Tak Wajib Dibaca, Tak Harus Dibeli
Dunia maya itu candu….
Dunia maya itu palsu….
Dunia maya itu topeng….
Tapi tidak selalu….
Itu tergantung dari hati si pelaku….
Apa yang akan terjadi jika seseorang ketagihan untuk menjelajahi dunia maya? Kebaikan kah yang didapat? Atau malah ketiban masalah? Positif atau negatif akibat yang didapatkan seseorang dari sebab keterlibatannya dengan dunia maya - menurut saya - tergantung dari bagaimana cara dia berinteraksi dengan dunia maya.
Kalimat itu yang terlintas di benak saya, beberapa lama setelah usai membaca buku Kumpulan Cerpen-nya Labibah Zain berjudul Addicted to Weblog. Lima cerpen pertama di buku itu memberi gambaran, akibat dari sebab keterlibatan seseorang dengan dunia maya. Terutama layanan instant message, blog, e-mail, pertemanan, dan semacamnya.
Sebagai contoh, di repertoar pertama, penulis - yang pendiri blogfam.com, sebuah komunitas blogger yang anggotanya terpencar di penjuru bumi - memaparkan, bagaimana seorang ibu sampai lupa mengurus rumah, karena “kerasukan” blog.
Itu hanya contoh. Dengan lugas, Maknyak - panggilan sayang penghuni blogfam.com pada Labibah - juga memaparkan fakta di salah satu cerpen di buku itu, bahwa pelaku dunia maya sering memakai topeng untuk menutupi identitas aslinya, berperilaku layaknya orang sempurna, tapi sebetulnya memiliki nasib tragis di dunia nyata.
Masih ada beberapa contoh lain, yang dipaparkan Maknyak dalam cerpen-cerpen lain di buku itu, tentang sebab dan akibat dari keterlibatan di dunia maya, karena mengenakan “topeng” ….
Tapi Maknyak tidak hanya menyoroti fenomena dunia maya di buku itu. Dua cerpennya malah memaparkan realita di dunia nyata, tentang akibat pergaulan yang kebablasan dan soal tradisi, dan satunya lagi bercerita tentang “taman”. Sengaja saya tidak memaparkan apa maksud “taman” disini, karena interpretasi saya akan “taman” yang ditulis Maknyak dalam cerpen yang tersaji sebagai repertoar ketujuh di buku itu bisa jadi akan berbeda dengan pembaca lain. Lebih baik, Anda baca sendiri.
Kalau menurut istilah saya, meski judul bukunya - yang juga merupakan judul cerpen repertoar pertama di buku - sangat berbau dunia maya, tapi tidak semua cerpen ditulis Maknyak saat komputernya connect dengan internet. Hanya lima cerpen saja yang ditulis Maknyak saat komputernya connect dengan internet, karena akar temanya ada di seputar dunia maya. Sementara tiga cerpen lainnya, ditulis saat komputernya tidak connect dengan internet. Entah karena tagihan membengkak sehingga connect internet untuk sementara diputus, atau karena sebab lain, saya tidak tahu…hehehehe.
Oh ya, satu cerpen yang menjadi favorit saya di buku itu berjudul Perempuan Pengusung Tradisi. Maknyak dengan tepat menggambarkan tradisi dimana dia - mungkin - dibesarkan. Tradisi yang - menurut kacamata saya - malah membelenggu dan membuat orang yang ada di dalamnya tertekan. Tradisi, yang sebetulnya berlawanan dengan situasi sosial yang berkembang, karena tradisi itu sangat mengkotak-kotakkan, membuat satu kelompok merasa jumawa dengan statusnya, sementara kelompok lain merasa tersisih. Selain itu, cerpen yang juga menjadi penutup buku ini saya sukai karena mengambil setting sebuah kampung bernama Pasar Kliwon di Solo, juga Jogja. Maklum, saya kan hidup di Solo.
Maknyak, ente orang Solo, ya? Pasar Kliwon? Sebelah mananya RS Kustati? Kalau dari perempatan Sangkrah jauh nggak? Bengkel sepeda motor langgananku ada di sebelah selatan perempatan Sangkrah, lho!
Oh ya, benang merah buku ini adalah perempuan. Tema yang diangkat dalam cerpen-cerpen di buku ini memang berkisar soal wanita, baik sebagai sebab maupun sebagai akibat. Dan Maknyak, sebagai wanita, meski - saya (agak) yakin - tidak mengalami semua yang dia paparkan dalam cerpennya, tapi dia mampu menggambarkannya dengan jelas dan terasa nyata apa yang dialami wanita yang menjadi tokoh dalam cerita.
Tapi itu wajar. Sebagai penulis, jurus pemaparan fakta atau cerita fiksi alias mendeskripsikan dengan jelas, rinci dan runtut, menurut saya, sudah keharusan. Tentu, agar pembaca tertarik dan terus tertarik untuk membaca tulisannya.
Yang juga saya sukai dari buku itu, karena mampu mematikan kesimpulan yang saya ambil ketika saya membaca tiap repertoar cerpen. Saat membaca sampai pertengahan cerita, dengan background cerita di bagian depan yang terasa menyenangkan, saya menyimpulkan jika ending cerita akan berakhir seperti ini. Tapi ternyata, kesimpulan saya salah, karena ending berakhir seperti itu. Bahkan jauh sekali dari kesimpulan saya. Jadi, saran saya, jika Anda membaca buku ini, baca saja sampai habis dan jangan mengambil kesimpulan dari cerpen yang Anda baca ketika baru sampai di pertengahan. Tapi kalau Anda nekat, ya terserah….
Sebagai tambahan, buku ini tidak wajib dibeli. Kalau diwajibkan untuk membeli, sementara Anda misalnya sedang tidak punya budget untuk membeli buku, saya takut nanti saya yang disalahkan karena sudah mewajibkan membeli buku ini.
Buku ini juga tidak wajib dibaca. Sebab kalau diwajibkan untuk membaca, sementara Anda misalnya lebih hobi membaca Playboy, atau membaca stensilan, saya takut Anda malah nanti mengalami tekanan batin ketika membaca Addicted to Weblog, meski ada sedikit “bagian nakal” di buku ini, tapi tidak saru dan vulgar, karena itu menjadi bagian dari alur cerita.
Hanya saja, buku ini layak dibaca. Baik oleh para pelaku dunia maya maupun para pelaku dunia nyata. Buku ini juga layak dibeli. Tapi kalau Anda merasa buku ini tidak layak dibaca dan dibeli, ya itu terserah Anda. Saya tidak memaksa, kok. Pun demikian dengan Maknyak. Tapi kalau Anda merasa buku ini wajib dibaca dan wajib dibeli, tentu sangat diperbolehkan dan tidak dilarang.
Kebetulan saja saya dapat buku ini secara gratis dari blogfam.com … hehehehehe.




Pinjammm dongggg…gak ada budget buat beli neh. xixi…hitung-hitung bagi berkah Fan. hahaha… *becanda lageee*
Comment by dewi — January 31, 2006 @ 1:50 pm
waa… aku aja blum baca. mau beli aja, jauh.. huhuhu..
Comment by sa — January 31, 2006 @ 10:05 pm
woalah…ternyata dapat gratisan
:d aku pinjem dung
iyak aku emang dari solo hihihihh, tapi pas sampe sana aku bener-bener lupa kalau mas irf itu tinggal di Solo…suer mas..
Comment by Di — February 1, 2006 @ 12:50 am
Gimana kalo diceritain isi bukunya…..:) Thanks ya sudah mampir
Comment by mamandut — February 1, 2006 @ 4:30 am
ih… resensi-nya oke punya nih…. ^__^
Comment by galih — February 1, 2006 @ 5:51 am
puinnjeeemmm
hayooo pilih minjemi aku buku…
ato…
makan-makan..!!!
Comment by yustin — February 1, 2006 @ 6:20 am
horeeeeeeeeeee.. akhirnya kelar juga bikin resensi.. :p
mangkanya jangan males2.. *plaks*
Comment by vi3 — February 1, 2006 @ 9:17 am
wahhhhhh. baru liat postingan ini. hihi makasih udah di review ya Fan. aku pasang di http://duniafiksi.blogspot.com ya fan?
Aku orang Pekalongan yg juga punya kebudayaan kembar dgn orang2 solo di pasar kliwon itu.
makasih yaaaaaa
Comment by maknyak — February 1, 2006 @ 6:20 pm
makasih reviewnya Fan. akhirnya janjimu terbayar juga. thank you ya. aku pasang di http://duniafiksi.blogspot.com ya?
Saya orang Pekalongan kok. Kota yang punya kebudayaan kembar dalam hal tradisi2 bgituan.
sekali lg makasihhhh. gak sia2 deh blogfam via itha kasih hadiah ini buat irfan sebagai juara satu entrihh. hihi
Comment by maknyak — February 1, 2006 @ 6:37 pm
pinjemmmmmmm!!!!!
Comment by utHe — February 3, 2006 @ 4:18 am
Kayaknya banyak yang antre nih!
Comment by Imponk — February 3, 2006 @ 9:06 pm
Maknyak emang topbgt dah.
Fan itu liputan lanjutan umroh udah ada tuh, hayo ummi dah bayar yah utangannya
Comment by Lili — February 5, 2006 @ 5:20 am
faaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnn… omahku tak cat maneh… hihihihihihi..
Comment by vi3 — February 7, 2006 @ 1:40 am
apdet donk!
Comment by vi3 — February 8, 2006 @ 12:25 pm
Gw dah baca bukunya, Fan..ide2 nya Maknyak bikin gw kaget. Hahahaa….nggak nyangka dunia maya bisa seliar itu juga…
Comment by Devita Umardin — February 8, 2006 @ 11:12 pm
Ngeblog jangan cuma iseng, manfaatkan sebaik2 baiknya.
Comment by Aswad — February 9, 2006 @ 3:29 am
igh… ga apdet2… :p
Comment by vi3 — February 11, 2006 @ 8:23 am
juragane lagi menyang ndi yo?
keweden meh disilihi buku iki :p
Comment by Ash! — February 12, 2006 @ 5:00 am
Fan, baca postingan terakhir gw…lanjutin estafetnya…ayo update blognya….
Comment by Devita Umardin — February 13, 2006 @ 1:06 pm
mis yuh!!! suwi ga ketok!
Comment by vi3 — February 15, 2006 @ 3:59 am
pozdrav iz slovenije ,malo sam navratio iako ne razumijem ovdje ništa ,no problem,..čaooo…
Comment by hasan — February 15, 2006 @ 9:24 pm
slm kenal. aku ud baca bukunya…BAGUS!!! Btw gmn sih psg banner blogfam& bz magazine? perlu register atau izin dulu ga? thnx
Comment by betsy — February 20, 2006 @ 10:45 am
Tak Wajib Dibaca, Tak Wajib Dibeli, Tapi Wajib Meminjam kan?
Comment by ARS — March 1, 2006 @ 10:29 pm
wong solo tho? aku juga hampir 6 tahun di solo lho. cari ilmu,hehe,,, jd kangen solo. minum kelapa muda di jurug!hm.. sueger. tmnku jg ada yg di sangkrah, anak`e juragan batik
Comment by yunid — June 27, 2008 @ 10:26 am