Sudah lama sekali rasanya, saya tidak menonton - juga sekaligus meliput - sebuah konser musik, baik itu konser skala stadion (konser outdoor), ataupun di dalam ruangan (konser indoor). Lamaaaa sekali. Mungkin terakhir saya nonton (dan liputan) konser adalah ketika Balawan, Mus Mujiono dan Tompi tampil sepanggung dalam sebuah pertunjukan musik yang dihelat di ballroom salah satu hotel berbintang di Solo, sekitar 1 atau 1,5 tahun lalu. Rasanya itu, kalau saya tidak salah ingat, konser musik yang terakhir saya tonton.

Dulu, waktu masih bertugas di lapangan di media tempat saya bekerja sebelum yang sekarang, meliput - sekaligus menonton - sebuah konser musik sering saya lakukan. Pun pertunjukan musik kontemporer, pentas teater, penampilan tari, sampai pameran-pameran seni.

Sebetulnya saya tidak pernah mendapat mandat khusus untuk liputan di bidang budaya dan pagelaran. Tapi karena saya menyukai pertunjukan-pertunjukan itu, maka saya sering menonton dan meliputnya. Dan lama-lama, tiap kali ada pentas musik, teater atau tari, secara tidak langsung, saya yang berangkat untuk meliput dan menontonnya. Dan itu kadang saya lakukan tanpa perintah penugasan … hehehehehe. Cuma atas dasar suka dan senang.

Kemudian zaman berganti. Saya duduk di belakang meja, tak lagi di lapangan. Intensitas menonton pentas pun menurun. Hanya even tertentu, yang kebetulan bisa saya tonton dan saya liput.

Sampai kemudian saya keluar dari tempat kerjaan yang lama dan pindah ke media tempat saya bekerja sekarang. Dan di media tempat saya bekerja sekarang, saya juga tidak ditempatkan di bidang peliputan budaya dan pagelaran. Artinya, kemungkinan meliput - sekaligus menonton - sebuah pentas juga kecil. Itu jika saya datang sebagai wartawan. Tapi kalau datang sebagai penonton seperti orang kebanyakan, itu bisa saya lakukan kapan saja ada pentas.

Tapi tentu berbeda, hanya sekadar menonton, dengan menonton tapi juga melakukan peliputan. Salah satu bedanya, kalau saya datang seperti penonton kebanyakan, tentu saya akan berdiri atau duduk bersama penonton lain. Tapi kalau datang sebagai wartawan, tempat saya menonton - sekaligus meliput - bisa di garis paling depan dari para penonton. Persis di depan panggung, tapi tidak bersama penonton kebanyakan. Benar-benar di depan panggung, di area selebar 2 meter di depan pagar yang membatasi penonton dengan panggung. Enak kan? He he he he he he …

Tapi itu juga tidak selalu. Kadang saya juga menonton pertunjukan - sekaligus meliput - dari area tempat penonton kebanyakan menikmati acara.

Nah, Sabtu (14/4) lalu, saya kebetulan ditugaskan untuk meliput konser Ari Lasso di Stadion Sriwedari, Solo. Saya sebut kebetulan, karena saat itu rekan wartawan yang bertugas di bidang pagelaran juga harus meliput sebuah acara di tempat lain di Solo. Akhirnya saya yang ditugaskan meliput konser itu.

Meski awalnya malas karena Solo diguyur gerimis sementara badan saya sedang tidak fit, tapi saya niatkan untuk berangkat meliput dan sekaligus menonton penampilan mantan vokalis Dewa 19 itu. Dan saya menikmati acara itu dari garda paling depan, persis di depan panggung dari awal pentas sampai usai. Hasilnya, badan saya tetap tidak fit sepulang dari liputan, tapi saya juga senang karena bisa merasakan lagi atmosfer sebuah konser musik yang sudah lama tidak saya rasakan.

Selain itu, malam itu juga menjadi sebuah tantangan bagi saya. Karena saya bertugas sendiri, tanpa di-back up fotografer untuk mengabadikan aksi sang penguasa panggung. Berbekal kamera pocket digital Canon Power Shot A-400, saya harus berusaha mendapatkan gambar bagus. Sementara rekan fotografer dari media lain menggunakan kamera digital SLR, yang tentu lebih kompatibel untuk mengambil gambar sebuah pertunjukan.

Agak minder awalnya, tapi saya akhirnya cuek. Untungnya, beberapa frame bisa saya ambil. Dan saya bersyukur, gambarnya tidak malu-maluin ketika muncul di koran sebagai foto utama halaman hiburan. Fyuuuhhhhh …. saya tersenyum, memandang hasil kerja keras saya terbayar dengan kepercayaan dari editor menempatkan foto itu sebagai foto utama.

Untuk cerita bagaimana konser berlangsung, silakan baca tulisan berikut, versi orisinil yang belum disunting editor. Sebagai pelengkap, nikmati juga foto hasil jepretan saya. Foto yang juga dimuat di media tempat saya bekerja saat ini. Enjoy it ….

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Ari Lasso Puaskan
Publik Solo

SOLO - Gerimis yang membasahi Kota Solo pada Sabtu (14/4) malam lalu, tak menyurutkan niat pecinta Ari Lasso untuk mendatangi Stadion Sriwedari. Ya, malam itu, mantan vokalis band Dewa 19 itu memang menyambangi penikmat musiknya di Kota Bengawan, lewat even bertajuk Romantic Moment With Ari Lasso yang dihelat Telkomsel. salah satu operator seluler di republik ini.

Agaknya, kharisma kuat penyanyi berkaca mata minus inilah, yang mampu menyeret ribuan fans-nya di Solo untuk melihat penampilannya. Selain - tentu - juga lagu-lagunya, yang memang “ramah” dengan kuping kebanyakan penikmat musik lokal.

Gebukan drum Lusman, distorsi gitar yang diraungkan Amer dan Wawan, dentingan piano dari piranti keyboard yang dimainkan Roy dan cabikan bass Lusman, yang terpadu harmonis dan terdengar indah sebagai intro lagu Mengejar Matahari, menjadi pembuka konser Ari malam itu.

Koor massal langsung membahana, terdengar seperti backing vocal saat solois yang pernah dekat dengan narkoba itu menyanyikan lagu yang juga jadi soundtrack film berjudul sama. Tak mau menyurutkan tensi penonton yang sudah “panas”, Ari langsung menyanyikan Perjalanan Panjang yang memiliki tempo irama cepat.

“Selamat malam, Solo! Piye kabare? Sudah setahun saya tidak ke sini. Sudah sering saya main di sini, tapi teman-teman di Solo selalu luar biasa. Solo juga selalu jadi kota terbersih dari tindakan anarki,” teriaknya, saat berkomunikasi dengan penonton.

Berturut-turut kemudian, repertoar seperti Seandainya, Penjaga Hati, Cinta Buta, Lirih dan Cinta Terakhir dikumandangkan. Ari juga membawakan lagu Badai Pasti Berlalu, sebuah masterpiece milik almarhum Chrisye yang direkam ulang untuk soundtrack film berjudul sama, yang di-remake ulang.

Hits lain seperti Arti Cinta, Rahasia Perempuan dan Misteri Illahi juga dinyanyikan. Yang asyik, di seluruh lagu selalu terjadi karaoke massal dari penonton. Tak hanya sekali dua kali, Ari menyodorkan mike-nya ke arah penonton.

Konser malam itu ditutup dengan repertoar Hampa. Meski bermandi peluh, Ari dan seluruh personel band-nya terlihat puas menyaksikan antusiasme pecintanya di Solo. Penonton juga lebih puas, bisa melihat langsung idolanya tampil di panggung. Terlebih mereka bisa melewatkan malam Minggu-nya dengan lagui-agu romantis Ari, meski harus melawan rintik gerimis. Dan pertunjukan pun usai, saat jarum jam menunjuk angka 22.00. (fan)