Sudah sepekan lebih, gempa berkekuatan 5,9 skala richter yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di Daerah Istimewa Jogjakarta dan Jawa Tengah berlalu. Namun, kepedihan akibat ditinggalkan saudara dan kehilangan harta benda belumlah hilang. Tapi, hidup terus berjalan. Mereka yang selamat haruslah meneruskan hidup. Karena, orang pemberani adalah orang yang berani menghadapi hidup. Sementara untuk mereka yang sudah mendahului, semoga mendapat tempat yang layak di sisi Gusti Allah, diterima semua amal ibadahnya. Amin.
Postingan ini mungkin sangat terlambat. Maaf, karena memang baru sempat posting hari ini. Beberapa hari lalu tidak sempat, karena meski tidak tiap hari, wira-wiri Solo-Klaten - menuju daerah gempa, menyerap informasi yang mungkin tidak bisa membantu banyak masyarakat yang jadi korban - cukup menguras tenaga.
Oh ya, mohon maaf sebelumnya, untuk tidak meng-copy paste foto-foto berikut, yang diambil dua rekan fotografer saya - Anwar Mustafa dan Ichwan Prihantoro - dan saya sendiri - Irfan Salafudin - di lokasi bencana. Semoga bermanfaat ….
Foto oleh Irfan Salafudin, diambil di daerah Kecamatan Gantiwarno, Klaten, salah satu daerah terparah kerusakannya, Selasa, 28 Mei.
Pemandangan ini banyak sekali terlihat di sepanjang jalan di lokasi bencana. Tidak pernah terbersit setitik pun di benak ibu ini, juga ibu, bapak, kakek, nenek atau bocah-bocah cilik yang menjadi korban gempa, kalau harus mengacungkan tangan berharap kemurahan dari dermawan yang lewat, untuk mendapatkan bantuan. Miris sekali melihatnya. Foto oleh Anwar Mustafa.
Anwar Mustafa, memberi judul pada foto di atas “Bumi Pengungsian”. Pemandangan yang kini banyak terlihat di daerah korban gempa. Rumah yang rata dengan tanah membuat mereka - yang kini tinggal di tenda - tak bisa berteduh dengan nyaman jika terik membakar dan hujan mengguyur. Entah, sampai kapan mereka akan tinggal di tenda-tenda. Semoga, bantuan pemerintah untuk membantu mereka yang kehilangan rumah segera cair.
Ini adalah tulisan yang dipasang para korban gempa, akibat banyaknya “wisatawan bencana” yang datang ke lokasi, hanya untuk melihat kerusakan yang terjadi. Jalan menuju lokasi bencana - yang notabene tak terlalu lebar - pascagempa memang dipadati kendaraan. Entah itu kendaraan yang mengangkut bantuan, kendaraan pengangkut relawan, atau kendaraan para “turis bencana”. Yang disebut terakhir, bisa jadi jumlahnya lebih banyak. Sungguh, sepanjang jalan, saya jadi sering berprasangka buruk jika melihat orang naik motor atau mobil hanya mengangkut orang, tanpa mengangkut logistik atau bantuan yang dibutuhkan. Ngapain mereka hanya melihat? Bikin padat jalan saja. Astaghfirullah….semoga prasangka saya tak terbukti, dan mereka semua yang datang ke lokasi bencana benar-benar datang untuk bersimpati dan mengulurkan tangan membantu sesama yang sedang kesusahan. Foto oleh Anwar Mustafa.
Suasana di Pasar Cawas - daerah yang cukup parah kerusakannya - pada Jumat, 2 Mei. Perekonomian mulai menggeliat. Beberapa pedagang - yang berjulan di tengah puing - mengaku, meski rumah mereka rusak, tapi mereka harus berjualan. “Kalau tidak jualan, saya dapat penghasilan dari mana? Ya, hasilnya lumayan untuk tambah-tambah beli paku untuk memperbaiki rumah,” tutur salah satu pedagang yang mengaku, rumahnya juga rusak parah akibat gempa. Foto oleh Irfan Salafudin.
Prambanan, serta candi-candi di sekitarnya - Candi Plaosan, Candi Sijiwan, Candi Sewu dan beberapa lainnya - tak luput menjadi korban gempa. Candi Hindu - yang lekat dengan cerita Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso - ini beberapa bagiannya ambrol. Butuh waktu dan biaya banyak untuk merekonstruksi peninggalan bersejarah ini, agar bisa terlihat cantik seperti semula. Foto oleh Ichwan Prihantoro.
Masih banyak sekali foto-foto yang tentu tidak bisa saya posting di sini.
Kini, para korban gempa berharap banyak pada pemerintah agar bisa membantu mereka memperbaiki rumah yang mereka yang rusak. Kabar terakhir, bantuan yang mereka butuhkan kini berupa bahan bangunan dan alat-alat pertukangan.
Yang jelas, solidaritas untuk membantu mereka yang jadi korban gempa masih sangat dibutuhkan. Kita berdoa saja, semoga mereka tetap tabah dan sabar menerima cobaan ini. Amin ….
— tulisan di bawah ini hanya ungkapan opini saya, yang muncul saat dalam perjalanan menuju dan dari lokasi gempa. dimuat di JP Raso edisi 30 Mei. mohon beri tanggapan jika berkenan. nuwun —
Solidaritas, Tak Pernah Mati
Solidaritas. Kata itu selalu muncul dan menjelma menjadi ujud yang nyata dalam tindakan dan perbuatan, jika ada rekan, saudara, sahabat, atau keluarga, yang tertimpa musibah. (Semoga) Tanpa pamrih, kata itu diujudkan menjadi hal yang dimaksudkan untuk meringankan mereka yang sedang kesusahan.
Dan itu yang terlihat, pasca gempa tektonik meluluhlantakkan beberapa wilayah Jateng dan DIJ. Solidaritas itu mencuat. Tanpa ba bi bu, tangan diulurkan untuk membantu korban gempa yang kehilangan sanak saudara, juga hartanya. Tanpa banyak cing cong, orang langsung berbuat sesuatu untuk meringankan beban mereka yang menjadi korban gempa.
Tidak perlu disuruh, relawan langsung terjun ke daerah yang menjadi korban gempa, bekerja tanpa pamrih mengevakuasi dan membantu korban gempa yang selamat. Tidak harus diminta, orang beramai-ramai mengumpulkan dan menyalurkan bantuan ke daerah korban gempa. Tidak harus dipaksa, orang rela mengumpulkan dana dari para dermawan, untuk nantinya disalurkan kepada korban gempa.
Kemarin, saya menyusuri ruas jalan Solo-Jogja. Di Klaten Selatan, saya menjumpai orang-orang yang berusaha mengumpulkan dana di tepi jalan, berharap uluran tangan dari dermawan pengguna jalan. Tak sekali dua kali pula, saya berpapasan dengan mobil yang mengangkut bantuan - entah itu berupa makanan, selimut, atau apapun yang dibutuhkan korban gempa - untuk disalurkan.
Saya berbincang dengan kawan seperjalanan saya. Kawan saya itu bertanya melontarkan kalimat dengan nada bertanya. “Apakah solidaritas bangsa ini hanya muncul jika ada musibah?” kata kawan saya, setelah melihat beragam pemandangan yang memperlihatkan bentuk solidaritas itu.
Kawan saya lalu mencontohkan tentang solidaritas nasional - bahkan internasional - yang muncul saat bencana tsunami melanda Bumi Serambi Mekah pada 2004 lalu. Saat itu, solidaritas seakan mengalir di pembuluh darah seluruh penduduk negeri ini. Tapi setelah lewat beberapa waktu, solidaritas itu seolah luntur. Kawan saya itu masih mencontohkan beberapa peristiwa lain yang membangkitkan semangat solidaritas bersama, tapi kemudian luntur lagi.
Dan kini, bencana gempa di Klaten, Sukoharjo, Bantul, Jogja, Sleman, Kulonprogo dan beberapa daerah lain kembali menghidupkan bara solidaritas itu. Bara yang sebelumnya mungkin meredup, atau bahkan mati?
Saya yang mendengar pernyataan kawan saya itu hanya bisa berkata dalam hati, “Solidaritas itu saya yakin tetap ada. Pun sebelum terjadinya bencana. Saya yakin, bara solidaritas itu tetap ada. Tak pernah mati di hati penduduk negeri ini.”
Saya yakin, solidaritas itu tidak muncul hanya pada saat republik ini diguncang tragedi. Saya yakin, solidaritas itu tidak muncul hanya pada saat Indonesia kita ini sedang berduka. Hanya saja, dalam situasi biasa, bisa jadi bentuk solidaritas itu tak terlihat, sehingga terkesan menghilang. Padahal tidak.
Saat ini, orang bisa menyaksikan kembali parade solidaritas yang diperlihatkan penduduk negeri ini, untuk meringankan beban korban gempa. Parade indah, yang memperlihatkan bahwa solidaritas - kebersamaan - tak pernah mati di negeri ini.
Semoga, mereka yang tanpa pamrih berpeluh lelah terjun di daerah gempa, akan mendapat ganjaran dari Gusti Allah, karena tak pernah lelah memelihara solidaritasnya di nurani mereka. Semoga, keringantanganan mereka membantu sesamanya akan melapangkan kesesakan dada saudaranya yang sedang nestapa. Semoga.
Irfan Salafudin










hmm ya, solidaritas bangsa lebih terasa jika ada bencana, mungkin karena lebih terekspos saja..mungkin..semoga saja
photonya keren euy….
Comment by vaye — June 5, 2006 @ 2:25 am
wah potomu bagus bgt mas, aku pengen bikin poto yang “bisa bicara” kaya gini…tapi aku kalo moto doang, ga tegaan mas…mungkin bukan jiwa fotografer kali yah..
sedikit setuju dengan waye, solidaritas muncul karena adanya gugahan dalam hati supaya bertindak atas peristiwa. solidaritas (kadang) muncul atas suatu rasa kasihan/bela sungkawa (maaf).
Comment by thestoopid — June 5, 2006 @ 5:12 am
Duh..gw seidh liat foto ibu2 yg menadahkan tangan dipinggir jalan. Elo bener Fan, yg gw tau orang jawa itu ulet dan pekerja keras, udah nenek2 dan kakek2 sekalipun mereka pantang mengemis, tp tetep bekerja dgn semangat.
Solidaritas? pasti adalah, gak mungkin mati dan luntur. Cuman, dalam special case kayak ginilah baru keliatan. Masih banyak kok orang2 yg punya hati nurani. yahh..semoga Tuhan membalas segala kebaikan mereka yg berjerih lelah tanpa pamrih utk saudar2 kita yg lagi kesusahan.
Comment by dewi — June 5, 2006 @ 5:26 am
alhamdulilah aku apik2 wae kang …. potone apik2 ada pesan yang tersirat disitu. salut buat relawan2 gempa jogja dan jateng…..
Comment by bodi — June 5, 2006 @ 5:27 am
He eh emang miris kalo ngeliat langsung pas beberapa jam pascabencana. Wajah2 bingung, sedih, kalut ampe susah bedainnya.
Gw di rumah yaa..kalo pagi ada.. sebelum jam 10-11 gito.. tp itu pan jam lo molor
Yah lu anter aja kapan2..hehehe thanks yak. jano kiy sing meh nyilih sopo to? kok sing duwe sing repot ..hahahaha thanks Fan…….
Comment by indi — June 5, 2006 @ 6:28 am
Setuju, solidaritas tidak hanya muncul pada saat bencana. Ada beberapa cerita anak2 indo yang kuliah yang solidaritasnya tinggi dalam membantu teman2nya disini, selain cerita2 anak2 pejabat atau pegawai negri yg bersikap borjuis.
Saya baru balik ke Solo Januari yang lalu, cuma 10 hari di Solo karena ke Jakarta selama 2 minggu. Tapi 10 hari itu cukup buat makan2 nasi liwet, timlo dan soto2. Pas di Jakarta saya lihat ada mobil yang hendak memutar keluar jalan layang tapi melambat sebentar dan menurunkan kaca jendela lalu memberikan baju dan makanan ke orang2 yg tinggal di bawah jembatan layang itu. Ga sempat ambil foto karena kejadiannya cepat, tapi itu bukti solidaritas ada dimana2.
BTW dulu memang buat blogger kasi komen saja karena saya ga mau ada spam, lalu dibuka ketika blogger menyediakan layanan buat memasukan angka dan huruf mencegah spam.
Salam kenal ya Irf.
Wonosobo ga jauh dari Solo kan? Maklum geografi saya jelek sewaktu SMU dan ga pernah jalan2 keluar kota selain Pekalongan, semarang, jogya, dan Jakarta. Bandung dan Bali malah belum pernah sama sekali.
Comment by Lili — June 5, 2006 @ 9:38 am
kayaknya bkn 5,9 deh… 6,3 kalo mnurut USGS,
tapi bener tu… pascagempa saya jadi lebih kenal ma tetangga2 saya
Comment by chocoluv — June 5, 2006 @ 9:59 am
solidaritas lebih menemukan perwujudannya ketika terjadi dalam lintas perbedaan (suku, ras, agama, golongan)
dan memang semoga bangsa kita tidak butuh gempa untuk hanya menyembulkan solidaritas ……….
Comment by johan — June 5, 2006 @ 10:00 am
eh, kemaren fotonya ichwan salah ditulis ichwanuddin
Comment by Imponk — June 5, 2006 @ 5:38 pm
hmmff… smoga segera membaik..
Comment by mysyam — June 6, 2006 @ 1:33 am
kita liat aja kang.. bangsa kita ini kan sifatnya “hangat-hangat bubur ayam”.. awalnya aja semangat, akhirnya letoy..
oya, doakan semoga kami bisa terus memberikan bantuan kepada sodar-sodara kita di lokasi bencana.
they still need us!
Comment by zam — June 6, 2006 @ 3:15 am
yah, ada pasang ada surut. semoga solidaritas itu bukan hanya pas ada bencana aja …
sedih rasanya ngeliat bangsa sendiri saling bertikai!! meh ngopo jane wong-wong kuwi!!!
mas irf, karena satu & lain hal, aku ga bisa ke solo. sorry ga bisa ngabarin. pulsa sekarat sampai bulan juli … T_T … (budget dialihin ke hal-hal yg lbh penting. harap maklum)
trus kemaren, aku sakit lagi!!!
huhuyyyy, molor seharian … hekekeke
pinggang belakang sakit gara2 infeksi saluran kencingnya kumat, maag, flu … hiks … akeh men …
senin absen dari kantor …
saiki wis mendingan. wis neng pak dokter. (hihihi … sorry, males buka imel)
saiki wis neng ngarep komputer maneh. jejerku botol air mineral lengkap dengan sedotan putihnya …
ayo minum air putih yang banyaaaaaak!!!!!
Comment by reena — June 6, 2006 @ 4:26 am
btw, nice shoot.
aku sedih, prambanan ikut hancur. aku belom sempet nonton sendratari ramayana di bawah sinar bulan purnama … semoga ga lama mbenerinnya …
salam buat mas anwar …
Comment by reena — June 6, 2006 @ 4:32 am
suwe aku gak mrene yo le..kangen juga sama tulisanmu..piye kabarmu le? ndi laguku? ndi ceritamu..hayooo akeh utangmu le
Comment by unai — June 6, 2006 @ 10:16 am
Turut berduka cita kang mas, mudah-mudahan Gusti 4JJI memberikan kelapangan sabar dan membuka mata hati kita semua.Amin
Comment by jesie — June 6, 2006 @ 11:18 am
nice shot! foto pasarnya bagus sekali. benar-benar potret akar rumput yang ulet dan tahan banting.
Comment by ika — June 6, 2006 @ 3:32 pm
Fan maaf, tanpa izinmu aku bikin artikel dan aku selipin namamu di edisi BZ Magzine bulan Juni 2006.
Kejutan..he.he..
mampir ke
http://bz.blogfam.com/bzsuara/lakilaki_dan_blog_1/
Comment by Lili — June 7, 2006 @ 5:50 am
SETUJU!!!! hummmmp…. ternyuuuuhhh pas mengunjungi mereka, melihat, dan turut andil ke daerah selatan dan klaten. persis bgt ma apa yg ada di photo2mu ituh, bahkan ada yang lebih parah. pas bagi2in makanan instan, makanan siap jadi& pakaian +tenda juga selimut, mereka ampe rebutan gituh! hix… semoga apa yang pernah aku dan temen2 perbuat untuk mereka dalam beberapa hari kmr dan ampe detik ini bisa sedikit ngebantu mereka. dan kepedihan mereka karna kehilangan semoga bisa tergantikan suatu saat nanti oleh suatu kebahagiaan yang diberikan oleh Tuhan. Amin amin amin…. “AYO BANGKIT LAGI ‘TEMAN-TEMAN’!!! SEMANGATLAH BERTAHAN HIDUP KARNA HIDUPMU TAKKAN SIA-SIA BILA KAU TERUS BERUSAHA DENGAN seBAIK DAN seJUJUR MUNGKIN!!!” GBU all..
Comment by sash — June 8, 2006 @ 4:39 am
emang gak mati mas!
dan gak akan pernah!!
Comment by Ash! — June 8, 2006 @ 7:01 am
sedih banget liat ibu2 n anak2 yg musti minta2 di pinggir jalan…. syukur deh bantuan mulai merata… Solidaritas? tetap ada koq
Comment by ranids — June 8, 2006 @ 9:51 am
Ikut prihatin bangettt… Sedih lihat foto yang ada tulisan “Ooo.. cuma mau lihat? Makasih”. Kata temen saya memang banyak ya yang menjadikan daerah bencana sebagai tujuan ‘wisata’.. tegaaa..
Comment by JaF — June 8, 2006 @ 2:14 pm
amin. Mas, disini aku baru baca majalah yg ngupas tuntas masalah gempa Yogja, duh, lihat Prambanan, lihat rumah2 runtuh, sedihhhh.. Ko bencana ga ilang2 yaa? Semoga cepet pulih lagi kondisi Yogja.. Ikut berduka ..
Comment by Tina — June 9, 2006 @ 3:35 pm
teruskan bumiku tunjuk kan pada semua orang bahwa dirimu sudah tua
Comment by ipal — June 10, 2006 @ 1:47 am
saya percaya, solidaritas selalu ada. tidak perlu ada ‘liputan’ untuk memberitakan dan memberitahukan sebuah ’solidaritas’…
turut prihatin.
Comment by sa — June 13, 2006 @ 10:34 am
sedih ya fan, liat kotaku jadi begitu. *speechless* deh
Comment by maknyak — June 14, 2006 @ 10:40 pm
aku sedih banget belom bisa pulang nih, fan…i wish i could be there and give some help…walopun mungkin ga seberapa nilainya…
Comment by fisto — June 18, 2006 @ 1:06 am
tolong dimuat foto-foto sekitar pasar cawas, terutama di perempatannya…Terima Kasih banyak semoga ALLAH membalas amal anda
Comment by Reiza — July 25, 2006 @ 8:15 am
ASS,TO POS2/TEMPAT YG KENA BENCANA.GIMANA KBRNYA SEKARANG?MOHON MAAF KALAU SEANDAINYA ADA ANAK PEREMPUAN KIRA2 BERUSIA 14 THN.PABILA MANA MAU DI AKU SBG ANAK SMA SAYA.DAN AGAMA ISLAM TLG BLS CEPAT KRM JWB KE EMAIL.ASAL SYA SUKABUMI AGAMA ISLAM.JANDA UMUR SYA 27 THN PUNYA ANAK 1 LAKI2 UMUR 11 THN.DAN SUAMI SAYA MENINGGAL THN 1997.TLG KLU ADA ANAK YG MAU BLSLAH EMAIL.JGN TAKUT MAKAN,PAKEANNYA DLL SAYA TANGGUNG.YG PALING PENTING TO MENEMANI SYA DI RUMAH.JGN SIA2KAN KESEMPATAN INI PLEASEEEEEE.JGN TAKUT SAYA ORANG BAIK2 TAKUT SMA ALLAH.SEKIAN SALAM DARI AMINAH.
Comment by DREAMMAKER — September 1, 2006 @ 5:05 pm