Syahdan, pada Sabtu, 23 September, pendekar kita yang kondang dengan julukan Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo berniat mudik ke ndesonya, yang terletak di kaki gunung Sindoro dan Sumbing, yakni Wonosobo. Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo adalah pengelana kang ouw (dunia persilatan, Red), yang juga mencari nafkah di Kota Solo, mengabdikan ilmu silat yang dimilikinya demi membela kebenaran dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Selepas subuh, dia langsung menenteng tas punggung Tracker, topi lapangan Lorenz, bercelana jeans belel, mengenakan kaos oblong lusuh dan membungkus tubuhnya dengan jaket ijo buluk bau kringet yang sudah lama tak dicuci. Tak lupa, dia mengalasi kakinya dengan sandal gunung Eiger kesayangannya. Segepok shuriken juga dikantonginya, untuk jaga-jaga kalau ada serangan mendadak dari musuh di perjalanan.

Singkat kata singkat cerita, setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam naik awan kintoun jurusan Solo-Semarang turun di Bawen, kuda sembrani jurusan Semarang-Jogja turun di Secang dan disambung numpang permadani terbang jurusan Magelang-Wonosobo, sampailah pendekar kita yang tidak sombong dan baik hati di kota kelahirannya.

Sesampai di rumah yang juga menjadi padepokan tempat dia pertama kali belajar ilmu silat, dia langsung melepas kangen dengan ayah-ibu dan saudara-saudara seperguruannya. Sorenya, pendekar kita ziarah ke makam kakek-nenek dan kakak pertama, yang sudah menghadap Yang Kuasa. Tradisi ziarah yang dilakukan menjelang puasa hari pertama.

Malamnya, pendekar berbudi luhur dan bijak kita bersama sang ibu mengunjungi rumah kakeknya, melepas rindu karena lama tidak bertemu. Setelah itu, dia mengunjungi rumah sepupunya, yang beberapa waktu lalu melahirkan anak pertamanya. Sepupu ini anak bulik si pendekar dan masih tinggal serumah dengan bulik si pendekar.

Yah, kebiasaan si pendekar yang punya ajian andalan Naga Sangar Melempar Upil ini, kalau pulang meski cuma sehari memang selain melepas kangen dengan orang di padepokan, juga dolan ke rumah kakek dan bulik-buliknya.

Setelah beberapa saat di rumah bulik, si pendekar dan ibunya berniat pulang. Nah, saat keluar dari rumah bulik untuk pulang inilah, terjadi tragedi memilukan yang tidak disangka dan dinyana sebelumnya oleh Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo. Sandal gunung Eiger yang sudah berbulan-bulan ini menemaninya mengembara menjelajahi penjuru bumi dari barat-timur-utara-selatan, raib. Dicarinya sandal gunung kesayangannya itu ke penjuru halaman rumah buliknya. Tetap, si sandal tak menampakkan batang hidungnya (emang sandal punya batang hitung?)

“Sandale kok ra ono (sandalku kok gak ada)?” kata Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo sambil celingukan mencari sandalnya.
“Lha mau nang ndi (lha tadi di mana)?” tanya ibu dan bulik bersamaan.
“Wau nggih teng mriki (tadi ya ada di sini),” jawab Si Gondrong, sambil terus berusaha mencari sandalnya.

Setelah beberapa saat mencari sandal yang biasa dicium hidung lawan saat pendekar kita melancarkan jurus Tendangan Tanpa Kekerasan dan sandal gunung itu tak juga ketemu, menyerahlah si pendekar. “Yo wis, durung rejekine (ya sudah, belum rejekiku),” ujar Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo.

Karena alas kakinya hilang, pendekar kita akhirnya pinjam sandal milik suami sepupunya, yang ukurannya dua nomor lebih gede dari ukuran kaki si pendekar. Yah, buat sementara, dipakai sampai di rumah.

Dan, berakhirlah kisah tragis si pendekar, yang setelah pulang ke Solo mau tidak mau harus pergi ke Cartenz lagi, toko adventure equipment, bertapa agar bisa mendapatkan alas kaki yang baru.

Photobucket - Video and Image Hosting “Tahun ini, berarti saya sudah tiga kali membeli sandal gunung. Awal tahun, saya beli sandal gunung model jepit, sebagai pengganti sandal lama yang sudah tak enak dipakai untuk berkelana maupun saat melancarkan tendangan ketika bertarung dengan lawan. Baru sekitar sebulan, sandal itu hilang saat salat Jumat di Masjid Agung Solo. Yah, saya pun beli sandal gunung lagi, dengan model berbeda. Eh, lha kok sandal kedua yang saya beli tahun ini juga ilang lagi. Dan akhirnya, saya beli lagi. Ck ck ck ck …. durung setahun kok tuku sandal nganti ping telu. Mugo-mugo sing saiki awet, ra dicolong maneh (ck ck ck ck …. belum setahun kok beli sandal sampai tiga kali. Moga-moga yang sekarang awet, tidak dicuri lagi),” gumam Si Gondrong dari Gua Gua Elo Elo, sambil ngelus-elus sandal barunya (foto kanan … hehehehe) seraya menatap matahari senja yang menyemburatkan warna jingga di ufuk barat.

Setelah itu, pendekar kita menaiki kuda besinya yang biasa dipanggil Jolly Jumper (walah, ini mah nama kudanya Lucky Luke :p) sambil bersenandung “I’m a poor lonesome cowboy, and a long long way from home” (weh, ini juga lagunya Lucky Luke. Wah, payah, pendekar gak punya lagu sendiri).