“Tahu asin, arem-arem …. arem-areme, Mas, anget,” kata bakul tahu asin dan arem-arem.

“Yang mete, yang mete, seribu rupiah,” tutur pedagang kacang mete.

“Aqua, Aqua dingin, Mizone, Sprite, Fanta,” ujar pedagang minuman, kepada para penumpang yang mungkin kehausan dan butuh pelepas dahaga. (Wah, kok nggak nawari ciu, vodka atau black label, sih? hihihihihihihi. jangan ding, itu kan miras. dilarang pemerintah).

“Kacang bawang … kacang bawang.” teriak penjual kacang.

“Lutise, pak … lutise, bu …. seger … seger, namung setunggal ewu (cuma seribu),” ucap pedagang lutis (bahasa Indonesia-nya lutis opo, yo? ini buah-buahan, yang dikasih sambel dari gula jawa+cabe)

“Yo … cepet-cepet, tengah kosong,” tutur kondektur bus, sembari menunjukkan kursi kosong ke penumpang yang baru naik.

“Wiiiissss taaaakkkk lali-laaaalllliiiii …. malah tansoyo kellliinnnggaaaannnnn,” senandung pengamen menyanyikan salah satu hits-nya Didi Kempot.

“Ya, selamat siang, di sini saya akan menawarkan dompet kulit. Kalau biasanya dijual di toko seharga Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, di sini, karena saya mengambil dari grosir dari Bandung, cuma saya tawarkan Rp 5 ribu. Cukup Rp 5 ribu saja. Monggo dipresani. Kalau ada yang cacat, bisa dikembalikan,” koar penjaja dompet kulit (ternyata kulitnya imitasi setelah saya lihat), sembari mengangsur dompet yang dibawanya ke pangkuan para penumpang untuk dilihat. Kalau gak dibeli, nanti dompet-dompet itu akan diambilnya lagi.

“Ya, permen-e, permen-e, seribu rupiah, seribu rupiah,” ujar penjual permen seraya (juga) mengangsurkan satu bungkur permen berisi lima butir itu ke pangkuan penumpang. Sama, jika permene itu tidak ditebus dengan uang seribu oleh si penumpang, permen itu akan diambil kembali oleh si penjual.

“Ya, artise meduk. Saiki giliran pengamene munggah (ya, artisnya turun, sekarang giliran pengamennya naik),” gurai seorang pengamen kepada pengamen yang lain, di Terminal Bawen. Pengamen yang mengatakan dirinya artis itu baru saja mementaskan tiga lagunya Iwan Fals, dengan beberapa nada diantaranya dinyanyikan secara fals, tapi dia cuek tetap menyanyi. Dapat applaus dari pendengar? Tidak. Dia mendapat imbalan beberapa keping receh, mungkin juga beberapa lembar seribuan.

“Es dawet, mas?” tawar si penjual es dawet, seraya menatap saya. Saya menggeleng, karena memang nggak kepingin minum es dawet.

“Wa….wa….wa……,” canda seorang bayi berusia - mungkin - 1 tahunan, di atas pangkuan bapak-ibunya. Mata bening bulatnya sesekali bersirobok dengan mata saya. Amboi, indah sekali mata beningmu itu, nak!

“Lha, kae, adike……” bujuk seorang ibu di samping saya pada anaknya yang - mungkin - berusia 1,5 tahun, yang agak sedikit rewel, seraya menunjuk bayi di pangkuan bapaknya, dua deret kursi ke depan. Samar-samar, tercium bau sangit dari baju yang dikenakannya. Ini bukan saya mengendus-endus. Ngapain, juga! Tapi karena bau sangit itu merebak. Saya tak kaget dengan bau itu. Itu bau khas orang yang tinggal di daerah pegunungan. Bau itu berasal dari asap pembakaran kayu yang mereka pakai untuk aktivitas dapur mereka. Waktu kecil, bau sangit asap pembakaran kayu sempat akrab dengan dengan saya, ketika saya membakar ketela dengan tungku kayu di dapur rumah nenek saya.

“Aku masih, seperti yang duluuuuu … Menunggumu, sampai akhir hidupmuuuu,” nyanyian seorang bapak 50-an tahun, tanpa iringan alat musik, hanya diiringi jentikan jari tengah dan ibu jari tangan kanan sebagai penjaga tempo, dengan vibra suara yang cukup keren menurut saya. Ia mengangsurkan plastik berukuran cukup besar ke penumpang, sebagai wadah receh atau uang kertas, penghargaan penumpang atas nyanyian yang diperdengarkannya, dimana para penumpang tak ada yang meminta.

“……… bla………bla………bla” teriak si orator jalanan, memakai kaos hitam bergambar iwan fals di bagian depan, lalu ada logo OI di bagian belakang, serta tulisan Penomena Sukses Musisi Jalanan (tulisan penomena-nya bener-bener pake P, bukan karena saya salah ketik). Dia nekat ngamen dengan berorasi, meneriakkan protes sosial. Tak jelas, apa yang dia omongkan, karena teriakan si orator jalanan itu berbaur dengan deru suara bus.

” ………. bla ……… bla ……… bla ” teriak peminta sumbangan, disusul sodoran amplop warna putih, berhias tulisan alasan pencarian sumbangan, lengkap dengan stempel dan tanda tangan, yang entah asli atau palsu.

“Semarang, Mas? Woi, liwat kene, sing Semarang liwat kene, liwat lawang ngarep (Woi, lewat sini, yang Semarang lewat sini, lewat pintu depan),” ujar seorang kernet bus di Terminal Secang, setengah berteriak, dengan nada setengah memaksa kepada calon penumpang. Saya termasuk yang diteriaki. Tapi bodo amat, wong saya mau ke WC umum dulu, kebelet pipis. Lagian dia siapa, ngatur-ngatur calon penumpang. Saya pun ngeloyor tak menggubris teriakan si kernet itu ke WC umum. Bus lain juga masih banyak. Si kernet paling juga nggak peduli, alah cuma satu penumpang doang yang nggak mau naik. Biarin aja. Masih ada penumpang lain.

“Solo, Mas,” kata saya sembari menyodorkan uang Rp 6 ribu kepada kondektur, sesaat setelah saya naik ke bus yang akan membawa saya ke Solo di Terminal Bawen.
“Solo? Kurang rong ewu (kurang Rp 2 ribu,” kata si kondektor.
Ups, saya langsung mengambil Rp 2 ribu di dompet saya, menyodorkannya ke si kondektur. Ia lalu pergi, menagih uang transport pada penumpang lain. (sori, bos, aku gak tau tarifnya, sih! lha sekarang jarang pulang ke wonosobo, je! makanya udah gak apal tarif bus. sori ya, bos kondektur!)

“Aku….hanyalah….manusia biasa yang tak pernah lepas dari…khilafku…….,” nyanyian dua pengamen membawakan lagu milik Radja (saya nggak tau judulnya) diiringi gitar dan cak (salah satu gitar kecil yang dipakai di musik keroncong, tapi bukan cuk, suaranya cring…cring…cring. Kalau cuk - atau populer disebut ukulele - bunyinya …. trung…trung…trung). Wah, nyanyian itu bikin otak saya tambah bete, karena sudah capek di jalan. Shit….

“Mas, Alfa, Mas,” kata saya kepada kernet bus, sesaat sebelum turun. Yang dimaksud Alfa itu Alfa Pabelan, toko gudang rabat, yang jadi penanda dimana saya akan menjejakkan kaki saya lagi ke bumi, setelah beberapa jam berada di atas bus.

(sedikit cuplikan suasana bus bumel alias bus kelas ekonomi, yang saya naiki ketika dalam perjalanan pulang menuju wonosobo, sabtu 15 April kemarin, sekaligus cuplikan suasana yang terekam di atas bus bumel, dalam perjalanan ballik ke solo pada minggu, 16 April kemarin. suasana yang tidak akan mungkin didapat jika naik bus PATAS (kecepatan terbatas….kekekekeke) ber-AC, atau naik kendaraan pribadi, yaitu sepeda motor).

(kaum oportunis - meminjam istilahnya Gola Gong - pengejar rezeki yang dihamparkan Allah di muka bumi, menjadi penghias sepanjang perjalanan. kegigihan mereka mengais rezeki menjadi pelajaran, hidup memang harus diperjuangkan. mereka orang-orang yang berani hidup. salut buat mereka!!!).

(ditulis secara acak, sesuai ingatan yang terekam di otak, tidak menunjukkan urutan kejadian. dialog yang ditampilkan juga banyak yang tak sama persis dengan dialog pada waktu kejadian. tapi intinya sama).

irf - solo, 22.24, belum tidur sehabis menempuh perjalanan 4,5 jam lebih dari wonosobo ke solo pada siang tadi. hhhhoooooaaaaaahhhhmmmmmmmm…..