Ya Allah, ampuni segala dosanya
Terimalah segala amal ibadahnya
Tempatkan Mbak Inung di surga-Mu
Amin ……….

(sepenggal doa untuk Mbak Inung)
———–

17 Agustus 2006
Hari itu, sejak sekitar pukul 09.00, saya sudah disibukkan dengan persiapan lomba panjat pinang yang digelar kantor saya bersama salah satu produk rokok sebagai sponsornya. Saya kebagian tugas di Lapangan Penumping, Solo, bersama beberapa rekan.

Sampai sekitar pukul 10.00, HP saya berdering. “Kok nomornya tak dikenal?” pikir saya, melihat deretan angka nomor telepon yang memanggil saya, yang tertera di layar HP. Lalu saya terima panggilan itu. Ternyata dari Mas Ambar, kakak ipar saya. Dia meminta saya pulang ke Wonosobo hari itu juga, karena istrinya - Mbak Inung, kakak pertama saya - kritis dan masuk rumah sakit lagi.

Norma Hidayah atau biasa kami panggil Mbak Inung - usianya 37 tahun - lebih dari dua bulan ini menderita stroke. Lebih dari setahun silam, dia harus menjalani operasi karena kanker payudara. Setelah itu, dia menjalani kemoterapi dan terapi penyinaran, sampai rambutnya habis dan tubuhnya kurus.

Beberapa bulan lalu, terapinya usai. Tapi sekitar akhir Mei silam, dia masuk rumah sakit lagi. Dokter mendiagnosa, dia terkena liver. Pada hari ketiga di rumah sakit, Mbak Inung terserang stroke. Badan sebelah kanannya tak bisa digerakkan. Ia juga tak bisa bicara. Dari pemeriksaan dokter, ternyata kankernya sudah menyebar dan menyumbat beberapa syaraf.

Hampir dua bulan kemudian, hari-harinya dihabiskan di rumah sakit, terbaring di tempat tidur, tak bisa bicara. Sampai kemudian, dokter memperbolehkan Mbak Inung dibawa pulang ke rumah.

Dua pekan lebih Mbak Inung dirawat di rumah. Sampai pada 16 Agustus malam, dia mulai sesak napas. Bapak dan Mas Ambar kemudian berembug dan memutuskan membawa Mbak Inung ke rumah sakit.

17 Agustus 2006
Sekitar pukul 12.00, saya berangkat pulang ke Wonosobo dengan naik sepeda motor. Rencana memosting karya-karya untuk mengikuti lombanya Blogfam dalam even 17 Agustus saya batalkan.

Pukul 15.30-an, saya sampai di Wonosobo dan langsung menuju rumah sakit. Saat sampai di kamar tempat kakak saya dirawat, bapak-ibu, kakak-adik, tiga ponakanku dan semua saudara sudah berkumpul. Mbak Inung terbaring di ranjang dengan napas tersengal-sengal. Selepas maghrib, kondisinya sudah makin kritis. Kami yang ada dalam ruangan perawatan hanya bisa berdoa.

“Ya Allah, jika memang ini sudah jadi kehendak-Mu, ringankan penderitaan Mbak Inung. Tapi jika kami masih diberi kepercayaan untuk merawat Mbak Inung, sembuhkan penyakitnya.”

Ternyata, Allah memang menghendaki yang terbaik buat Mbak Inung. Perjuangannya melawan penyakit usai. Mbak Inung sudah sembuh. Sekitar pukul 20.10, kakak pertama saya, berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Insya Allah, Mbak Inung khusnul khotimah. Akhir yang baik.

18 Agustus 2006
Selepas sholat Jumat, Mbak Inung dimakamkan. Pertarungannya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya sudah usai. Allah memenangkan Mbak Inung dalam pertarungan itu.

Ya Allah, ampuni segala dosanya
Terimalah segala amal ibadahnya
Tempatkan Mbak Inung di surga-Mu
Amin………

Buat Mas Ambar : Tabah ya, Mas !!! Semoga ini yang terbaik buat Mbak Inung. Insya Allah ada hikmah yang bisa kita petik !!!
Buat Iyang dan Ocha : Jangan nakal, ya !!! Doakan ibu. Karena doa anak yang solekhah adalah amal yang tidak terputus bagi orang tuanya !!!