Saya tidak ingat, sejak kapan saya sangat suka memperhatikan dan mengagumi corak serat kayu, baik itu di kusen pintu, pinggir jendela, kursi, meja dan sebagainya. Mozaiknya, menurut saya, indah. Enak dipandang.

Dulu, waktu masih senang jalan-jalan di hutan, saya terkadang iseng memungut kulit kayu. Lalu mengagumi coraknya. Atau kalau melihat bekas pohon yang ditebang, saya kadang memperhatikan sebentar corak serat kayunya. Hanya sekadar mengagumi. “Bagus,” begitu otak saya berkomentar.

Sampai sekarang, saya masih senang mengagumi corak serat kayu. Kayu apapun, kecuali triplek atau kayu lapis, yang corak serat kayu aslinya sudah hilang, berganti garis-garis kecil yang timbul karena proses produksi. Tak alami lagi.

Sampai detik ini, saya masih mengagumi pesona keindahan corak serat kayu.

Beberapa hari silam, saya dibikin terpesona oleh kayu. Kali ini oleh kayu mahogani, atau biasa disebut kayu mahoni. Kayu itu sudah dalam wujud gitar listrik, yang tidak dicat dengan warna tertentu, hanya divernis. Indah sekali. Seratnya keliatan jelas, memberi karakter pada gitar itu.

Saya tidak tau harganya. Saya cuma melihat. Lalu saya berkata, “Duit saya segini. Bisa gak saya dibuatkan gitar listrik, dengan spesifikasi … … … dan bodi model … … , lalu untuk finishing bodinya tidak dicat. Cukup divernis. Saya ingin serat kayunya kelihatan, tidak tertutup cat warna tertentu.” Dan saya dapat jawaban, “Bisa!”

Sekarang, saya tidak sabar menunggu jadinya gitar dengan corak serat kayu yang akan menghiasi sekujur tubuhnya.

Ah…..
Saya nanti akan mengagumi corak serat kayu yang ada di sekujur tubuhnya. Seperti saya mengagumi corak serat kayu pada potongan kayu yang saya pungut di hutan, di kusen jendela, di daun pintu, pada kayu apapun yang memperlihatkan mozaik indah serat kayu.

Saya suka corak serat kayu