Ini bukan resensi untuk buku “Ortu Kenapa, Sih?”, yang biasa disingkat OKS. Jangan salah mengartikan ya, OKS jadi Oesaha Kesehatan Sekolah …. kekekekekeke. Tulisan ini hanya kesan saya pribadi setelah membaca buku karya para penulis yang tergabung di Blogfam. Juga sedikit nostalgia dari friksi yang saya alami dengan bapak ibu … hehehehe. Tapi kalau ada yang mau nyebut tulisan ini resensi, ya monggo.

Photobucket - Video and Image Hosting Rencananya, saat Blogfam menggelar lomba resensi OKS beberapa waktu lalu, saya mau ikut. Tapi akhirnya batal karena satu hal. Dan tulisan ini bolehlah dijadikan pengganti postingan yang dulu mau saya tulis untuk keperluan lomba. Oh ya, gambar cover buku saya download dari http://preview-teenworld.blogspot.com. Saya download tanpa izin, tuh …. hehehehe. Oh ya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih buat Ummi Lili atas kiriman buku ini.

Sekarang, mari masuk ke tulisan utama. Jjjjjjrrrreeeeeennnnnggggggg ………….

Menyusuri halaman demi halaman buku setebal 155 halaman ini, saya seperti diseret ke medio 1990-an, tahun-tahun di mana saya menapaki fase hidup dari bocah ingusan (ingusan dong, kalau sedang pilek !!) menjadi ABG (Aku Bocah Ganteng :D ), serta belajar menjadi dewasa. Masa SMP dan SMA, sampe pertengahan masa kuliah . Ragam konflik dan cerita yang tersaji dalam buku hasil kolaborasi 12 penulis - baik yang sudah melewati masa teenage ataupun yang sedang menapakinya - membuat saya melayang-layang dengan ingatan, ketika saya mengalami konfliki dengan orang tua. Meski konfliknya tidak sama, tapi ada beberapa kemiripan. Saya tuliskan beberapa yang mirip itu.

Kisah pertama berjudul “Aduh … Sakitnya” yang ditulis Lili Lengkana, sedikit mirip. Di situ, Lili dapat tamparan keras dari babenya, gara-gara langsung pergi ikut lomba basket sepulang sekolah, tanpa memberi kabar ke rumahnya kalau dia ikut lomba. Sudah pasti, ortunya bingung. Mana Lili ini anak bungsu, cewek sendiri lagi di keluarganya. “Bujubuneng, ni anak ke mana? Kagak ada kabarnya?” mungkin begitu pikir ortu Lili. Hasilnya, pas dia pulang ke rumah, ….. ppplllllaaaaakkkkkkkkkk, “Sebuah telapak tangan besar mendarat di pipiku,” kenang Lili, tanpa menjelaskan pipi sebelah mana yang kena tampar bapaknya. Kejengkelan bapak Lili ternyata udah sampai puncak, sampai-sampai dia tega menampar anak kesayangannya.

Nah, itu kasus mirip dengan yang saya alami waktu saya kelas 2 SMA. Bedanya, saya nggak ditampar. Samanya, saya langsung main ke rumah teman sehabis pulang sekolah, tanpa memberitahukan ortu di rumah. Pas pulang, saya diantar sama teman-teman dengan muka lemas. Teman-teman bilang, saya masuk angin waktu di rumah teman saya. Ortu tentu bingung. Besoknya, saya dibawa ke dokter. Padahal, kejadian sebenarnya, saya pulang ke rumah dengan keadaan lemas karena waktu main di rumah teman saya, saya diajak main ke sungai dan saya tenggelam di sungai itu … kekekekekekekekeke. Tuh kejadian sampai sekarang masih membekas. Makanya, saya masih trauma kalau lihat air sungai yang tenang, tapi ternyata menghanyutkan …. hehehehehe.

Lanjut …………

Tulisan berjudul Fanz Fanatiz yang ditulis Ryu Tri. Di situ, Ryu menuliskan pengalamannya, dimana Haya - teman Ryu - tergila-gila sama Pas Band (nih, band emang keren abis !!! ). Padahal, Haya tuh cewek. Saking nge-fans-nya sama Pas Band, ortu Haya khawatir. Buntutnya, dia dimarahin ortunya yang khawatir, nilai sekolahnya bakal turun gara-gara dia ngefans sama Pas Band. Haya pun minggat dari rumah. Lalu, bagaimana ending kisah ini? Silakan baca di buku OKS, yak !!!

Nostalgia lagi, aaaahhhh !!! Pas jaman SMP dan SMA, saya juga ngefans berat sama musik hingar bingar. Sampai sekarang juga masih ngefans. Koleksi kaset saya juga musiknya gedubrakan gitu. Waktu itu, kalau denger dangdut, “Bah, musik apa ini! Ndeso!” kata saya. Padahal, saya juga cah ndeso. Nah, pas kelas 3 SMP atua 1 SMA saya lupa persisnya, suatu malam, saya muter musiknya Iron Maiden di tape buluk saya. Seingat saya, lagu yang saya dengar waktu itu Mother Russia, dari album No Prayer For The Dying. Pas lagi asyik nikmati tuh musik, saya ditegur sama kakak saya, untuk ngecilin suara tape karena anaknya - keponakan saya - sudah tidur. Saya kecilkan deh, tuh volume. Rupanya, kakak saya masih merasa, volume musik saya kegedean. Padahal, saya udah ngerasa, tuh volume kekecilan. Kakak saya pun ngadu ke bapak. Dan bapak saya murka. Tape buluk saya ditendang. Dan saya cuma bisa diam sambil dimarahi.

Ibu saya lalu menyuruh saya minta maaf pada bapak malam itu juga. Meski takut, saya langsung minta maaf. Dan saat itu juga, mengalir banyak wejangan dari bapak ibu. Intinya, “Boleh kamu menyetel musik seperti itu. Bapak juga suka musik. Tapi harus lihat situasi. Tidak semua orang suka dengan musik yang kamu dengar.” Maafkan saya, pak !!!

Lanjut …………

Tulisan berjudul Me vs Rokok yang ditulis Iwok, juga bikin saya mesam-mesem dewe pas membacanya. Pikir saya, “Kasihan Iwok, bapaknya keras banget, ngelarang anaknya gak boleh merokok kalau belum dapat penghasilan sendiri.” Hehehehe … padahal, saya juga udah ngerokok jauh sebelum saya bisa cari duit sendiri.

Bapaknya Iwok tentara. Kata Iwok, bapaknya termasuk perokok berat. Dia biasa merokok di depan anak-anaknya. Anak-anaknya yang udah beranjak dewasa, tentu pingin mengisap rokok. Yah, namanya juga cowok. Dan, curi-curi merokok pun dilakukan. Sampai suatu ketika, aksi curi-curi merokok itu ketahuan. Dan bisa ditebak, amarah sang ayah meluap.

Saya beruntung, bapak saya tidak pernah memarahi saya, meski tahu saya merokok. Mungkin bapak saya sudah tahu kalau saya merokok sejak awal saya mulai curi-curi merokok, kelas 2 SMP. Tapi bisa jadi, bapak diam saja. Sampai saya SMA pun, bapak tidak pernah mengatakan, kalau bapak tahu saya merokok. Diam saja. Saya dulu kalau merokok biasanya pas nonton bioskop. Yah, namanya bioskop di kota kecil, nggak ada larangan untuk tidak merokok di dalam gedung. Apalagi ruangannya non AC. Alhasil, saya - sering juga sama teman-teman - menjadikan bioskop tempat yang aman untuk merokok, sambil asyik nonton pilem. Pulang ke rumah, biasanya langsung masuk kamar mandi, mandi, untuk menghilangkan asap rokok yang melekat di tubuh. Pake acara kumur-kumur juga, buat menghilangkan bau asap rokok di mulut. Dah, aman ….

Saya baru berani merokok di rumah, pas udah kuliah entah semester berapa. Dan bapak nggak marah. Ibu juga nggak memarahi. Mereka hanya kasih nasehat, kalau bisa kebiasaan itu dihilangkan. Kalau nggak bisa, ya jangan terlalu banyak merokok. Dan nasehat itu sampai sekarang masih sulit saya laksanakan. Apalagi kalau stres. Waaaaaa …. ngebul terus, kayak kereta …. hehehehehe. Oh ya, sekadar tahu, bapak saya bukan perokok.

Lanjut ………..

Saya rasa cukup deh, nostalgianya. Kalau saya tulis semua, entar malah pada malas baca bukunya. Walau masih ada beberapa kisah lain yang mirip dengan apa yang saya alami di buku OKS ini. Tapi intinya, saya merasa sangat beruntung setelah membaca buku ini. Kenapa? Karena, akibat dari konflik yang saya alami dengan orang tua tidak separah beberapa konflik yang diceritakan para blogger-nya Blogfam di buku yang diterbitkan Penerbit Cinta ini. Saya sangat beruntung, punya bapak ibu yang sangat memahami anak-anaknya. I love you, ibu, bapak !!! And always ……..

Oh ya, buku ini memang ringan, tapi sarat makna (ccciiiieeeehhhhhhhhh….bahasanya !!). Setidaknya bisa jadi bahan belajar buat para teenage agar terhindar dari konflik dengan orang tua. Kalaupun sudah konflik, buku ini bisa jadi salah satu acuan untuk menghentikan konflik. Asli, konflik dengan orang tua itu tidak enak. Jadi, sebisa mungkin, janganlah sampai konflik dengan mereka. Buat yang udah melewati masa teenage, buku ini bisa jadi sarana bernostalgila dengan masa lalu, atau jadi bahan untuk mendidik anaknya yang udah mulai gede. Setidaknya, menurut saya, buku ini juga bisa menjadi cermin dari apa yang pembacanya lakukan di masa-masa konflik dengan orang tua, untuk berkaca, agar nantinya tidak terjadi lagi konflik dengan orang yang telah merawat dan membesarkan kita.

Buku ini tidak wajib dibeli, tapi Anda sangat tidak dilarang untuk memasukkan buku ini dalam daftar buku yang akan Anda tebus di toko buku. Buku ini juga tidak wajib dibaca, tapi sangat baik kalau Anda tidak melewatkan tulisan demi tulisan di buku ini untuk dibaca. :p

Akhirnya, selamat membaca !!!