Apa yang bisa dilakukan seorang ABG berusia 15 tahun dan menyandang status sebagai bassist, di sebuah supergrup bernama Van Halen? Bisa jadi, pamor band berisik yang mencuat karena kehebatan Eddie Van Halen dalam memainkan gitarnya itu bakal naik lagi, setelah meredup pasca peluncuran album Van Halen III yang tidak sukses sama sekali. Atau malah sebaliknya?

Majalah Rolling Stone (RS) Indonesia edisi Februari 2007. Hati saya bersorak, saat mendapati artikel yang mengulas Van Halen, di rubrik RS Classic, setelah sekian lama tak ada kabarnya. Van Halen. Sebuah grup yang bukan terfavorit bagi saya, tapi banyak lagu-lagunya yang suka saya dengarkan berulang-ulang. Band yang muncul pada tahun 1978 (wah, saya baru saja lahir di tahun itu … :p ) dengan formasi awal Eddie Van Halen (gitar), Alex Van Halen (drum), Michael Anthony (bass) dan David Lee Roth (vokal).

Sudah jamak diketahui, kalau band ini pamornya mencuat, selain karena lagu-lagunya, juga karena permainan gitar Eddie yang hebat. Pernah dengar komposisi berjudul “Eruption”, yang ada di album pertama band ini? Sebuah repertoar instrumen yang memperlihatkan teknik “two handed tapping” dari Eddie. Teknik yang saat itu sangat belum lazim dimainkan gitaris.

Sampai sekarang, teknik itu disebut sebagai trade mark-nya Eddie yang konon punya darah Belanda-Indonesia. Eruption bahkan nongkrong di posisi kedua dari 100 solo gitar terbaik versi majalah Guitar World.

Dalam perjalanannya, David Lee Roth keluar - entah mundur atau didepak, saya nggak tahu - dari band itu pada 1984, Kabarnya sih, dia nggak setuju dengan gaya musik Van Halen, karena Eddie mulai memasukkan unsur bunyi-bunyian dari synthesizer dan keyboard. Contoh konkret, simak repertoar berjudul “Jump”.

Sammy Hagar lalu masuk, menggantikan David. Corak musik Van Halen pun berubah. Tetap gahar, tapi melodinya lebih asyik di kuping. Itu menurut saya, lho. Bersama Sammy yang konon mantan petinju, Van Halen tetap jaya, meski fans David Lee Roth tetap menginginkan dia kembali ke band tersebut.

Di formasi ini, ada lagu Van Halen yang menurut saya sangat melodius dan nggak membosankan didengar berulang kali. Judulnya Right Now, dari album (kalo nggak salah) “For Unlawful Carnal Knowledge”, di mana Eddie menggunakan piano untuk memperkaya musik di lagu ini. Lagu lain yang memanfaatkan bunyi piano adalah “Not Enough”, dari album “Balance”.

Setelah sekian lama jalan bareng, friksi terjadi. Sammy Hagar cabut, pasca menggarap lagu “Human Being” untuk soundtrack film “Twister”. David lalu masuk lagi, ketika Van Halen menggarap album “Best Of Van Halen”. Dua lagu baru yang dimasukkan ke album itu - “Me Wise Magic” dan “Can’t Get This Stuff No More” - dinyanyikan oleh vokalis yang suka pecicilan di atas panggung itu.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama. David cabut lagi. Van Halen vakum. Sampai ada kabar, mantan vokalis Extreme, Gary Cherone, ditarik masuk. Lalu muncul album “Van Halen III” yang jeblok di pasaran. Gary pun didepak.

Setelah itu, jarang terdengar kabar lagi dari band ini. Terakhir, sekitar 2002, beredar info bahwa Eddie terkena kanker. Namun jarang sekali informasi terbaru yang terdengar di telingan para penikmat lagu-lagu mereka. Situs resmi Van Halen juga terkesan terbengkalai, karena jarang di-up date.

Pada Desember 2006 lalu, ada kabar kalau bassist Michael Anthony dipecat. What? Setelah berpuluh tahun merintis karir bersama, dia dipecat? Kenapa? Tidak jelas alasannya. Yang jelas, posisinya digantikan Wolfgang Williams, Seorang remaja berusia 15 tahun.

Siapa Wolfgang? Apa hebatnya dia, dibanding Michael Anthony, yang meski permainan bass-nya jarang menonjol karena ketilep permainan gitar Eddie, tapi kontribusinya juga tidak sedikit bagi Van Halen?

Michael Anthony - yang punya bass berbentuk botol Jack Daniels, minuman kegemarannya - ternyata kalah dengan anaknya Eddie Van Halen. Yup, Wolfgang adalah anak tunggal gitaris murah senyum itu dengan Valerie Bertinelli. Kabarnya, permainan Wolfgang lebih hebat dibanding Michael. Konon, dia juga canggih memainkan gitar, seperti bapaknya, dan gape bernyanyi. Dan masuknya Wolfgang, membuat Van Halen seperti band keluarga. Personelnya terdiri dari bapak, anak dan pakdhe (Alex kan kakaknya Eddie, jadi panggilannya ya pakdhe …). Kecuali vokalisnya.

Di situs resmi Van Halen hanya ada penjelasan sekuprit soal itu. Yang jelas, formasi tersebut akan menggelar tour Maret mendatang. Dan yang mencengangkan, di situs resmi disebutkan, David Lee Roth akan comeback, memperkuat band tersebut dalam tour yang akan digelar.

Well, meski Van Halen bukan band paling favorit saya, tapi jelas saya penasaran, sedahsyat apa musik mereka, dengan masuknya Wolfgang dan kembalinya David. Apakah musik mereka bakal tambah berisik, atau kadar berisiknya sama seperti lagu-lagu mereka yang sudah dialbumkan, atau malah jadi tidak berisik? Wah, kalau Van Halen nggak berisik, ya nggak asyik.

NB : gambar yang terpampang dicomot dari sana dan sini (lupa alamat situsnya … hehehehehehehe). ayam sori, lik eddie van halen. gak papa to. salam. ir”fan” halen … hehehehehe