Wah, setelah dulu kena lemparan dari Alya’s Mom untuk ngaku soal lima hal aneh yang saya miliki (silakan baca postingan berjudul “Menelanjangi Diri Sendiri“), sekarang dapat lagi dari Ruth buat ngaku soal lima kebiasaan buruk saya.

Wah, kok ya nggak ada yang meminta untuk ngaku soal kebaikan, yak? Hehehe … jangan ding, ntar malah jadi riya’, besar kepala dan sombong. Mending lima kebiasaan buruk dan lima hal aneh itu saja. Setidaknya, bisa untuk introspeksi diri. Sebab lima kebiasaan ini memang sangat buruk, setidaknya buat saya sendiri. Thanks buat Ruth, anak Batam yang hobi bersepatu dekil …. hehehehe

Ini dia, lima kebiasaan buruk itu.
1. Pecandu nikotin (tapi SAY NO to drugs & alcohol)
Yup, ini kebiasaan buruk sekali. Saya sudah merokok sejak kelas 2 SMP, tapi hingga lulus SMA masih perokok kelas ecek-ecek. Waktu kuliah, belum bisa disebut perokok berat, meski intensitas saya mengisap nikotin sudah cukup tinggi. Begitu kerja ….. tuuuutttt …. ttttuuuutttt …. jadi kereta. Damn! Irfan jadi perokok berat !

Tapi beberapa bulan belakangan, saya mengurangi kadar kecanduan saya pada nikotin. Sudah tidak seperti dulu, paling sekarang sehari hanya merokok satu - dua - tiga batang. Itupun rasanya kadang sudah nggak enak. Moga suatu hari entar kebiasaan ini bisa berhenti. Kalaupun sulit, ya satu-dua-tiga batang sehari harap dimaklumi ….. hehehehehe

2. Tidur larut malam (eh, malah udah pagi, ding!)
Ini kebiasaan buruk juga. Sisa zaman kuliah, karena dulu sering nongkrong atau sekadar ngobrol dengan teman-teman, atau baca buku - bukan buku kuliah atau diktat tentunya, tapi komik, majalah atau novel - sampai larut malam. Kebiasaan ini berbuntut. Saya jadi susah tidur lebih dini. Malah kadang saya ngerasa insomnia, susah banget tidur. Jarang saya tidur sebelum pukul 00.00. Lebih sering tidur kalau sudah dinihari. Duh ….

3. Susah bangun pagi, bangun siang terus (maklum, bangsawan!)
Ini efek dari tidur dinihari. Kalau ada acara pagi-pagi, pasti saya byayakan ra karu-karuan, pontang-panting karena bangun telat. Kalau pas nggak ada acara, saya sukses bangun paling siang di kos-kosan. Nggak keren banget, kebiasaannya …..
Oh ya, penjelasan soal bangsawan, silakan baca posting berjudul Menelanjangi Diri Sendiri

4. Sering ngabisin duit tanpa perencanaan
Ini berlaku untuk pembelian barang-barang kecil, kalau sedang jalan-jalan dan merasa sedikit kaya karena habis terima gaji. Lihat DVD konser band favorit, langsung beli. Lihat kaset blues langka, langsung beli. Lihat pernik-pernik kecil yang menarik, langsung beli.

Seperti beberapa waktu lalu, saat saya menyusuri jalanan Jogja, saya menemukan toko barang kerajinan. Saya tertarik untuk membeli topeng kecil Indian, barang yang udah lama saya incer. Eh, lha kok disitu ada ikat rambut Indian, tempat korek berumbai dari kulit, juga ada tempat koin berbentuk tipi atau tenda Indian. Saya memang penggila pernik-pernik bernuansa Indian. Meski sudah banyak pernik-pernik Indian koleksi saya. Merasa itu barang langka, langsung itu semua saya beli. Dan setelah sampai rumah, baru sadar, “Walah! Banyak banget duit yang saya habiskan! Mana tanggal gajian lagi masih sebulan lagi!” Sebab sebelum menebus pernik-pernik Indian itu, saya juga sudah menghabiskan uang saya untuk membeli beberapa DVD konser. Akhirnya, hari-hari selanjutnya saya lalu dengan menerapkan pola hidup ngirit. Nasib ….

5.Pemalas
Pernah kehabisan stok baju dan celana yang udah disetrika? Pernah tidur di dalam kamar yang suasananya seperti kapal pecah? Pernah pakai celana yang sudah sepekan lebih nggak ganti? Pernah naik motor yang kotornya ngalahin motornya tukang ojek? Pernah sebulan nggak cukur cambang, jenggot dan kumis (khusus buat cowok) sampai wajah terlihat sangat kumal?

Saya pernah, dan beberapa diantaranya masih sering terjadi. Itu jika penyakit malas saya kambuh. Dan penyakit itu sering sekali datang. Jarang rasanya penyakit rajin saya muncul ke permukaan. Kalah terus sama si malas. (*garuk-garuk kepala*)

Udah ah, segitu dulu. Sekarang giliran Ummi Lili, Reena, Mas Jaf, Dewi Maknya Angina dan Mbak Vie untuk bloko suto atau terus terang, membuka keburukan sendiri dan menjadikannya cermin agar kebiasaan itu bisa ditinggalkan. Kan mending mengakui ada gajah di pelupuk mata sendiri (gimana yak, rasanya kelilipan gajah) daripada ngomongin semut piaraan orang di seberang lautan … hihihihihi. C’mon, buddy!