berdoa</p>
	<p>Hingga mulutnya berbusa busa<br />
Ludahnya muncrat saking kecewa<br />
Ibu pertiwi hilang tawanya<br />
Tak percaya masih ada cinta</p>
	<p>Seluruh hidupku jadi siaga<br />
Pagar berduri kutancapkan dihati</p>
	<p>Untukmu negeri<br />
Yang telah memberi arti<br />
Untukmu negeri<br />
Yang telah melukai ibu kami<br />
Untukmu negeri<br />
Yang telah merampas anak kami<br />
Untukmu negeri<br />
Yang telah memperkosa saudara kami<br />
Untukmu negeri<br />
Waspadalah<br />
Untukmu negeri<br />
Bangkitlah<br />
Untukmu negeri<br />
Bersatulah<br />
Untukmu negeri<br />
Sejahteralah kamu negeriku<br />
Sejahteralah kamu</p>
	<p>Perihnya masih terasa<br />
Sakitnya tak terhingga</p>
	<p>(&#8221;Untukmu Negeri&#8221;, &#8220;Iwan Fals&#8221;, &#8220;album : Suara Hati&#8221;)</p>
	<p>panjang umur, Indonesiaku<br />
dirgahayu ke-62<br />
semoga makin sejahtera &#8230;&#8230; </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2007/08/17/100/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
