Aku hanya bisa terdiam melihat kau pergi
Dari sisiku dari sampingku
Tinggalkan aku seakan semuanya
Yang pernah terjadi tak lagi kau rasa
(more…)
Well she’s walking, through the clouds
With a circus mind that’s running wild
Butterflies and zebras
And moonbeams, and fairy tales
That’s all she ever thinks about
Riding with the wind
When I’m sad she comes to me
With a thousand smiles she gives to me free
It’s all right she said, it’s all right
Take anything you want from me
Anything
Fly on Little Wing
Little Wing
(more…)
Apa yang bisa dilakukan seorang ABG berusia 15 tahun dan menyandang status sebagai bassist, di sebuah supergrup bernama Van Halen? Bisa jadi, pamor band berisik yang mencuat karena kehebatan Eddie Van Halen dalam memainkan gitarnya itu bakal naik lagi, setelah meredup pasca peluncuran album Van Halen III yang tidak sukses sama sekali. Atau malah sebaliknya?
(more…)
“Besides being a guitar player, I’m a big fan of the guitar. I love that damn instrument.”
Steve Vai
————
Saya bukan pemain gitar yang baik seperti Steve Vai. Hanya sekadar bisa mendentingkan sejumput nada pada enam dawai. Tapi saya - seperti halnya juga Steve Vai - mencintai instrumen tersebut.
(sekadar intro untuk postingan selanjutnya………..)
Yuuhhhuuuuuuuu……
Saya lagi senang. Rasa penasaran saya terhadap musiknya SRV sedikit terbayar, setelah saya ketemu situs yang menyediakan lagu-lagunya SRV dan bisa di-download gratis. Lumayan, satu album full. Meski pada akhirnya, kegratisan itu harus dibayar dengan masuknya spyware dan virus trojan, yang membuat saya harus meng-install ulang komputer yang biasa saya pakai bekerja di kantor. Gak papa …. :p
(more…)
nde mos denjereus bend in nde weld
Rolling Stones Indonesia edisi Maret. Ada salah satu artikel hasil wawancara dengan Axl Rose, pentolan Guns N Roses (GNR), band yang ketika jaya mempunyai julukan maut, nde mos denjereus bend in nde weld (the most dangerous band in the world, band paling merbayani sak ndonya). Ada juga fotonya Axl. Rambutnya dikepang kecil-kecil model rasta. Dagunya berjenggot. Dia ngomong soal Chinese Democracy, juga tentang reuni GNR.
(more…)
Let’s talk about music….
Belakangan, saya sedang senang bernostalgia, kembali ke zaman masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Waktu saya lagi senang-senangnya mendengarkan musik bergenre speed metal milik Helloween.
(more…)
bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh …
mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut …
itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s’lalu naik itu perahu
—————————————————-
(more…)
….. So long
….. it was so long ago
….. But I’ve still got the blues for you
(Still Got the Blues - Gary Moore)
“Kenapa kamu suka musik blues?” tanya salah satu teman saya waktu ketemu di Yahoo! Messenger.
Saya yang ditanya malah bingung menjawab. “Kenapa ya, kok saya suka musik blues?” kata itu yang ada di otak saya.
“Karena saya tidak bisa bermain gitar seperti Yngwie Malsteen, John Petrucci, Kirk Hammet, Joe Satriani, Steve Vai, atau pendekar-pendekar gitar lain,” jawab saya kemudian.
(more…)
Kemarin, hampir seharian saya mendengarkan sayatan gitarnya Jimmy Page, dentuman bass-nya John Paul Jones, gebukan drumnya John “Bonzo” Bonham dan lengkingan suaranya Robert Plant dari band legendaris Led Zeppelin (selanjutnya saya sebut Led’Z). Tentu, sambil tetap bekerja.
Led’Z namanya melambung di era 60-an akhir dan meraja di 70-an. Di era itu, konon tidak ada band lain, yang namanya lebih besar dari Led’Z.
Dari yang pernah saya baca di beberapa majalah, Led’Z adalah supergrup yang meletakkan dasar-dasar musik hard rock dan heavy metal yang berkembang di era 80-an dan sesudahnya, sampai sekarang. Seperti Jimmy Hendrix yang menjadi inspirasi permainan para gitaris hebat, Led’Z menjadi inspirasi bagi musik dari band-band besar era 80, 90, sampai sekarang.
(more…)



