Barusan buka detik.com. Dan saya sedikit shock (hehehehe…) mendengar salah satu beritanya. Maklum, berita itu mengingatkan saya pada saat saya menginjak masa remaja. Berita itu judulnya : “Wuih ! 34 % Siswa SMP Merokok” (selengkapnya, baca di sini)

Sedikit saya kutip isi berita itu.

Angka merokok di kalangan murid sekolah usia SMP cukup tinggi, yaitu sekitar 34 %. Demikian hasil survei merokok pada remaja alias Global Youth Tobacco Survey (GYTS) Indonesia.
Survei ini merupakan bagian survei WHO dan CDC (Atlanta) yang diselenggarakan di lebih 100 negara di dunia. Indonesia juga turut berpartisipasi dalam survei ini yakni dengan melakukannya di Jakarta, Bekasi dan Medan.
Di Jakarta didapatkan 34 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 16,6 persen saat ini masih merokok. Di Bekasi didapatkan 33 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 17,1 persen saat ini masih merokok. Di Medan didapatkan 34,9 persen murid sekolah usia SMP pernah merokok dan 20.9 persen saat ini masih merokok.

Kenapa saya shock membaca berita itu? Soalnya saya juga mulai mengisap asap pembakaran tembakau yang dilinting dalam kertas sigaret sejak SMP. Tepatnya sejak SMP kelas dua. Dan itu berlanjut sampai saat ini …. hehehehe.

Padahal saya sadar sesadar-sadarnya, merokok itu nggak baik buat kesehatan. Juga buat kantong. Tapi kok ya susah, mau menghilangkan kebiasaan buruk satu ini?

Kebiasaan buruk ini buat saya grafiknya tidak konstan. Kadang naik, kadang turun. Kalau pas lagi agak stress, saya bisa berubah menjadi “kereta api”. Ngebul terus. Tapi kalau kondisinya normal, ya biasa saja. Kalaupun nggak merokok sehari, juga nggak bingung-bingung amat. Nggak kayak perokok berat yang nggak ngerokok satu jam saja sudah kebingungan.

Tapi, biarpun bukan perokok berat, ya tetap aja nggak bagus kebiasaan ini. Ah, embuh….