“Besides being a guitar player, I’m a big fan of the guitar. I love that damn instrument.”

Steve Vai
————

(kelanjutan dari postingan berjudul Intro)

Photobucket - Video and Image Hosting Body :
Mahogany

Neck:
Mangir wood
24 fret neck with rosewood fretboard
Mother of Pearl bird inlays

Hardware:
Up Down Tremolo under licensed by Floyd Rose
Locking Nut System
Silver hardware

Electronics:
Two humbucker pick up - bright distortion character - by Duncan Designed
Two volume control
One tone control

Finishes:
Natural

Sudah sebulan lebih, saya punya mainan baru. Mainan yang saya idamkan untuk dimainkan sejak lama sekali. Tapi baru terealisasi sekarang. Yup, gitar listrik, atau disebut juga gitar elektrik, atau electric guitar kalau disebut dengan boso londo.

Biar keren dan seperti gitar-gitar bagus buatan pabrik terkenal yang dibuat untuk gitaris terkenal, saya sebut gitar saya ini Sentana Custom Made for Irf … hehehehe. Sentana itu nama home industry milik teman saya, dimana saya memesan gitar ini. Banyak musisi ternama yang membuat gitar di Sentana. Disebut custom, karena memang gitar ini spesifikasinya dibuat sesuai keinginan saya, meski tidak 100 persen. Nah, Made for Irf, itu karena gitar ini memang dibuat khusus untuk saya. Tapi biar lidah gak kelibet-libet nyebutnya, saya lebih senang menyebut gitar saya dengan Irf Custom.

Kok mirip banget dengan gitar buatan PRS (Paul Reed Smith)? Yup, gak salah, karena basic model Irf Gustom memang gitar PRS, tepatnya PRS Dave Navarro Signature Models, atau gitar yang didesain dan dibuat sesuai spesifikasi yang diinginkan Dave Navarro. Makanya disebut signature models. Sekadar tahu, Dave Navarro sempat memperkuat Red Hot Chili Peppers, saat gitaris John Frusciante keluar. Sekarang, selain solo karir, dia memperkuat Jane’s Addiction.

Bedanya, kalau yang asli PRS Dave Navarro Signature Models bodinya dicat putih, kalau Irf Custom tidak dicat dengan warna apapun. Jadi cuma divernis, terus ditimpa sama sejenis cat bening (namanya gak tau) biar kinclong. Saya memang sengaja tidak meminta bodi Irf Custom dicat, biar corak serat kayunya kelihatan. I love corak serat kayu …. :p

Proses pembuatan Irf Custom molor. Janji sebulan selesai, ternyata molor sampai dua bulan lebih. Tapi hasil akhirnya, saya puas.

Sebelumnya, hampir delapan tahun, saya hanya sering membayangkan asyiknya memainkan gitar elektrik. Ya, soalnya di rumah saya punyanya gitar akustik. Kalaupun pernah memainkan gitar listrik, itu hanya beberapa saat ketika dulu iseng nge-band di studio musik bareng teman-teman waktu masih kuliah. Paling hanya beberapa menit, karena di studio, saya lebih sering gedubrakan di belakang drum….hehehehe. Sekarang saya bisa puas-puasin main gitar elektrik. Meski secara garis besar mainnya gak jauh beda sama gitar akustik, tapi ada beberapa hal yang hanya bisa dimainkan dengan gitar elektrik. Kalaupun bisa dilakukan dengan gitar akustik, tetap tidak bisa maksimal.

Nah, meski sekarang sudah ada Irf Custom, bukan serta merta saya melupakan gitar akustik saya. Tetap, si akustik - yang juga custom - saya mainkan. Sekadar tahu, si akustik ini saya pesan di salah satu perajin gitar di Solo - saya gak tau nama home industry-nya - pada akhir 2003 lalu. Saya tidak tahu, kayu apa yang dipakai untuk membuat si akustik. Dulu nggak tanya. Custom, karena saya juga cerewet ketika memesan si akustik. Saya minta bagian A dibikin seperti ini, bagian B seperti itu, bagian C seperti ini, yang D seperti itu, dan seterusnya dan seterusnya. Basic modelnya dari Gibson Les Paul Black Beauty, tapi finishingnya saya minta dicat sunburst. Karakter neck-nya juga pas di tangan. Gitar yang saya pegang di gambar header itu adalah si akustik.

Oh ya, Irf Custom ini gitar ke empat yang pernah saya miliki. Lalu si akustik adalah gitar ketiga. Gitar kedua - akustik, juga pesan - sudah beralih tangan ke teman adik saya, karena saya kecewa dengan hasil akhirnya. Teman adik saya naksir dengan gitar kedua saya dan dibarter dengan speaker aktif….hehehehehe. Lalu gitar pertama saya - akustik, yang juga pesan, home industry-nya sama dengan tempat pesan si akustik ketiga - juga sudah beralih tangan ke teman adik saya. Gitar pertama itu saya jual waktu saya diterima kerja, dan waktu itu butuh duit tambahan buat beli hand phone. hehehehehe….

Sekarang, saya lagi pingin beli amplifier kecil buat teman memainkan Irf Custom. Tapi entar lah, kalau ada duit lebih. Sekarang, sementara saya mengalihfungsikan tape compo saya dulu sebagai ampli. Kalau efek, ada lah, meski bukan yang bagus dan harganya murah. Tapi lumayan, buat sekadar memekakkan telinga orang dengan suara distorsinya …… juuga noise-nya yang gak enak banget di telinga …. hihihihihihi.