Syahdan, pada Ahad, 19 November 2006, pukul 06.00, enam orang petualang dari cahandong.org berkumpul di Mabes Cahandong, bersiap-siap berkelana bersama. Mereka adalah Lucky Luke (Arawku) dan Calamity Jane (Mentaree) yang naik kuda besi bernama Jolly Jumper (Suzuki Shogun). Lalu Lone Ranger (Priyayi Sae) dan Indian Tonto (The Stoopid) yang naik Silver (Yamaha Vega). Terakhir Old Shatterhand (Tukang Nggedeblues) dan Winnetou (Matriphe), yang naik Si Black (Honda GL Pro. Saya gak tau je nama kudanya Old Shatterhand. Yo wis, tak panggil Si Black aja, kependekan dari Black Stallion. Gak boleh protes. Kalo protes, ”tak sobek-sobek mulutmu™”).
Dari kiri ke kanan : Lucky Luke, Calamity Jane, Old Shatterhand, Indian Tonto, Winnetou dan Lone Ranger
Tujuan petualangan kali ini, Purbalingga ™. Agenda utama petualangan, sebagai petualang yang punya moto ”Narsis Tiada Habis”, jelas agenda utama adalah foto-foto di tempat-tempat menarik. Sedang agenda kedua adalah njagong atau kondangan di pernikahannya Ken dan Foens, di daerah Desa Belik (nama lengkap desanya Belik Pelipurlara :p), Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Agenda ketiga, sengaja kami berpetualang untuk mencari bahan posting ….. hihihihihihihihi. Gak ding, agenda utama tetap njagong. Tapi karena hobi dolan dan foto-foto kami, agenda utama seolah tergeser ke posisi runner up.
Pukul 06.30, kami berangkat. Baru setengah jam berjalan, ada sedikit insiden. Kaki Silver lecet, sehingga perlu dibawa ke tukang tapal kuda. (baca: ban belakang sepeda Arnanto bocor. Jadi perlu ditambal dulu). Yo wis, gak papa, malah jadi ada waktu untuk mengisi perut dengan lupis dan brontol jagung yang dibawa Lik Calamity Jane. (Cowboy dan indian kok makannya lupis and brontol jagung. Jan, ra keren tenan).
Lepas menambal ban, perjalanan berlanjut. Untuk menyingkat waktu perjalanan dan menghindari kendaraan-kendaraan besar yang biasa ngasak di sepanjang jalur pantai selatan, kami memilih lewat jalan sepi yang saya sebut Daendels fuckin’ Road (keterangan soal Jalan Daendels, silakan klik di blognya Winnetou). Sebuah jalan yang awalnya mulus dan menyenangkan dilewati, tapi kemudian berubah menjadi ”bencana” buat teman-teman yang sakit perut. Jalannya nggronjal, mengguncang-guncang tubuh, ngrekasakno awak. Si Winnetou aja sampe sambat ”Wetengku dadi tambah loro,” kata dia, gara-gara kondisi jalannya nggronjal-nggronjal ra keruan. Untung isi perutnya tidak keluar …. hekekekekekekeke. Meski kondisi jalannya menyiksa kuda besi kami serta penunggangnya, tapi tetap saja, foto-foto jalan terus.
Siang, rombongan sampai di Gombong. Baru separo perjalanan. Kami mampir di sebuah saloon dulu, untuk melepas dahaga dan mengisi perut. Setelah itu, pengelana Wild West melanjutkan perjalanan, melewati daerah Waduk Sempor. Dan …….. well, naluri narsis kami terusik saat melihat keelokan pemandangan di Waduk Sempor. Yeah, kami memutuskan berhenti, untuk …….. yup, foto-foto dan menikmati salah satu pesona alam yang ditawarkan dunia Wild West.
Puas di Waduk Sempor, kuda besi kami berjalan lagi, menyusuri jalan sempit di perbukitan wilayah Waduk Sempor, membelah hutan yang masih perawan *hasyah*. Jalan yang menanjak sempat membuat kuda besi yang kami tunggangi menggeh-menggeh, krenggosan.
Setelah beberapa lama berjuang memperawani hutan, bertemu dengan singa, beruang, serigala dan beberapa kali peperangan dengan suku-suku liar penghuni hutan Lembah Sempor dengan panah, tongkat api (senapan) dan pistol (tentu saja, kami memenangkan pertarungan), kami akhirnya bertemu lagi dengan peradaban. Yeah, jalur Banjarnegara-Purbalingga sudah di depan mata. Jolly Jumper, Silver, dan Si Black langsung dipacu oleh Lucky Luke, Lone Ranger, dan Old Shatterhand.
Sekitar pukul 13.00, yuuuhhhhhuuuuuuu …… gapura Selamat Datang di Kabupaten Purbalingga kami lewati. Akhirnya, kami sampai. Bahagia, karena bokong ini sudah panas dari tadi duduk di atas pelana kuda. Tujuan kedua petualangan – njagong – sudah di depan mata.
Tapi, ternyata perjalanan masih 80 km™ lagi saudara-saudara. Setelah bertanya pada beberapa orang yang jawaban beberapa di antaranya mencla-mencle, ra konsisten, dan bikin dongkol, akhirnya diperoleh jawaban, fix kurang 80 km. Wild West memang ganas. Kalo kami nggak sabar, bukan tidak mungkin ada banyak mulut yang disobek-sobek™ oleh kami, karena ngasih jawaban yang membingungkan.
Tahu daerah tempat Ken dan Foens melangsungkan resepsi pernikahan – yaitu di Desa Belik Pelipurlara – masih 80 km dari Purbalingga, cowboy dan indian perambah Wild West sempat nglokro juga, membayangkan 80 km. ”Sejuta topan badai. Bujubuneng ….. priben kiye, dene isih adon temen? Tapi wis tekan kene, mosok bali maning nang Jogja? Tanggung. Ayo cah, diteruske maning !!!” pikir para cowboy dan indian gadungan ini. Yo wis, 80 km, I’m coming !!!!!
Set dah, ternyata yang 80 km ini juga cukup menyiksa kuda besi kami. Jalannya naik turun juga. Tapi lumayan lah, ada pemandangan yang bisa ditonton. Bukan, pemandangannya bukan gadis Purbalingga yang mandi di kali, tapi ya pemandangan alam. Emang, agak garing, tapi ra popo lah …. hehehehe.
Pukul 14.00, hohohohoho …… sampai kita di tujuan kedua petualangan. Resepsi pernikahan Ken dan Foens masih belum usai. Usai sedikit berdandan di toilet SPBU depan rumahnya Ken yang jadi tempat resepsi, kami masuk ke rumah Ken. Dan bagian pertama petualangan ke Wild West …. berakhir dengan adegan foto-foto, makan sate, makan bakso (hey Winnetou, Lone Ranger, dan Indian Tonto, masih ingat bakso paha™? hehehehehe), es krim, udat-udut dan gojak-gojek. Fyyuuuhhhhh ……….
Setelah melepas lelah di kediaman Ken, pukul 16.00, kami pamit pulang. ”Hati-hati di jalan, nggak usah ngebut. Kalau capek, berhenti dulu. Kalau yang njoki ngantuk, gantian,” pesan bapaknya Ken (wah, sori Ken, saya lupa je sama nama bapak njenengan!).
”Long way home,” pikir saya, membayangkan jalan yang harus ditempuh untuk pulang ke Jogja. Tapi, perjalanan belum berakhir. Kaki-kaku kuda besi kami kembali menapaki tanah prairie, menuju ke timur. 80 km dari Belik Pelipurlara menuju Purbalingga terasa cepat, karena jalannya menurun. Setelah menikmati sejenak suasana kota Purbalingga, kami kebut lagi kuda besi kami, di atas jalan Purbalingga-Banjarnegara.
Kami memutuskan pulang ke Jogja lewat jalur selatan lagi, tapi tidak lewat Daendels fuckin’ Road. Kami lewat lembah Sempor lagi, kembali lewat hutan yang siang sebelumnya kami perawani (hehehehehe …. ), lalu terus ke Gombong dan menuju Kebumen, Purworejo dan Jogja.
Nah, di Kutoarjo, menjelang Purworejo, terjadi insiden lagi. Si Black ngambek. Lampu depan mati, padahal jalanan gelap. Bisa cilaka dua belas, kalo nekat berjalan tanpa lampu. Berhenti di pinggir jalan, Old Shatterhand berusaha membetulkan lampu. Indian Tonto – yang sudah jauh di depan – dihubungi, agar mau kembali menolong Old Shatterhand dan Winnetou.
Setelah utak-atik sebentar, eureka ….. lampu Si Black kembali hidup. Tapi di tengah kegembiraan karena lampu hidup lagi, Indian Tonto – yang dihubungi kembali – malah ngasih kabar, kalau dia bersama Lone Ranger jatuh. Waks ………….
Bergegas, Old Shatterhand dan Winnetou menyusul Lone Ranger dan Indian Tonto. Eh, di perjalanan, lampu mati lagi. Yo wis, nekat. Di tengah perhalanan, Lucky Luke mengontak Winnetou, kalau kami ditunggu di Saloon Bayan (baca: SPBU Bayan).
Sampai di Saloon Bayan, Indian Tonto sedang merawat luka di tangannya. Badan Silver mbeset-mbeset, akibat kena aspal. Calamity Jane yang kecapekan, tepar di musala. Old Shatterhand akhirnya membetulkan lampu Si Black dulu.
Kelar. Perjalanan masih panjang. Lanjut ……. Menyusuri pekatnya malam, kami beriringan mengendarai Jolly Jumper, Silver dan Si Black, sambil menahan lelah dan capek, juga kantuk. Sempat mampir di sebuah saloon yang entah ada di daerah mana untuk istirahat sejenak, perjalanan yang tinggal sejengkal harus kami tempuh dan teruskan lagi.
Dengan semangat 45, kuda besi kami pacu lagi. Menjelang pukul 01.00 dinihari, kami masuk wilayah Jogja. Huuuaaaaahhhhhhhhhhhhh ……… akhirnya sampai. Petualangan sekitar 19 jam menuju Wild West, berakhir. Capek, tapi menyenangkan. Lelah, tapi mengesankan. Yang gak ikut, ditanggung rugi. Kalau nggak merasa rugi, wooooo ………. tak sobek-sobek mulutmu™ !!!!
Note:
- posting bertema sama dengan lebih banyak foto-foto, silakan klik blog.matriphe.com
- posting bertema sama dengan beberapa foto terkait juga bisa di klik di thestoopid.fluxide.com
-foto yang terpasang di blog ini, saya colong tanpa bilang (lha wong maling masa mau nyolong mesti ngomong dulu?) dari blog.matriphe.com.
- kesamaan nama tokoh dalam artikel ini dengan tokoh-t0koh dalam komik Lucky Luke, novel Winnetou dan film kartun The Lone Rangers, memang disengaja.




pertamax hehehe…weh ceritane dowo timen..ning asik banget ya kan
Comment by unai — November 22, 2006 @ 6:14 am
waduhh.. ada acara makan baksonya segala, bikin ngiler aja bro. hehe…
Btw, di foto elo kok paling kecil geto seh? :p
Comment by Dewi — November 22, 2006 @ 6:44 am
Bakso? Wuaaaaaaaaaahh, mau mau mauuuuuuuuuu
Comment by Tina — November 22, 2006 @ 8:45 am
piye yen kapan2 dolan dieng…
Comment by wedhouz — November 22, 2006 @ 10:28 am
@wedhouz: la mas irfan itu asli wonosobo je.. wkekek..
jupuken kabeh kang.. nek perlu, taks obek-sobek™ mulutnya. wakakakaka
Comment by zam — November 22, 2006 @ 10:38 am
perjalanan yang melelahkan tur gayeng yooo….saiki usume sobek2an mulut to heheheeheheeee anak buahe tukul arwana
Comment by bodi — November 22, 2006 @ 3:08 pm
seruuuu…seru….jadi pengen berpetualang juga….
Comment by fisto — November 22, 2006 @ 4:51 pm
kedawan… rasabar selak pengen coment jadi leh moco bersambung mengko maneh.
btw nek melepas dahaga dan mengisi perut sekarang kesalon to? ooo reti aku…. tenang mas aku gak protes kok, takut disobek sobek mulutku™
untung fotonya gak terlalu banyak jadi bacanya bisa sampai selesai. trus juga gak terlalu emosi nek gak delok fotone… *emosi mergo pengen*
Comment by say — November 23, 2006 @ 5:00 am
suk-suk melu yo mazzz
Comment by yustin — November 23, 2006 @ 8:02 am
kok ra ono bedil-bedilane kang? jare wild wild west ;p
ups.. sori.. ora keno protes yo..
*wedi di sobek-sobek mulutku™*
Comment by ali — November 23, 2006 @ 8:16 am
ih sampean iku kok saiki dadi kasar seh mas? ndadak nganggo meh nyuwek-nyuwek mulut orang banyak barang ;p
tepar brapa ari tuh abis jalan? opo meneh mari iku isih melanjutkan perjalanan mbalek ng solo hohoho…
Comment by Ash! — November 23, 2006 @ 10:56 am
sayang gak bias ikut..hiks
(
Comment by amma — November 23, 2006 @ 12:13 pm
sayang gak bias ikut..hiks
(
Comment by amma — November 23, 2006 @ 12:15 pm
Wakakaa… piye lampune? rusak maneh ra? nek rusak maneh disobek-sobek™ wae :d
Comment by PriyayiSae — November 24, 2006 @ 9:14 am
Wakakaa… piye lampune? rusak maneh ra? nek rusak maneh disobek-sobek™ wae :d
Comment by PriyayiSae — November 24, 2006 @ 9:20 am
taksobek sobek lo
Comment by chocoluv — November 24, 2006 @ 2:12 pm
eheheh…
*liat komennya monik*
Comment by thestoopid — November 25, 2006 @ 2:27 am
wakakaka…k… do semangat leh posting about purbalingga… untung aku ra melu… kwalitas sperma bisa menurun dunk…
Comment by deep_track — November 25, 2006 @ 10:00 pm
bakso paha? apaan tuh??? *bayangin*
kapan jalan-jalan ke cilacapnya? nginep wis, dijamin servis memuaskan!!!
Comment by reena — November 28, 2006 @ 12:26 pm