<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>the tuKang nggEdebLuEs</title>
	<link>http://irf.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 11:44:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>&#8220;Dihajar&#8221; Teroris (Lagi)</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2009/09/18/dihajar-teroris-lagi/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2009/09/18/dihajar-teroris-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 14:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2009/09/18/dihajar-teroris-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[	Densus 88 Antiteror Mabes Polri, menyergap sebuah rumah di Kepuhsari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, pada Rabu (16/9) malam hingga Kamis (17/9) pagi. Hasilnya, empat orang yang menurut polisi adalah pelaku dan anggota jaringan teroris, tewas. Termasuk salah satunya Noordin M Top, gembong teroris paling diburu di Indonesia sejak 9 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Densus 88 Antiteror Mabes Polri, menyergap sebuah rumah di Kepuhsari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, pada Rabu (16/9) malam hingga Kamis (17/9) pagi. Hasilnya, empat orang yang menurut polisi adalah pelaku dan anggota jaringan teroris, tewas. Termasuk salah satunya Noordin M Top, gembong teroris paling diburu di Indonesia sejak 9 tahun belakangan.<br />
<a id="more-120"></a><br />
Tiga korban tewas lain adalah Susilo alias Adib, yang mengontrak rumah yang digerebek, Ario Sudarso alias Aji, serta Bagus Budi Pranoto alias Urwah. Satu korban terluka adalah Putri Munawaroh, istri Susilo. Dalam penggerebekan itu, terjadi baku tembak dan ledakan,  yang membuat rumah yang ditinggali Susilo porak poranda. </p>
	<p>Saya tidak akan bercerita detil soal pengergapan rumah itu, karena sudah banyak ditulis di media cetak, serta disiarkan media elektronik dengan lengkap. Saya cuma sekadar ngoceh soal rasanya &#8220;dihajar&#8221; teroris, yang kembali dialami rekan-rekan jurnalis di Solo. </p>
	<p>Sebelumnya, saya pernah cerita tentang rasanya &#8220;dihajar&#8221; teroris, saat meliput penggerebekan rumah Sikas di Pancasan, Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, pada Maret 2007 lalu. Setelah itu, ada sejumlah liputan soal teroris, namun tidak saya ceritakan di blog ini. </p>
	<p>Oh ya, &#8220;dihajar&#8221; di sini bukan dalam arti dihajar secara harfiah, namun dihajar fisik dan psikisnya, karena meliput peristiwa </p>
	<p>Ya, meliput peristiwa yang berkait dengan isu terorisme, memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Informasi yang simpang siur, jadi salah satu faktor. Jika peristiwa sudah terjadi, fisik yang diuji karena harus berjam-jam memantau lokasi peristiwa,  juga berhari-hari. </p>
	<p>Dalam kasus di Kepuhsari, rekan-rekan jurnalis sudah berada di lokasi kejadian sejak Rabu malam, sekitar pukul 11.00, menjelang penyerangan. Hingga waktu sahur, karena peristiwa itu terjadi di ujung bulan Ramadhan, mereka masih bertahan di lokasi. Sampai Kamis pagi, mereka belum beranjak, karena ending penyerangan terjadi selepas subuh. </p>
	<p>Saya? Kebetulan tidak berada di lokasi pada malam dan pagi itu, karena pada hari Rabu, saya tidak masuk kerja. Artinya, saya terlewatkan bagian penting dari peristiwa itu, yaitu penyergapan yang diiringi bunyi tembakan dan ledakan. </p>
	<p>Namun pada Kamis, saya mulai merasakan &#8220;dihajar&#8221;. Tim liputan dibentuk, saya kebagian tugas mencari sisi-sisi lain dari peristiwa itu. Lokasi liputan yang terpencar-pencar, jadi medan yang berat, apalagi dalam kondisi puasa. Sore hari, masih menyusun berita untuk diterbitkan di koran. Banyaknya data yang terkumpul, bikin saya bingung untuk memulai menulis berita. </p>
	<p>Sampai bermenit-menit, saya duduk di depan komputer tak tahu mau memulai tulisan bagaimana, meski tahapan itu akhirnya terlewati. </p>
	<p>Jumat (18/9), pantauan di lokasi peristiwa masih menjadi menu utama liputan, untuk mengetahui apakah ada perkembangan tentang peristiwa tersebut. Pagi hingga siang, tak ada perkembangan berarti dan kebanyakan menunggu, tanpa jelas apa yang ditunggu. </p>
	<p>Beruntung, tetap ada sisi lain yang bisa digali pada hari itu, yang bisa dijadikan bahan untuk diolah menjadi berita dan disajikan kepada pembaca. Hingga malam, baru kelar penyusunan beritanya. </p>
	<p>Fyuh, fisik dan psikis benar-benar dihajar lahir dan batin, capek luar biasa. Tapi itulah risiko yang harus dijalani, sebagai konsekuensi atas pilihan profesi. </p>
	<p>Nah, sekarang gembong teroris yang dicari sudah mati. Apakah ke depan, petualangan para jurnalis dalam memburu informasi terkait isu teroris juga usai? Entahlah &#8230; Pertanyaan itu tak akan bisa terjawab, karena peristiwa yang terjadi juga tak bisa diprediksi &#8230; Kalaupun sudah berakhir, petualangan dalam memburu informasi lain yang tidak berkaitan dengan isu teroris, tetaplah terjadi &#8230; </p>
	<p>Berarti, siap-siap &#8220;dihajar&#8221; lagi &#8230; </p>
	<p>Tetap semangat &#8230; never surrender &#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2009/09/18/dihajar-teroris-lagi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>4 Tahun</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2009/08/27/4-tahun/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2009/08/27/4-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 13:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2009/08/27/4-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[	Lama sekali saya tidak mencorat-coret blog ini. Posting terakhir sebelum saya membuat coretan ini, diposting 4 Maret 2009 silam, tentang peluncuran bengawan.org, komunitas blogger Surakarta. 
	Jujur, dua tahun belakangan, blog ini seakan tidak terurus. Jarang sekali saya membuat tulisan, tentang berbagai hal yang saya alami, maupun saya temui, di keseharian yang saya jalani. Banyak peristiwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Lama sekali saya tidak mencorat-coret blog ini. Posting terakhir sebelum saya membuat coretan ini, diposting 4 Maret 2009 silam, tentang peluncuran bengawan.org, komunitas blogger Surakarta. </p>
	<p>Jujur, dua tahun belakangan, blog ini seakan tidak terurus. Jarang sekali saya membuat tulisan, tentang berbagai hal yang saya alami, maupun saya temui, di keseharian yang saya jalani. Banyak peristiwa yang tak termemorikan dalam bentuk tulisan, sehingga hanya ada di ingatan saya, maupun bisa diingat melalui foto yang merekam peristiwa yang saya alami. Itu pun jika ada fotonya.<br />
<a id="more-119"></a><br />
Malas. Itu jadi kata utama, yang membuat blog ini seolah tidak terurus. Saya menemui titik kejenuhan dalam merambah dunia blogger. Berbagai peristiwa, penting atau pun tidak, luput tertuang dalam tulisan karena kata malas menyerang saya. Kejenuhan saya mungkin sudah akut, sehingga malas pun enggan beranjak dari benak. </p>
	<p>Berbeda dengan awal-awal berkecimpung sebagai blogger. Hampir semua peristiwa, penting atau pun tidak, berguna atau pun tidak, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Semua opini, tentang berbagai hal yang mengusik pikiran, saya tuangkan dalam bentuk tulisan. </p>
	<p>Menyusuri tulisan kawan-kawan sesama blogger, dulu juga rajin saya lakukan. Seiring serangan kata malas, blogwalking pun sangat jarang saya lakukan. </p>
	<p>Adalah biasa, jika di awal menjalankan suatu kegiatan, si pelaku menjadi sangat bersemangat. Apalagi jika itu hal yang baru. Dan setelah beberapa lama, jenuh menyerang. Akhirnya, ada yang menyerah tak meneruskan, ada yang hidup segan mati pun enggan, ada yang berusaha menekuni lagi. </p>
	<p>Saya berusaha menjalankan opsi ketiga. Berusaha menekuni lagi. Karena, apapun, bagi saya ada banyak manfaat yang bisa saya petik dari kegiatan tulis menulis di halaman blog. Banyak kawan, itu salah satunya. Manfaat lain, bisa dirasakan seiring perjalanan. </p>
	<p>Bismillah &#8230; Insya Allah, setelah ini, saya berusaha untuk menghidupi lagi blog ini. Menceritakan hal-hal yang penting dan tidak, berguna atau sekadar iseng, dan sebagainya. </p>
	<p>Tulisan ini, juga bisa dikatakan sebagai penanda, bahwa usia blog saya sudah genap 4 tahun, per Agustus 2009 ini. Saya tidak ingat, tanggal berapa tulisan perdana saya, yang berjudul &#8220;Overture&#8221;, diposting. Yang ingat hanya bulannya, Agustus 2005. Juga </p>
	<p>Oh ya, sekaligus mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi umat muslim yang menjalankan. Semoga Ramadhan tahun ini lebih bermakna bagi semuanya. Amin &#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2009/08/27/4-tahun/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Jokowi, Bengawan dan Sinergi Tentang Promosi</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2009/03/04/antara-jokowi-bengawan-dan-harapan-tentang-promosi-sebuah-kota/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2009/03/04/antara-jokowi-bengawan-dan-harapan-tentang-promosi-sebuah-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 12:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2009/03/04/antara-jokowi-bengawan-dan-harapan-tentang-promosi-sebuah-kota/</guid>
		<description><![CDATA[	Acara launching Komunitas Bengawan, yang mewadahi para penggiat blog di Solo dan sekitarnya, sudah berlalu lebih dari sepekan, saat saya membuat tulisan ini. Launching yang menyenangkan, karena tidak saja mendapat dukungan dari para sesepuh dunia blog Indonesia, serta kawan-kawan blogger dari berbagai kota  yang menyempatkan hadir, tapi juga mendapat support penuh dari orang nomor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Acara <em>launching</em> Komunitas Bengawan, yang mewadahi para penggiat blog di Solo dan sekitarnya, sudah berlalu lebih dari sepekan, saat saya membuat tulisan ini. <em>Launching</em> yang menyenangkan, karena tidak saja mendapat dukungan dari para sesepuh dunia blog Indonesia, serta kawan-kawan blogger dari berbagai kota  yang menyempatkan hadir, tapi juga mendapat <em>support</em> penuh dari orang nomor satu di Kota Solo.<br />
<a id="more-118"></a><br />
Ya, Wali Kota Joko Widodo, biasa disapa Jokowi, mendukung sekali adanya komunitas ini. Salah satunya dengan diperbolehkannya rekan-rekan di Bengawan menggunakan pendapa Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota, untuk acara <em>launching</em>. Dukungan yang sangat berarti, tapi yang lebih utama dari dukungan Jokowi adalah support moril terhadap keberadaan blogger Solo. </p>
	<p><a href="http://s621.photobucket.com/albums/tt298/irfansalafudin/?action=view&#038;current=DSCN2557.jpg" target="_blank"><img align="left" hspace="8" src="http://i621.photobucket.com/albums/tt298/irfansalafudin/DSCN2557.jpg" border="0" alt="Photobucket"/></a> Kenapa Pak Wali bersedia memberikan dukungan terhadap keberadaan Bengawan? Padahal, dari pengakuan dia saat saya mewawancarainya sejenak usai acara, terlontar pengakuan bahwa dia bukanlah blogger. &#8220;Wis ra sempat. <em>Facebook</em>, blog, <em>aku ora</em> &#8230; <em>wis ora sempat</em>,&#8221; lontarnya seraya tertawa, ketika saya tanya apakah dia memiliki blog di dunia maya. </p>
	<p>Sudah jelas, dia bukan seorang blogger. Lalu kenapa, pria berlatar belakang dunia bisnis sebelum menjadi Wali Kota ini mau mendukung Bengawan? </p>
	<p>&#8220;Karena target kami mem-<em>branding</em> kota ini, lewat jalan apapun. Entah  media cetak, tivi, lewat blog, kerjain semuanya.&#8221; </p>
	<p>Ya, <em>support</em> yang diberikan Jokowi, karena dia memang punya misi untuk lebih mengenalkan kota yang dipimpinnya ke ranah yang lebih luas. Tidak hanya mengenalkan ke seantero Indonesia, tapi juga dunia. </p>
	<p>Dan blogger, di matanya mempunyai posisi strategis, untuk membantunya mengenalkan Solo ke dunia. Tentu, lewat jalur blog. Internet, di mana blog bernaung di dalamnya, adalah media yang bisa diakses siapapun dan dari manapun, tanpa menghiraukan batas-batas kewilayahan seperti yang ada di dunia nyata. </p>
	<p>Sebagai wirausahawan, Jokowi tentu sadar, itu adalah media yang sangat strategis untuk &#8220;menjual&#8221; produk  yang dimilikinya sebagai Wali Kota, yaitu kota yang dipimpinnya. Solo, sebagai sebuah kota, dinilainya layak dijual, entah sebagai tujuan wisata, bisnis, budaya, investasi, maupun tujuan lain yang positif bagi perkembangan Solo. </p>
	<p>&#8220;Kami mau kerjain lewat apapun, untuk mengenalkan kota ini secara gede-gedean. (<em>Launching</em>) ini baru awal. Juni, Juli, Agustus, nanti akan ada <em>event</em> setiap minggu (di Solo). Nanti blogger-blogger dikumpulin. Sehingga nanti kalau kita buka, di blog siapapun, akan bicara mengenai Solo.&#8221; </p>
	<p>Dari sini sudah kelihatan, kenapa Jokowi mendukung penuh keberadaan komunitas blogger di Solo. Dia berharap, blogger-blogger di Solo, maupun blogger dari daerah lain  yang singgah di Solo, akan menuliskan tentang Solo berdasarkan pandangan mereka. Entah itu sisi pariwisatanya, sisi bisnisnya, sisi budayanya, ataupun sisi-sisi lain yang menurut blogger layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, lalu ditayangkan di blog mereka masing-masing. </p>
	<p>&#8220;(Blogger) ini kan secara independen memberi informasi. Maksud saya, Solo ini harus menjadi pembicaraan di media apapun. Termasuk di internet. Harus jadi pembicaraan terus menerus.&#8221; </p>
	<p>Yang menarik, Jokowi mempersilakan blogger menuliskan Solo apa adanya. Yang baik, katakan baik. Yang tidak baik, kata dia, akan menjadi masukan dan bahan koreksi buat dia dan jajaran pemerintahannya. </p>
	<p>&#8220;(Saya) tidak antikritik. Bebas kalau (mau menulis informasi tentang Solo) itu,&#8221; tegasnya. </p>
	<p>&#8220;Sampaikan informasi mengenai Solo apa adanya, bahwa Solo sekarang seperti ini. Tidak (perlu) ditutup-tutupi. Mau mengomentari silakan, mau mengritik silakan, mau memberikan koreksi silakan. Kalau sudah namanya media tidak bisa dihalangi. Saya ditulis apapun, ya itu untuk koreksi.&#8221; </p>
	<p>Jelaslah sudah, meski bukan blogger, dia sangat mendukung adanya komunitas blogger  ini, karena dia melihat, bahwa dia bersama pemerintahannya, bisa bersinergi dengan blogger yang ada, untuk mempromosikan Solo secara bersama-sama. </p>
	<p>&#8220;Dan yang paling enak, kami tidak keluar biaya (banyak untuk publikasi tentang Solo). Dan publikasi itu bisa dilihat jutaan orang.&#8221; </p>
	<p>Solo, 432009,20.00 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2009/03/04/antara-jokowi-bengawan-dan-harapan-tentang-promosi-sebuah-kota/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Beda dan Sama</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2009/01/04/beda-dan-sama/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2009/01/04/beda-dan-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 12:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2009/01/04/beda-dan-sama/</guid>
		<description><![CDATA[	beda dan sama, adalah warna yang akan meriuhkan langkah kita &#8230;.
janganlah menjadi pemicu ketidakakuran, tapi nikmati saja sebagai bagian dari nafas kita &#8230;.

	keju
just fingering on my guitar neck in my room
nglayap
2
film
ransel
makaroni
makan
nongkrong
karaoke
rock/blues/metal/campursari/keroncong/dangdut/etnik/pop
nulis
baca
ngebo
contact lens
long hair
don&#8217;t take my picture, please
pemalu
bangun pagi
pop/dangdut
touring
sepeda motor
ngrokok (dalam tahap pengurangan, bos &#8230; )
es teh
hitam
outdoor activity
rumahan
film
video konser
ransel
sok fotografer
males
isin
gak pede
kehabisan bahan obrolan 
	daftar masih bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>beda dan sama, adalah warna yang akan meriuhkan langkah kita &#8230;.<br />
janganlah menjadi pemicu ketidakakuran, tapi nikmati saja sebagai bagian dari nafas kita &#8230;.<br />
<a id="more-117"></a></p>
	<p>keju<br />
just fingering on my guitar neck in my room<br />
nglayap<br />
2<br />
film<br />
ransel<br />
makaroni<br />
makan<br />
nongkrong<br />
karaoke<br />
rock/blues/metal/campursari/keroncong/dangdut/etnik/pop<br />
nulis<br />
baca<br />
ngebo<br />
contact lens<br />
long hair<br />
don&#8217;t take my picture, please<br />
pemalu<br />
bangun pagi<br />
pop/dangdut<br />
touring<br />
sepeda motor<br />
ngrokok (dalam tahap pengurangan, bos &#8230; )<br />
es teh<br />
hitam<br />
outdoor activity<br />
rumahan<br />
film<br />
video konser<br />
ransel<br />
sok fotografer<br />
males<br />
isin<br />
gak pede<br />
kehabisan bahan obrolan </p>
	<p>daftar masih bisa bertambah, tergantung ingatan &#8230;..<br />
and for &#8220;u&#8217;, thanks for being my special gift &#8230;.. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2009/01/04/beda-dan-sama/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Come Rain Or Come Shine</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/08/07/come-rain-or-come-shine/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/08/07/come-rain-or-come-shine/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 12:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/08/07/come-rain-or-come-shine/</guid>
		<description><![CDATA[	I&#8217;m gonna love you like nobody&#8217;s loved you,
Come rain or come shine.
High as a mountain and deep as a river,
Come rain or come shine.

Well I guess when you met me
That it was just one of those things,
But don&#8217;t you ever bet me,
&#8216;Cause I&#8217;m gonna be true if you let me.
	You&#8217;re gonna love me like nobody&#8217;s [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>I&#8217;m gonna love you like nobody&#8217;s loved you,<br />
Come rain or come shine.<br />
High as a mountain and deep as a river,<br />
Come rain or come shine.<br />
<a id="more-115"></a><br />
Well I guess when you met me<br />
That it was just one of those things,<br />
But don&#8217;t you ever bet me,<br />
&#8216;Cause I&#8217;m gonna be true if you let me.</p>
	<p>You&#8217;re gonna love me like nobody&#8217;s loved me,<br />
Come rain or come shine.<br />
Happy together, unhappy together,<br />
Won&#8217;t that be fine?</p>
	<p>Day may be cloudy or sunny,<br />
We&#8217;re either in or we&#8217;re out of the money.<br />
I&#8217;m with you always.<br />
I&#8217;m with you rain or shine.</p>
	<p>(dedicated to 4th August) </p>
	<p>Menurut <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Come_Rain_or_Come_Shine">Wikipedia</a>, lagu ini diciptakan Harold Arlen dan Johnny Mercer pada tahun 1946 dan pernah dinyanyikan oleh begitu banyak penyanyi.<br />
Tapi saya tahu lagu ini dari album &#8220;Riding With The King&#8221;, album duetnya Eric Clapton dan BB King, si maestro blues. Lagu ini di urutan terakhir sisi B album tersebut. Salah satu dari sekian lagu blues favorit saya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/08/07/come-rain-or-come-shine/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perang Simpati</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/07/24/perang-simpati/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/07/24/perang-simpati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 11:53:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/07/24/perang-simpati/</guid>
		<description><![CDATA[	Pemilu 2009 masih cukup lama. Tapi &#8220;perang&#8221; memperebutkan simpatisan partai, sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Dan pemandangan pun berubah.

 Partai-partai mulai bergerilya, berlomba meraih simpatisan sebanyak mungkin dengan berbagai cara. Mulai dari iklan di televisi, pasang spanduk, pasang baliho, sampai memasang bendera di berbagai sudut kota. 
	Dan yang terakhir itu, yang membuat saya agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pemilu 2009 masih cukup lama. Tapi &#8220;perang&#8221; memperebutkan simpatisan partai, sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Dan pemandangan pun berubah.<br />
<a id="more-114"></a><br />
<img align="left" hspace="8" src='/images/18Glpas2skhH44.jpg' alt='' /> Partai-partai mulai bergerilya, berlomba meraih simpatisan sebanyak mungkin dengan berbagai cara. Mulai dari iklan di televisi, pasang spanduk, pasang baliho, sampai memasang bendera di berbagai sudut kota. </p>
	<p>Dan yang terakhir itu, yang membuat saya agak jengah. Sudut-sudut kota marak dihiasi bendera milik parpol yang akan berlaga dalam Pemilu 2009 mendatang. Dan itu sah-sah saja, karena memang diperbolehkan sesuai aturan. </p>
	<p>Tapi yang mengganggu saya pribadi, dan mungkin sejumlah warga, adalah pemasangannya yang terkesan semrawut. Partai A tak mau kalah dengan partai B. Partai C tak mau kalah dengan partai C. </p>
	<p>Jika bendera partai A dipasang di pinggir ruas jalan tertentu yang diperbolehkan sebagai tempat pemasangan bendera, maka partai B, C dan pun ikutan. Semuanya ikut-ikutan memasang. Dan yang tertangkap di mata saya adalah &#8220;perang&#8221; bendera. </p>
	<p>Sungguh, buat saya pribadi, itu &#8220;perang&#8221;  yang tidak sedap dinikmati mata. Pemasangan bendera terkesan carut marut. </p>
	<p>Ada yang tiang benderanya hanya separo dari tiang bendera yang lain. Ada yang benderanya melorot hingga setengah tiang. Ada yang benderanya sudah kumal. Ada yang tiang benderanya mau roboh. Ada yang ditancapkan di atas taman pinggir jalan. Ada yang dipaku di pohon-pohon. </p>
	<p>Rasanya, tak ada estetika yang diterapkan dalam pemasangan bendera-bendera partai itu. &#8220;Yang penting dipasang, nggak usah berpikir rapi-rapian,&#8221; begitu mungkin pikir si pemilik dan pemasang bendera. </p>
	<p>Yang membuat saya jengkel, adalah jika tiang bendera ditancapkan di atas tanah taman kota, yang baru selesai dibangun atau ditanami rumput. Tanpa peduli dengan kerapian taman, tiang bendera ditancapkan dengan merusak rumput di taman itu. </p>
	<p>Bagi segelintir warga, &#8220;perang&#8221; bendera itu sangat mengganggu. Ke mana mata memandang, sepertinya selalu terbentur dengan bendera partai. </p>
	<p>Padahal ini baru permulaan &#8220;perang&#8221;. Mendekati Pemilu nanti, bisa jadi wajah kota berubah jadi hutan bendera. Saking banyaknya bendera yang dipasang. Apalagi, jumlah partai peserta pemilu pun tak sedikit. 34. Duh </p>
	<p>Saya kadang berpikir, kenapa tidak ada aturan baku soal pemasangan bendera itu. Misalnya, bendera harus dipasang rapi, dengan panjang tiang bendera yang ditentukan. Ukuran bendera juga ditentukan. Jadi seragam. Juga rapi, enak dipandang dan tidak mengganggu. </p>
	<p>Perang rebutan simpati pun jadi lebih enak dinikmati oleh masyarakat, baik yang akan menggunakan hak suaranya dalam Pemilu 2009 mendatang, maupun bagi warga yang setiap terhadap pilihannya untuk golput. </p>
	<p>Semoga saja, aturan baku agar kerapian kota tak dinodai &#8220;perang&#8221; bendera itu bisa dibuat oleh pemerintah yang berwenang. Dengan demikian, masyarakat pun tak kehilangan haknya untuk menikmati pesona kota, tanpa diganggu semrawutnya pemasangan bendera partai. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/07/24/perang-simpati/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Batang Pertama, Ada Lagi Yang Selanjutnya &#8230;</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 13:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/</guid>
		<description><![CDATA[	Bagian ketiga dari trilogi cerita tentang racun nikotin yang dikemas dalam lintingan kertas sigaret &#8230;.. Untuk lebih jelas, silakan baca dua tulisan sebelumnya &#8230;.

	Benar-benar susah untuk sembuh dari yang namanya kecanduan.
Ada saja yang membuat iman tergoda. 
	Seperti yang saya alami. Keinginan untuk lepas dari kecanduan terhadap racun yang terserak dalam sebatang rokok, ternyata belum bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Bagian ketiga dari trilogi cerita tentang racun nikotin yang dikemas dalam lintingan kertas sigaret &#8230;.. Untuk lebih jelas, silakan baca dua tulisan sebelumnya &#8230;.<br />
<a id="more-113"></a></p>
	<p>Benar-benar susah untuk sembuh dari yang namanya kecanduan.<br />
Ada saja yang membuat iman tergoda. </p>
	<p>Seperti yang saya alami. Keinginan untuk lepas dari kecanduan terhadap racun yang terserak dalam sebatang rokok, ternyata belum bisa terealisasi. Keinginan, tak seiring dengan kenyataan. </p>
	<p>Yah, saya belum berhasil untuk benar-benar lepas dari nikotin. Hanya sebulan. Ya, hanya sebulan paru-paru saya benar-benar bebas dari asap pembakaran tembakau. </p>
	<p>Setelah itu, ada batang pertama yang saya isap, setelah bebas sebulan. Selanjutnya, ada berbatang-batang lintingan tembakau berbagai merek, yang saya bakar ujungnya dan saya isap asapnya. </p>
	<p>Memang, dibanding waktu sebelum bebas sebulan, intensitasnya sekarang sudah jauh berkurang. Tapi untuk lepas sama sekali, saya belum bisa. </p>
	<p>Saya masih berusaha &#8230;.<br />
Sebatang, dua batang, mungkin masih bisa dimaklumi<br />
Tapi tidak sama sekali dalam sehari, tentu lebih baik &#8230;<br />
Saya akan berusaha &#8230;. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/04/06/setelah-batang-pertama-ada-lagi-yang-selanjutnya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sebulan</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 16:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/</guid>
		<description><![CDATA[	Pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. (penggalan dari postingan saya sebelumnya) 
	Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. (juga penggalan dari postingan saya sebelumnya)

	Sekarang saya sudah tahu jawaban pertama. Sampai kapan? Sebulan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. (penggalan dari postingan saya sebelumnya) </p>
	<p>Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. (juga penggalan dari postingan saya sebelumnya)<br />
<a id="more-112"></a></p>
	<p>Sekarang saya sudah tahu jawaban pertama. Sampai kapan? Sebulan. Ya, cuma sebulan, saya bebas asap sejak saya berhenti merokok karena sakit dan dikasih obat bronkitis sama dokter. </p>
	<p>Hari ini, Sabtu (8/3), ketika saya menulis postingan ini pukul 23.30, saya sudah menyulut lima batang rokok yang identik dengan dunia cowboy. Saar saya menulis kalimat ini, kepulan asap rokok menemani saya. </p>
	<p>Kenapa cuma sebulan? Jawabannya ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi.</p>
	<p>Yup, beberapa jam sebelumnya, saya butuh asap rokok. Saya kedinginan. Liputan bencana alam banjir di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo itu membuat saya gelisah. </p>
	<p>Data belum komplet, kondisi cuaca tidak bersahabat, medan yang gelap, obyek yang saya ambil dengan kamera poket saya tak bisa terekam dengan baik, informasi yang masih sumir, dan beragam kondisi tak mengenakkan lainnya. </p>
	<p>Saya akhirnya melangkah ke warung, membeli satu pak rokok cowboy, untuk menetralisir suasana hati. Lumayan. Beban saya sedikit terangkat bersama mengepulnya asap ke udara yang saya embuskan dari mulut, meski mulut saya terasa pahit. Rasa yang sudah sebulan kemarin tidak menghinggapi lidah saya. </p>
	<p>Tapi saya tetap berniat bebas asap lagi. Mulai dari sekarang. Sampai kapan? Sampai saya membutuhkan kepulan racun itu lagi. Entah kapan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/03/08/112/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Bebas Asap &#8230;. Sampai Kapan?</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 10:57:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/</guid>
		<description><![CDATA[	Saya secara sengaja mengontaminasi darah saya dengan nikotin, sejak SMP. Tepatnya SMP kelas dua. Saya lupa, itu di awal kelas dua, pertengahan, atau akhir. Awalnya coba-coba, karena melihat teman yang lebih dulu mengisap lintingan tembakau. Terlihat gagah, jantan &#8230;.

Di kamar teman saya, sebatang rokok Gudang Garam International soft pack yang sebungkus harganya Rp 350 - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya secara sengaja mengontaminasi darah saya dengan nikotin, sejak SMP. Tepatnya SMP kelas dua. Saya lupa, itu di awal kelas dua, pertengahan, atau akhir. Awalnya coba-coba, karena melihat teman yang lebih dulu mengisap lintingan tembakau. Terlihat gagah, jantan &#8230;.<br />
<a id="more-111"></a><br />
Di kamar teman saya, sebatang rokok Gudang Garam International soft pack yang sebungkus harganya Rp 350 - saat itu - saya ambil. Deg-degan. Saya bakar ujung rokok itu. Saya isap asapnya.  Batuk-batuk. Saya isap lagi. Lumayan sukses, meski mulut jadi terasa pahit. Habis sebatang. </p>
	<p>Belum puas. Saya masih ingin merokok. Bersama satu teman, saya pergi ke penjual rokok di pojokan kampung dekat rumah teman saya. Beli rokok Bentoel dua batang. Satu untuk saya, satu lagi untuk kawan saya. Saya lupa harganya. Saya bakar lagi lintingan tembakau itu, saya isap asapnya, sampai habis. </p>
	<p>Dari coba-coba, saya mulai berubah menjadi perokok. Tapi intensitasnya masih jarang. Biasanya, saya merokok saat menonton film di bioskop, bersama kawan-kawan, atau sendiri. Di Wonosobo, kota di mana saya tumbuh, merokok di bioskop tidaklah dilarang. Untuk perokok pemula yang takut ketahuan orang tua, itu malah jadi tempat yang aman untuk mengisap racun. </p>
	<p>Masa SMA, aktivitas merokok bahkan dilakukan tak jauh dari lingkungan sekolah. Biasanya saat istirahat, seusai menyantap nasi di kantin yang ada di luar halaman sekolah, saya - juga kawan-kawan sekolah - merokok, meski sedikit deg-degan takut ketahuan guru. </p>
	<p>Masa kuliah, saya seolah tak terkekang. Hidup jauh dari orang tua, membuat saya merasa lebih bebas. Mengisap tembakau tanpa takut ketahuan. Namun saya tetap tidak berani merokok di rumah, ketika pulang kampung. </p>
	<p>Pertengahan masa kuliah, saya baru berani merokok di rumah saya. Bapak ibu sudah tahu. Dan tidak memarahi. Hanya menyarankan, kalau bisa tidak usah merokok. Kalaupun merokok, jangan terlalu banyak. Saya cuma nggah nggih nggah nggih saja, diwejangi seperti itu. </p>
	<p>Akhir masa kuliah, saya mulai jadi perokok hampir berat. Tiap ujian, bahkan menjelang ujian skripsi, asap menjadi teman baik saya saat belajar. </p>
	<p>Masa kerja, saya mulai menjelma menjadi perokok berat. Meski ada yang kelasnya lebih berat dari saya, sanggup menghabiskan dua bungkus rokok sehari. Saya, sehari tidak sampai sebungkus. Tapi tetap saya katakan perokok berat, meski dalam situasi tertentu, saya betah tidak merokok seharian, bahkan seminggu. Tapi itu sangat situasional. </p>
	<p>Sebagai perokok, saya itu termasuk asbak. Berbagai merek, bisa diterima mulut saya. Seperti asbak, yang tidak pernah menolak puntung rokok merek apapun. </p>
	<p>Di awal karir merokok, Gudang Garam International - sering juga disebut Gudang Garam Filter - jadi pilihan. Bentoel juga. </p>
	<p>Lalu berderet. Marlboro, Lucky Strike, Sampoerna King, Djarum Super, Sampoerna A Mild, LA Light, U Mild, Star Mild, Dji Sam Soe dan entah berapa banyak lagi merek rokok yang pernah saya isap. Sampai tingwe, ngelinting dewe, juga saya lakoni. </p>
	<p>Dalam kondisi tertentu, saya bahkan mengatakan diri saya, sepur alias kereta api. Mulut ngebul terus. Merokok terus. Biasanya terjadi, saat dalam situasi jenuh menunggu, baik saat tugas peliputan atau dalam situasi lain, yang membuat saya bosan. Kalau dada mulai terasa sesak, biasanya agak saya turunkan intensitasnya. </p>
	<p>Berkali-kali, saya ingin berhenti merokok. Tapi selalu susah. Ketika saya sakit, rokok saya tinggalkan. Lalu muncul niat, setelah sembuh tidak merokok lagi. Tapi biasanya, niat itu hanya bertahan beberapa hari. Saya tetap merokok dan merokok lagi, menikmati racun secara sengaja. </p>
	<p>Saya tahu, apa risiko yang saya hadapi dengan mengisap lintingan tembakau itu. Saya sadar. Tapi saya sulit lepas. Mungkin bisa dibilang, kecanduan saya lumayan akut. </p>
	<p>Sampai sekitar tiga pekan lalu. Ketahanan tubuh saya menurun. Saya sakit. Meriang, panas dingin, pusing, pilek. Ciri-ciri sakit flu. Batuk juga sesekali. Awalnya batuk biasa. Kemudian muncul dahak. </p>
	<p>Selang dua hari, saya periksakan ke dokter. Saya sampaikan keluhan yang saya rasakan. Dokter tanya, apakah saya perokok. Saya jawab, iya, tapi sudah dua hari tidak merokok karena sakit. Perokok berat? Saya jawab, tidak terlalu berat. </p>
	<p>Setelah pemeriksaan, dokter meminta saya tidak mengonsumsi gorengan. Banyak minum susu, cukup istirahat, cukupi vitamin. Tapi dia tidak menyampaikan, apa penyakit yang saya derita. Kemudian dia meminta saya mengambil obat yang sudah disediakan, agar penyakit saya sembuh. </p>
	<p>Sampai saya tiba di kamar kos, saya belum tahu apa penyakit saya. Yang saya tahu, saya sakit flu. Kemasan obat saya buka. Saya baca petunjuk mengkonsumsi. Dari label yang dipasang, saya tahu, jenis obat itu untuk mengobati sakit apa. </p>
	<p>Kemudian, saya kaget ketika membaca label salah satu obat yang saya terima. Di label itu tertulis, bronkitis. Welah, saya sakit bronkitis? Walah &#8230; walah, saya tidak menyangka. </p>
	<p>Setelah saya sembuh dari sakit dan bisa beraktivitas normal, saya cari tahu tentang penyakit bronkitis. Ada sejumlah penyebab, salah satunya asap rokok. </p>
	<p>Sejak itulah, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya tidak merokok. Sudah lebih tiga pekan ini, paru-paru dan jantung saya bebas asap. </p>
	<p>Berat? Sudah pasti. Namanya perokok berat, tiba-tiba saya berkeputusan, berusaha tidak merokok. Sering, saya tiba-tiba ingin merokok. Keinginan yang kuat. Apalagi jika saya terpapar asap rokok yang diembuskan kawan-kawan saat ngobrol. </p>
	<p>Yang paling berat adalah setelah makan. Sudah menjadi ritual bagi perokok, untuk mengisap nikotin sehabis makan. Rasanya sangat nikmat. Lengkap. </p>
	<p>Namun, sudah lebih dari tiga pekan ini, saya berusaha keras untuk tidak melakukannya. Agak tersiksa memang. </p>
	<p>Saya tidak tahu, sampai kapan bisa bebas asap seperti yang sudah saya alami selama lebih dari tiga pekan ini. Saya sendiri tidak janji, bahwa saya tidak akan merokok lagi. Mungkin suatu saat, saya akan membutuhkan asap dari pembakaran daun tembakau itu untuk saya isap lagi. </p>
	<p>Saya cuma berusaha, untuk saat ini, menjalankan fase bebas asap ini sebaik mungkin. Dan nyatanya, memang napas terasa lebih lapang karena rongga dada tidak terkontaminasi asap. Tapi ya itu tadi, pertanyaannya, sampai kapan bebas asap? Saya sendiri tidak tahu jawabannya. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/02/28/bebas-asap-sampai-kapan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga Tetap Berdedikasi</title>
		<link>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/</link>
		<comments>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 10:37:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irf</dc:creator>
		
	<category>ocehan</category>
		<guid>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/</guid>
		<description><![CDATA[	9 Februari kemarin, kaum jurnalis di Indonesia memperingati Hari Pers Nasional ke-62. Semoga tetap &#8220;independen, obyektif dan tanpa prasangka&#8221; dalam bertugas. Semoga tetap mendengarkan &#8220;suara hati nurani rakyat&#8221; dalam menjalankan &#8220;amanat hati nurani rakyat&#8221;.  Semoga mampu berkontribusi untuk &#8220;meningkatkan dinamika masyarakat&#8221;. Semoga tetap &#8220;berani tanpa tendensi&#8221; dalam menjalankan tugas-tugas kewartawanannya, sehingga masyarakat memperoleh informasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>9 Februari kemarin, kaum jurnalis di Indonesia memperingati Hari Pers Nasional ke-62. Semoga tetap &#8220;independen, obyektif dan tanpa prasangka&#8221; dalam bertugas. Semoga tetap mendengarkan &#8220;suara hati nurani rakyat&#8221; dalam menjalankan &#8220;amanat hati nurani rakyat&#8221;.  Semoga mampu berkontribusi untuk &#8220;meningkatkan dinamika masyarakat&#8221;. Semoga tetap &#8220;berani tanpa tendensi&#8221; dalam menjalankan tugas-tugas kewartawanannya, sehingga masyarakat memperoleh informasi yang &#8220;jernih bernilai&#8221;. Sebab &#8220;selalu ada yang baru&#8221; dalam dunia informasi, yang perlu disampaikan kepada masyarakat. Amin 1000 x &#8230;.<br />
<a id="more-110"></a><br />
Catatan :<br />
1. Independen, Obyektif, tanpa Prasangka (motto harian &#8220;Suara Merdeka&#8221;, sebelum merubah motto menjadi &#8220;Perekat Komunitas Jawa Tengah&#8221;).<br />
2. Suara Hati Nurani Rakyat (motto harian Kedaulatan Rakyat)<br />
3. Amanat Hati Nurani Rakyat (motto harian Kompas)<br />
4. Meningkatkan Dinamika Masyarakat (motto harian Solo Pos)<br />
5. Berani tanpa Tendensi (motto harian Wawasan)<br />
6. Jernih Bernilai (motto harian Joglosemar)<br />
7. Selalu Ada yang Baru (motto harian Jawa Pos)</p>
	<p>target=&#8221;_blank&#8221;><img src="http://i72.photobucket.com/albums/i170/blues_biruku/wartawan.jpg" border="0" alt="Photobucket"/><br />
<!--more--></p>
	<p>Foto di atas diambil salah satu rekan fotografer - saya lupa persisnya, tapi kalau tidak salah oleh rekan Anwar Mustafa dari Jawa Pos Radar Solo - dalam acara pembukaan pameran foto karya pewarta foto Solo, di Solo Square Mall, pertengahan tahun 2007 silam. Momen langka, di mana wartawan tulis, fotografer, reporter radio, kameramen TV, sampe pemegang kebijakan, yang semuanya berkecimpung di industri media dan semuanya memiliki mobilitas tinggi, bisa berkumpul bersama, meski tidak semuanya. </p>
	<p>Posisi berdiri (dari kiri ke kanan) :<br />
Lia (SP FM), Rika (JP Raso), Yudha (68H), Bowo (Metro TV), Andhika (Antara), Begog D Winarso (Pemred JP Raso), Gus Yam (TA TV), Jokowi (Wali Kota Surakarta), Agus (SP), Agung (Meteor), Abah (Wawasan), Irfan (SM), Igun (SM) &#8230;.. dua orang yang tidak terlihat mukanya dan hanya kelihatan sebagian kepalanya tidak diketahui, siapa mereka</p>
	<p>Posisi tengah (dari kiri ke kanan) :<br />
Bahana (Kompas), Akbar (Antara), Onggo (Karavan), Ari (JP Raso) </p>
	<p>Posisi duduk (dari kiri ke kanan) :<br />
Eki (Kompas), Indah (SP), Ichwan (JP Raso), Burhan (SP), Pita (Solo Radio), Yoyok (SP) </p>
	<p>Tetap jaga kondisi tubuh, kawan, karena pekerjaan kita menuntut ketahanan tubuh yang tinggi &#8230; hehehehehehe</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irf.blogsome.com/2008/02/11/semoga-tetap-berdedikasi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
