Sarapan apa pagi ini?
Hhhmmm….. enaknya sekerat roti bakar berselai formalin dan segelas susu dengan sakarin.

Menu makan siangnya apa, ya?
Wah….pasti enak menyantap nasi dengan ayam goreng bumbu rhodamin borax, apalagi setelah itu digelontor jus benzoat.

Lauknya apa nih, buat makan malam?
Sssrrrruuupppp………… nasi panas, lauknya sea food bersaus borax. Minumnya teh panas dengan saklamat.

————–

Pernah ngebayangin apa yang saya tulis di atas?
Sebelum kasus formalin - plus zat kimia berbahaya yang terdapat dalam makanan - merebak, saya tidak pernah berpikir dan membayangkan hal itu. Saya juga cuek dengan makanan yang saya santap, apakah mengandung zat berbahaya atau tidak.

Tapi belakangan, setelah kasus formalin dan kroni-kroninya heboh diberitakan, kalimat-kalimat yang saya tuliskan sebagai pembuka artikel ini sering melilit otak saya. Meski demikian, saya tetap berlagak cuek, apakah makanan yang saya santap mengandung zat berbahaya atau tidak. Kalau saya terlalu memikirkannya, bisa-bisa saya tidak jadi makan. Tapi jujur, masih terselip sedikit perasaan takut.

Hanya untuk makan saja, di zaman sekarang, orang harus ekstra hati-hati. Kenapa? Sebab beragam zat pembunuh dan perusak tubuh selalu mengintai, saat kita menyantap. Bahan makanan yang kita santap itu bukan tidak mungkin semuanya sudah terkontaminasi zat-zat membahayakan itu.

Dan kita, sebagai konsumen, tidak punya daya secuilpun untuk membuktikan, apakah bahan makanan yang kita beli mengandung zat berbahaya atau tidak. Bahkan makanan yang dikemas pun, bukan tidak mungkin membohongi konsumen. Dalam kemasannya tidak tertera zat berbahaya dalam bahan makanan, tapi itu tidak menjadi jaminan bahwa makanan itu bebas zat berbahaya. Konsumen tidak bisa membuktikannya, kecuali lewat uji laboratorium.

Saya tidak mau membicarakan soal solusi - yang mungkin bisa didengar pemerintah - agar masalah ini teratasi. Saya juga tidak mau berkoar mengatakan, bahwa lebih baik kita boikot makanan yang mengandung zat berbahaya. Saya tidak berhak melakukannya.

Saya cuma mau mengatakan, bacalah Bismillah…. (atau doa lain bagi penganut agama lain) sebelum menyantap makanan yang kita tidak tahu, apakah makanan itu mengandung zat berbahaya atau tidak. Sebab kita, sekali lagi, tidak punya daya untuk membuktikan bahwa makanan yang kita santap mengandung zat berbahaya atau tidak.

Ya, berdoa saja. Pada Allah SWT, yang memberi kita rezeki berupa makanan yang bisa kita santap. Berdoa, semoga makanan yang kita santap halal, penuh berkah, menyehatkan dan tidak mengakibatkan timbulnya suatu penyakit. Berdoa, juga berharap, bahwa makanan yang kita santap tidak mengandung zat berbahaya.

Sebab kalau kita terlalu phobia, bisa-bisa malah tidak jadi bersantap. Padahal, makanan dan minuman yang bisa kita suapkan ke mulut adalah rezeki.

Ya Allah, berkahi makanan kami…..
Jadikan kami hamba yang mensyukuri nikmat-Mu…..

Oh ya, tulisan ini sekaligus menjadi tulisan penutup 2005.
Selamat tahun baru. Semoga kita bisa menjadi lebih baik di tahun mendatang.
Happy New Year 2006 !!!

(31 des, selesai pukul 22.50, menjelang pergantian tahun)