Nggak terasa, sudah hampir sebulan (dihitung berdasarkan saat saya menulis postingan ini) saya bekerja di tempat baru, setelah resign dari tempat kerja saya yang lama. Ada banyak hal yang berubah, dan saya sudah cukup bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebetulnya proses adaptasinya tidak sulit, karena sebagian besar rekan-rekan di media tempat saya bekerja sekarang sudah saya kenal sejak lama. Hanya ada beberapa hal saja, yang sangat berbeda kondisinya dengan tempat kerja saya yang lama, yang pada awalnya membutuhkan proses pembiasaan. Dan sekarang saya sudah bisa menyesuaikan diri.

Yang jelas, saya merasa kembali ke habitat saya lagi. Setelah hampir dua tahun lebih sering ngendon di kantor, sekarang saya jadi orang jalanan lagi. Sebagai pekerja lapangan.

Menyusuri jalanan kota, mengumpulkan informasi akurat untuk disajikan kepada pembaca, mewawancarai para nara sumber, mencorat-coret buku kecil saat melakukan wawancara dengan tulisan-tulisan yang kadang saya sendiri tidak bisa membacanya karena saking cepetnya ditulis, memotret berbagai obyek dengan kamera digital kecil, membuat caption dari foto-foto yang saya bidik, mengejar memacu sepeda motor untuk mengejar momentum peristiwa, berkutat dengan seabrek data saat menyelesaikan sebuah tulisan, atau memutar otak agar secuplik informasi yang saya dapat bisa dijadikan berita yang enak dibaca, dan beragam hal-hal lain yang melekat dalam sebuah dunia bernama jurnalistik.

Capek memang. Tapi, ini dunia saya. Setidaknya untuk saat ini. Dunia yang dulu saya geluti setiap hari, sebelum kemudian saya ditarik ke kantor menjadi redaktur.

Awalnya agak kaget. Hampir dua tahun, saya tidak berlaga di lapangan. Waktu hari pertama, rasanya badan saya capeknya berlipat-lipat. Tapi sekarang sudah cukup terbiasa. Meski kadang nggresulo, saat badan sedang ingin istirahat, atau sekadar sedang jalan-jalan, tahu-tahu ada SMS masuk yang memberitahukan sebuah peristiwa yang kudu dan mau tidak mau harus diliput. Yo wis, karena ini tugas, saya kudu segera terbang menuju lokasi peristiwa. It doesn’t matter, karena ini konsekuensi dari pilihan atas dunia yang saya geluti.

Oh ya, beberapa rekan kemarin menanyakan, apakah posisi saya di Semarang atau di Solo. Sampai saat ini, saya masih di Solo, meski media tempat saya bekerja sekarang berbasis di Solo. Sekadar tahu, sekarang saya ditugaskan untuk meliput berita-berita kriminal.

Segitu dulu, kapan sempat cerita-ceritanya bisa disambung lagi. Wish me luck, agar lolos tiga bulan awal masa percobaan.

PS :
1. Sekarang saya tidak bisa gondrong lagi karena nggak boleh … hiks (gak papa lah, demi masa depan, mengorbankan rambut gondrong bukan masalah)
2. Sekarang saya tidak bisa seenaknya bangun siang lagi … hiks (ambil positifnya, berusaha membudayakan bangun pagi … hehehe)
3. Sekarang saya tidak bisa sepuasnya blogwalking pakai internet gratis … hiks (ra masalah, karena ngeblog kan bukan pekerjaan utama … hehehe)
4. Sekarang saya bisa merokok dalam ruangan redaksi … hore (wah, jadi makin susah menghentikan kebiasaan buruk ini)
5. Sekarang saya bisa pulang agak sore, nggak malam-malam terus …. hore (jadi bisa puas cuci mata liat obyek menarik waktu sore)
6. Sekarang saya bisa …………. pokoke nyenengke lah … hore (saking senangnya, sudah dilukiskan dengan kata-kata … )