sepinya hidup dalam penjara ……
tak juga hilangkan ……..
rasa sesal dan rasa bersalah ….
bayangmu … wajahmu … datang menggoda …..
(penggalan lirik lagu “Trauma”, album “Semut Hitam”, “God Bless - 1988″)

Saya masih SD ketika album ketiga dari grup God Bless - band rock Indonesia yang terbentuk sejak saya belum lahir di dunia - itu meledak luar biasa di pasaran musik Indonesia. Saya merengek kepada bapak saya, agar membelikan kaset itu.

Hampir tiap hari, setelah dibelikan kaset itu, saya mendengarkan album tersebut. Sudah tentu, lagu “Semut Hitam” jadi favorit, selain “Kehidupan” atau “Trauma”. Lagu lainnya, saya tidak begitu ingat.

Beberapa saat kemudian, kaset itu hilang. Entah ke mana. Saya tak lagi bisa mendengarkan lagu-lagu di album tersebut.

Lagu “Semut Hitam” terus jadi anthem bagi penikmat musik rock Indonesia. Termasuk di panggung-panggung musik. Bahkan sampai saya kuliah, saya masih sempat melihat sebuah band kampus membawakan lagu itu.

Tapi yang sering terngiang malah lagu “Trauma”, yang liriknya saya torehkan sebagai intro postingan ini. Padahal itu bukan lagu unggulan God Bless kala mengeluarkan album tersebut.

Sampai kemudian, saat hampir menyelesaikan kuliah, saya membeli kaset “The Story of God Bless”, yang berisi deretan karya terbaik band tersebut dari empat album yakni “Huma Di Atas Bukit”, “Cermin”, “Semut Hitam” dan “Raksasa”.

Woilaaaa …. saya menemukan juga lagu “Trauma” di album the best itu. Dan saya kembali menyukainya ….

pada suatu ketika …..
ku duduk sendiri ……..
di pucuk cemara ……
aku merenung, kujilat angkasa ………
kuciumi, matahari …………..

(penggalan lirik lagu “Menjilat Matahari”, album “Raksasa”, “God Bless - 1989″)

Saya juga masih SD, ketika sering melihat video clip band God Bless membawakan lagu “Menjilat Matahari”, yang sering diputar di acara Album Minggu Ini milik TVRI dulu.

Gaya Ahmad Albar saat menyanyikan bagian awal lagu, kemudian berlari ke tengah band-nya, atau gaya Eet - gitaris God Bless saat itu, menggantikan Ian Antono yang mengundurkan diri - melihat ke arah kamera saat memainkan gitarnya, sebagian masih terekam di otak saya. Jadul … hehehehe

Hanya itu yang sebatas saya kagumi waktu itu. Terlihat keren. Baru setelah saya membeli album “The Story of God Bless” di penghujung masa kuliah, saya sadar kalau aransemen lagu itu, menurut saya, dahsyat. Sangat dahsyat malah. Permainan keyboard Jockie Soeryoprayogo di intro lagu, yang membuat lagu itu keren. Termasuk permainan gitar Eet yang bernafaskan speed metal. Wow …

Dari sekian banyak lagu God Bless, saya paling suka “Musisi”. Baik dari segi lirik, juga musik. Saya pertama tahu lagu ini saat sering menonton acara konser-konser atau festival musik di kampus. Lagu ini sering dijadikan lagu wajib untuk dimainkan, karena tingkat progresifitas musiknya.

Dan saya suka “Musisi” karena menurut saya, lagu ini bisa masuk dikategorikan progressive rock, salah satu genre musik rock yang saya suka.

getar jiwa kuungkapkan ke dalam nada..ooh.. tercipta lagu
kutuliskan kata hati ke dalam bait..ooh..tercipta lirik
berkisah..nada riang dan nada sendu
ungkapan desah kalbu di dalam diri

(penggalan lirik lagu “Musisi”, album “Raksasa”, “God Bless - 1989″)

Album terakhir yang dikeluarkan God Bless adalah “Apa Kabar” yang diedarkan 1997 silam. Sayang, album ini kurang terdengar kabarnya. Lagu “Serigala Jalanan” tak mampu mengangkat tinggi kegaharan God Bless. Duo gitaris Ian Antono dan Eet Syachranie tak mampu mendongkrak pamor God Bless lebih tinggi.

Setelah itu, pamor God Bless meredup. Namun mereka sudah menjadi legenda. Beberapa waktu lalu, saat Soundrenaline digelar, band ini sempat naik panggung lagi, menjadi penguasa massa dalam konsernya.

Namun sayang, vokalis Iyek kurang merdu lagi. Di beberapa bagian lagu yang ia nyanyikan, suaranya fales. Padahal dia menyanyi di nada rendah. Sudah tentu, saat menyanyi di nada tinggi, kefalesan suaranya makin terdengar. Ia sering mencorongkan mikrofonnya ke arah penonton yang bernyanyi bersama.

Saya kadang membandingkan God Bless dengan Deep Purple. Bisa dibilang, band dari belahan dunia yang berbeda ini satu angkatan. Bahkan God Bless pernah menjadi band pembuka konser Deep Purple di Indonesia.

Dari DVD bajakan konser Deep Purple tahun 2000 (kalau tidak salah) yang saya tonton, suara Ian Gillan, vokalis band tua itu, masihlah merdu. Tak terdengar nada fales. Tapi saat menyanyi di nada tinggi, tak bisa dipungkiri, urat lehernya tak lagi mendukung. Meski kadang dipaksakan dan berhasil, hasilnya tidaklah mengecewakan. Tak terdengar minor.

Faktor usia, memang tak bisa dihindari, berpengaruh pada kualitas suara. Namun faktor gaya hidup pun berpengaruh. Saya tidak tahu gaya hidup apa yang dijalankan dua vokalis band legendaris itu. Dari majalah yang sering saya baca, gaya hidup rock star biasanya liar. Tak usah disebutkan definisi liarnya seperti itu, saya pikir Anda yang membaca postingan ini sudah tahu.

Namun kenapa, sebagai sesama band tua, kualitas suara vokalis band Deep Purple masih terjaga mutunya, sementara kualitas suara band God Bless saya rasakan sangat menurun kualitasnya? Kenapa sebagai vokalis, aset utama itu tidak dijaga?

Lebih ironis lagi, saat beberapa waktu lalu, Ahmad Albar ditangkap polisi karena diduga terlibat kasus narkoba. Saya tidak mau berkomentar soal ini. Masalah narkoba, itu pilihan dari yang melakoni. Dan semua ada konsekuensinya.

Saya cuma berpikir, God Bless ini band legendaris. Band rock yang berpengaruh pada peta musik Indonesia. Tapi sayang, di usia yang sudah matang sebagai band, perjalanan band ini tersandung ironi. Terasa antiklimaks ….

Sayang ……….

NB : Rasa ironis itu jadi makin tergores, setelah saya membaca tulisan yang dicatat oleh seorang blogger yang juga jurnalis di sini. Tapi God Bless masih tetap menjadi salah satu band favorit saya :p