Kami menyebutnya negeri di awan
Negeri yang terletak di pucuk-pucuk gunung
Berselimutkan dingin dan kabut di kesehariannya
Juga semburat fajar keemasan dan jingga senja
——————————————————

“Kami menyebutnya negeri di awan”. Ya, negeri di awan. Ini sebutan kami - saya dan juga beberapa kawan - ketika berniat mengadakan perjalanan, dalam perjalanan, atau ketika menjejakkan kaki kami di pucuk gunung.

Pucuk gunung itu, yang kami sebut negeri di awan. Kata yang kami ambil dari judul lagunya Katon Bagaskara, dekade 90-an lalu. Bagi saya dan beberapa kawan, pucuk gunung itulah bentuk sebenarnya dari apa yang disebut Katon sebagai negeri di awan.

“Di mana kedamaian, menjadi istananya ….. ” begitu kata Katon dalam lagunya itu. Yup. di negeri pucuk gunung itu, kami merasa bebas. Lepas dari penat keseharian.

Memandang panorama luar biasa yang dihamparkan Gusti Allah di muka bumi dari puncak gunung, bagi saya pribadi - dan mungkin juga kawan-kawan - adalah nikmat. Menikmati dingin, ditemani kepulan asap rokok dan makanan serta minuman hangat, bagi saya juga salah satu bentuk kedamaian.

Semburat keemasan di ufuk timur, adalah sasaran pertama kami, ketika mendaki. Kalaupun tidak terkejar karena kami sudah kecapekan setelah berjalan berjam-jam menembus malam, kami masih bisa memandanginya dari punggungan gunung, tempat kami berdiri saat itu.

Selanjutnya adalah edelweis. Lalu desa dan kota-kota yang bentuknya yang terlihat sangat kecil di kejauhan. Juga tekstur melekuk-lekuk dari jurang-jurang di punggung gunung. Dan yang pasti, awan-awan yang mengambang.

Subhanallah …..

Sering kami merasa enggan untuk pulang. Tapi kalau yang satu ini, disebabkan kami merasa capek duluan, membayangkan beratnya medan yang harus kami tempuh dalam perjalanan pulang … hehehehehe

Tapi sudah bertahun-tahun, saya tidak berkunjung ke negeri di pucuk gunung. Setelah Lawu, Merbabu, Sindoro, Sumbing dan Merapi saat masa kuliah dulu, sudah bertahun-tahun, saya hanya merindukan aroma gunung. Terakhir ya, 1999, ketika Merapi masih bersahabat bagi para penyusur punggungnya.

Apalagi sekarang. Pekerjaan saya menyita waktu. Artinya, berkunjung ke pucuk gunung sering jadi impian. Pergi ke daerah ketinggian seperti Tawangmangu, kadang jadi sedikit pelepasan rindu saya pada suasana negeri di awan.

Tapi, beberapa hari lalu, saya melonjak girang. Ada ajakan untuk mengunjungi negeri di awan. Ke Bromo. Puncak yang belum pernah saya tapak. Bersama sebuah rombongan.

Dan kerinduan saya pada hawa gunung, terpupuskan ketika memandang horizon di ufuk timur, saat matahari menyemburatkan sinar kuning keemasannya. Atau ketika melihat awan kental mengambang, di mana saya bisa melihatnya dari sisi atas, tidak dari sisi bawah saat kita ada di daratan biasa.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Kepulan asap belerang yang memerihkan mata dan menyesakkan napas, menjadi bumbu penyedap perjalanan saya. Gemetar di kedua kaki saat menuruni anak tangga ketika turun dari puncak Bromo, menjadi bahan nostalgia saya, karena itu selalu saya rasakan setiap kali mendaki. Tentu, karena capek.

Memang, mendaki Bromo tak seberat menuju pucuk gunung yang lain. Kalau di gunung lain, harus berjalan kaki dari kaki gunung sampai puncak. Di Bromo, saya - dan anggota rombongan yang lain - naik kuda, melewati lautan pasir, sampai ke bagian sebelum puncak gunung.

Untuk ke puncak, ada tangga setinggi - mungkin - 100 meter. Jadi tidak capek, jika dibandingkan pendakian ke gunung lain. Tapi, puncak gunung tetaplah puncak gunung. Negeri di awan, ada di situ.

Subhanallah ….

Saya pernah membaca buku soal cerita para pendaki. Di buku itu, saya lupa judulnya, ada bagian ketika salah satu pendaki gunung kelas dunia yang biasa mendaki gunung-gunung tertinggi di muka bumi - saya juga lupa namanya - menuturkan, betapa jengkelnya dia saat ditanya kenapa dia mendaki gunung.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket “Kenapa kamu mendaki gunung,” tanya orang-orang pada pendaki itu.
“Karena gunung ada di situ,” kata si pendaki, yang mungkin bingung ditanya demikian.

Saya pun demikian. Dulu saya - mungkin juga kawan-kawan pendaki yang lain - kadang ditanya, ngapain mendaki gunung? Cari susah saja. Mending tidur di rumah, enak …. Selalu saja bingung untuk menjawab.

Mungkin benar kata orang-orang yang menanyakan kenapa kami mendaki gunung. Ketika mendaki, saya sering merasa, “Duh … capek bener, kapok deh. Besok gak mau naik gunung lagi.”

Tapi pernyataan itu tidak pernah terealisasi, karena saya naik dan naik gunung lagi, bersama kawan-kawan saya.

Kalau sekarang saya ditanya seperti itu, saya akan menjawab, karena di pucuk gunung ada negeri di awan. Meskipun saya sadar, waktu untuk bisa mendaki gunung sekarang sudah susah saya temukan. Tapi saya tetap senang, karena pernah berkunjung ke negeri penuh kedamaian.

NB : kapan ya, bisa naik gunung lagi? hehehehehe ….