Acara launching Komunitas Bengawan, yang mewadahi para penggiat blog di Solo dan sekitarnya, sudah berlalu lebih dari sepekan, saat saya membuat tulisan ini. Launching yang menyenangkan, karena tidak saja mendapat dukungan dari para sesepuh dunia blog Indonesia, serta kawan-kawan blogger dari berbagai kota yang menyempatkan hadir, tapi juga mendapat support penuh dari orang nomor satu di Kota Solo.

Ya, Wali Kota Joko Widodo, biasa disapa Jokowi, mendukung sekali adanya komunitas ini. Salah satunya dengan diperbolehkannya rekan-rekan di Bengawan menggunakan pendapa Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota, untuk acara launching. Dukungan yang sangat berarti, tapi yang lebih utama dari dukungan Jokowi adalah support moril terhadap keberadaan blogger Solo.

Photobucket Kenapa Pak Wali bersedia memberikan dukungan terhadap keberadaan Bengawan? Padahal, dari pengakuan dia saat saya mewawancarainya sejenak usai acara, terlontar pengakuan bahwa dia bukanlah blogger. “Wis ra sempat. Facebook, blog, aku orawis ora sempat,” lontarnya seraya tertawa, ketika saya tanya apakah dia memiliki blog di dunia maya.

Sudah jelas, dia bukan seorang blogger. Lalu kenapa, pria berlatar belakang dunia bisnis sebelum menjadi Wali Kota ini mau mendukung Bengawan?

“Karena target kami mem-branding kota ini, lewat jalan apapun. Entah media cetak, tivi, lewat blog, kerjain semuanya.”

Ya, support yang diberikan Jokowi, karena dia memang punya misi untuk lebih mengenalkan kota yang dipimpinnya ke ranah yang lebih luas. Tidak hanya mengenalkan ke seantero Indonesia, tapi juga dunia.

Dan blogger, di matanya mempunyai posisi strategis, untuk membantunya mengenalkan Solo ke dunia. Tentu, lewat jalur blog. Internet, di mana blog bernaung di dalamnya, adalah media yang bisa diakses siapapun dan dari manapun, tanpa menghiraukan batas-batas kewilayahan seperti yang ada di dunia nyata.

Sebagai wirausahawan, Jokowi tentu sadar, itu adalah media yang sangat strategis untuk “menjual” produk yang dimilikinya sebagai Wali Kota, yaitu kota yang dipimpinnya. Solo, sebagai sebuah kota, dinilainya layak dijual, entah sebagai tujuan wisata, bisnis, budaya, investasi, maupun tujuan lain yang positif bagi perkembangan Solo.

“Kami mau kerjain lewat apapun, untuk mengenalkan kota ini secara gede-gedean. (Launching) ini baru awal. Juni, Juli, Agustus, nanti akan ada event setiap minggu (di Solo). Nanti blogger-blogger dikumpulin. Sehingga nanti kalau kita buka, di blog siapapun, akan bicara mengenai Solo.”

Dari sini sudah kelihatan, kenapa Jokowi mendukung penuh keberadaan komunitas blogger di Solo. Dia berharap, blogger-blogger di Solo, maupun blogger dari daerah lain yang singgah di Solo, akan menuliskan tentang Solo berdasarkan pandangan mereka. Entah itu sisi pariwisatanya, sisi bisnisnya, sisi budayanya, ataupun sisi-sisi lain yang menurut blogger layak untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, lalu ditayangkan di blog mereka masing-masing.

“(Blogger) ini kan secara independen memberi informasi. Maksud saya, Solo ini harus menjadi pembicaraan di media apapun. Termasuk di internet. Harus jadi pembicaraan terus menerus.”

Yang menarik, Jokowi mempersilakan blogger menuliskan Solo apa adanya. Yang baik, katakan baik. Yang tidak baik, kata dia, akan menjadi masukan dan bahan koreksi buat dia dan jajaran pemerintahannya.

“(Saya) tidak antikritik. Bebas kalau (mau menulis informasi tentang Solo) itu,” tegasnya.

“Sampaikan informasi mengenai Solo apa adanya, bahwa Solo sekarang seperti ini. Tidak (perlu) ditutup-tutupi. Mau mengomentari silakan, mau mengritik silakan, mau memberikan koreksi silakan. Kalau sudah namanya media tidak bisa dihalangi. Saya ditulis apapun, ya itu untuk koreksi.”

Jelaslah sudah, meski bukan blogger, dia sangat mendukung adanya komunitas blogger ini, karena dia melihat, bahwa dia bersama pemerintahannya, bisa bersinergi dengan blogger yang ada, untuk mempromosikan Solo secara bersama-sama.

“Dan yang paling enak, kami tidak keluar biaya (banyak untuk publikasi tentang Solo). Dan publikasi itu bisa dilihat jutaan orang.”

Solo, 432009,20.00