Duuuuuullluuuuu sekali, jaman SD sampai SMP dan SMA, setiap tanggal 1 Oktober, saya - juga teman-teman se-Indonesia - selalu diminta ikut upacara Hari Kesaktian Pancasila. Hari untuk memperingati dimana Pancasila tetap sakti, tidak tergeser ideologi komunis. Hari untuk memperingati saat enam jenderal dan satu perwira Angkatan Darat tewas dalam peristiwa yang hingga kini menjadi sejarah kelam negeri ini. Peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia, atau dikenal dengan sebutan G 30 S/PKI.

Duuuuuullluuuuu sekali, jaman SD sampai SMP dan SMA sampai zaman sebelum reformasi bergulir, setiap tanggal 30 September malam, pasti diputar film berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI di televisi. Film yang sama, yang diputar berulang-ulang sampai pemirsanya hafal jalannya cerita. Film dengan backsound adegan yang mencekam, yang dulu saya tonton dengan takut-takut. Waktu SD, tiap kali adegan pembunuhan para jenderal dimulai, saya selalu tidak berani menontonnya.

Kini, 1 Oktober tetap diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Tapi, tidak seperti saat rezim orde baru berkuasa, suasananya sudah jauh berbeda. Saya tidak tahu, apakah masih ada upacara yang digelar untuk memperingati hari dimana para putera bangsa terbaik gugur dalam pengkhianatan yang entah siapa pelakunya, apakah benar PKI atau PKI hanya dijadikan kambing hitam oleh pelaku sebenarnya. Dari tayangan televisi yang saya lihat beberapa hari lalu, masih ada peringatan doa bersama di Monumen Lubang Buaya untuk memperingati hari tersebut.

Oh ya, dalam tulisan ini, saya tidak akan membela siapa-siapa yang terlibat dalam peristiwa itu. Tulisan ini murni berasal dari pertanyaan saya yang berharap mendapat jawaban terang dari tragedi itu.

Pascareformasi, memang banyak orang bersuara tentang peristiwa yang terjadi jauh sebelum saya lahir itu. Pascareformasi, banyak orang yang merasa tidak bersalah tapi disalahkan dalam kasus itu lalu dipenjara bertahun-tahun tanpa pengadilan sebagai tahanan politik, yang berani bersuara. Menyuarakan hal-hal yang selama ini ternyata keliru menurut mereka. Menyuarakan adanya pembengkokan sejarah. Menyuarakan - semoga - kebenaran agar sejarah yang bengkok bisa diluruskan.

Dulu, waktu rezim lama berkuasa, pelajaran sejarah selalu menunjukkan bahwa PKI adalah pelaku dalam peristiwa berdarah 30 September 1965. Pascareformasi, ada yang menyuarakan PKI cuma kambing hitam. Sampai sekarang, misteri seputar peristiwa yang menjadi titik balik revolusi di Indonesia dan berujung 32 tahun rezim orde baru berkuasa, masih gelap. Entah, kapan misteri itu akan terkuak, berada di titik kebenaran, soal siapa pelaku sebenarnya dalam peristiwa itu.

Saya pernah membaca buku tentang kesaksian orang yang pernah dituduh sebagai pengkhianat dalam peristiwa itu. Saya lupa judulnya. Hasilnya, saya tidak mendapat jawaban dari pertanyaan saya. Beberapa hari lalu saya menonton tayangan di televisi tentang orang-orang yang dicabut haknya sebagai warga negara Indonesia dari kasus itu, dan saya tetap bertanya-tanya. Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton teater karya Ratna Sarumpaet, yang bercerita tentang tragedi anak negeri, yang hanya terkena imbas dari apa yang tidak pernah dilakukannya akibat peristiwa kelam 1965 itu. Dan saya tersentuh dengan tragedi pencerabutan hak anak negeri akibat sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Tapi sampai kini, saya masih terus membawa pertanyaan saya yang belum terjawab.

Dari sekian banyak pelajaran sejarah tentang Indonesia, mungkin peristiwa 1965 yang paling rumit. Bisa jadi buku pelajaran sejarah yang sekarang dibaca anak-anak SD, SMP dan SMA tentang peristiwa itu sudah sangat berbeda dengan pelajaran sejarah tentang peristiwa itu yang dulu saya terima. Bisa jadi, sudah sangat berbeda. Atau malah masih sama? Entah.

Yang jelas, saya - dan mungkin jutaan penduduk Indonesia lain - masih menanti jawaban terang dari tragedi itu. Jawaban apa sebenarnya yang terjadi pada hari itu. Apakah memang sama seperti apa yang dulu saya baca di buku pelajaran sejarah, atau sangat berbeda, seperti yang dikatakan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu bahwa ada sejarah yang dibengkokkan.

Katanya, negara yang besar adalah negara yang bisa menghormati sejarahnya.
Tapi kalau sejarahnya dibelokkan? Ya, diluruskan. Dan negara ini akan tetap besar.

* didedikasikan untuk orang-orang tak bersalah yang menjadi korban sejarah