Sudah setahun, gempa 5,9 skala richter itu mengguncang beberapa wilayah Jogja dan Jateng. Namun persoalan yang muncul, belum juga rampung.

Belum lama ini, saya - serta tiga rekan wartawan lain - diantar salah satu anggota DPRD Sukoharjo ke Desa Tawang, Kecamatan Weru. Dulu, desa ini termasuk salah satu daerah yang korban gempanya cukup banyak. Di situ, kami ditunjukkan beberapa rumah yang rusak akibat gempa 27 Mei 2006 silam.

Si pemilik rumah mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk merehabilitasi dan merekonstruksi rumahnya. Bahkan ada satu rumah yang tak didiami lagi oleh pemiliknya, karena kondisinya mengkhawatirkan.

Selang beberapa hari, saya mewawancara Ketua Satlak PBP Sukoharjo. Dia mengatakan, sekitar 45 KK di Kecamatan Weru dan Tawangsari belum menerima dana bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi. Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka luput dari penerimaan bantuan. Tapi mereka akan diusahakan menerima bantuan.

Itu baru contoh kecil dari masalah yang saya katakan di awal, belum rampung. Belum lagi soal pemotongan dana bantuan gempa oleh beberapa oknum, seperti yang ditulis oleh rekan wartawan di Klaten, juga Boyolali. Dan mungkin masih setumpuk lagi masalah yang terkait gempa, yang menunggu diselesaikan oleh pihak terkait.

Sedih memang, jika membaca berita-berita yang terkait dengankorban gempa. Apalagi jika beritanya menuturkan soal pemanfaatan mereka oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Saya yakin, pemerintah tidak tutup mata dalam membantu korban gempa, yang nyata-nyata masih butuh bantuan. Memang, ini bukan PR pemerintah saja. Ini PR bagi kita semua, untuk membantu mereka agar bisa bangkit dari keterpurukan, melalui caranya masing-masing.

Bismillah, Gusti Allah ora sare ………….