Saya bukan seorang penggemar berat sepak bola. Saya nonton sepak bola hanya sekadarnya saja, biar tidak terlalu ketinggalan. Sambil lalu, tidak seperti penggila bola atau disebut gibol - gila bola - yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton siaran sepak bola di TV atau menonton langsung di stadion.

Saya tergelitik untuk menulis soal sepak bola setelah melihat foto di atas. Itu adalah foto Varney Pas Boakai, pemain asing Persibo Bojonegoro asal Liberia yang kesakitan setelah burungnya ditendang pemain Persis, Bambang Sulistyo. Foto diambil fotografer Anwar Mustafa - fotografer rekan saya - saat meliput pertandingan antara Persis Solo dengan Persibo Bojonegoro di Stadion Manahan, Solo, pada Rabu, 5 April yang berakhir 1-0 untuk Persis.

Saya cuplikkan sedikit beritanya, yang dibuat rekan saya, Agus. Silakan baca.

Hanya sayang, kemenangan Persis ini nyaris ternoda di penghujung pertandingan. Usai wasit Rahmat Hidayat menutup laga, bentrok fisik antara pemain kedua kubu nyaris terjadi. Kericuhan ini merupakan buntut kekecewaan pemain Persibo terhadap permainan keras yang diterapkan Bambang Sulistyo winger Persis.

Bambang diklaim pemain-pemain Persibo berbuat tidak sportif terhadap Varney Pas Boakai, legiun asing Persibo asal Liberia. Memang hampir sepanjang pertandingan kedua pemain ini saling sikut dalam perebutan bola. Inilah yang membuat Varney kesal dan mencoba membalas perlakukan Bambang.

Dan, klimaksnya terjadi begitu babak kedua usai. Pemain-pemain Persibo langsung mengejar Bambang. Bahkan Varney memukul kepala Bambang. Bambang tak terima, lantas membalas dengan menendang selangkangan Varney, hingga pemain ini terjerembab sambil memegangi pangkal pahanya.

Beruntung, kericuhan tak menjalar, setelah panitia penyelenggara dan beberapa anggota Pasoepati dibantu petugas keamanan melerai kedua kubu. Kedua kubu langsung diamankan ke kamar ganti dengan kawalan ketat petugas panpel dan polisi. Tindakan pemain Persibo ini sempat menyulut emosi penonton, umpatan dan caci maki pun terlontar dari mulut sekitar 20.000 penonton. Beruntung, emosi ini bisa diredam sehingga tindakan anakhis tak terjadi.

Saya tidak menonton pertandingan itu. Saya hanya melihat foto itu waktu dimasukkan ke server komputer yang menyimpan data hasil liputan rekan-rekan di lapangan. Saat foto itu dilihat oleh rekan-rekan lain, beragam komentar pun muncul dari mulut rekan-rekan. Silakan bayangkan sendiri, seperti apa kira-kira komentar yang disuarakan rekan-rekan saya saat melihat foto itu.

Saya tertarik untuk memajang foto itu - sekaligus menulis postingan ini - di blog saya karena foto itu sangat ekspresif. Foto itu juga jadi satu bukti kekerasan yang terjadi di lapangan sepak bola. Kekerasan yang sering mewarnai ritus pertandingan di manapun pelosok negeri ini. Kekerasan antar suporter. Kekerasan antar pemain. Kekerasan pemain dengan wasit. Kekerasan antar pelatih dengan pemain, atau dengan pelaksana pertandingan. Atau kekerasan-kekerasan lain yang tidak lepas dari pertandingan yang dimainkan.

Meski bukan penggemar berat sepak bola, tapi saya sangat sedih kalau melihat realita persepakbolaan di Indonesia. Kekerasan, rasanya tidak bisa lepas dari pertandingan. Ada saja pemicu terjadinya kekerasan.

Saya sudah tak kaget lagi, melihat pemain dua kubu yang bertanding saling baku hantam, ricuh. Saya sudah tak kaget lagi, melihat bentrok antar suporter. Saya sudah tak kaget lagi, melihat wasit dipukul oleh pemain, karena kebijakannya dinilai merugikan salah satu kubu. Saya sudah tak kaget lagi, melihat bentuk kekerasan yang diperlihatkan dunia persepakbolaan republik ini.

Belum lagi praktik kebusukan yang menyertai persepakbolaan Indonesia. Mafia wasit, praktik suap untuk memenangkan satu kubu, dan praktik-praktik busuk lain yang membuat lidah kelu untuk disebut satu persatu.

Ketika membandingkan dengan iklim persepakbolaan di luar negeri yang jadi kiblat sepakbola, tentu sangat jauh kondisinya dibanding negeri kita. Meski di luar negeri kekerasan seperti itu juga ada, tapi penyelesaiannya jelas. Wasit disana dihargai. Otoritas sepak bola punya gigi. Lha di sini? Wasit seolah-olah hanya sebagai petugas yang meniup peluit kesana kemari, dengan kebijakan yang tak jarang mengundang kontroversi, kemudian dimaki-maki. Otoritas sepak bola? Saya telanjur apatis melihat PSSI. Meski ada Komisi Disiplin, nyatanya ….

Saya bukan seorang penggemar berat sepak bola. Saya nonton sepak bola hanya sekadarnya saja, biar tidak terlalu ketinggalan. Sambil lalu, tidak seperti penggila bola atau disebut gibol - gila bola - yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton siaran sepak bola di TV atau menonton langsung di stadion. Tapi saya sangat merindukan iklim sepakbola di negeri ini yang menyenangkan, seperti di luar negeri. Fair play benar-benar dijunjung, tidak sekadar menjadi pemanis bibir saat pidato.

Yah, itulah sepakbola Indonesia, dimana penonton bisa menyaksikan dua pertandingan dengan satu tiket yang mereka beli. Pertandingan sepakbola, sekaligus pertandingan karate, atau tinju, atau silat, atau yang lain, jika terjadi perkelahian.

Hhhhhhh…..

Note: Saya nggak bisa membayangkan, sakitnya burung si Varney setelah ditendang oleh Bambang. Pertanyaannya, burung si Varney masih bisa berkicau lagi nggak, ya? hihihihihihi …..