(bagian kedua dari trilogi tentang ceceran cerita mudik saya ke ndeso)
Enak juga ya, bisa lepas dari beban kerja dan kumpul dengan keluarga di rumah. Ngobrol sama bapak, ibu, kakak dan adik. Atau menggoda ponakan sampai nangis….hehehe.
Ada 3 hari 4 malam, kemarin saya di Wonosobo. Off course, karena mudik Lebaran, tentu saja kegiatannya diisi salat Id bareng, dilanjutin sungkem sama bapak ibu (moment yang paling aku tunggu), mohon ampun atas semua kesalahan dan mohon restu atas semua yang kulakukan. Minta maaf juga sama saudara-saudara. Terus silaturahmi dan halal bi halal dengan warga kampung. Berkunjung ke rumah simbah kakung, paklik dan bulik, sungkem sama mereka. Dan yang penting, makan ketupat sama opor ayam, empal daging sapi, ikan mujahir goreng, sambel goreng ati, emping dan ngemil sajian Lebaran … hehehe.
Tapi saya nggak akan bercerita soal suasana lebaran yang saya alami pas mudik kemarin. Saya mau ngudharasa soal pandangan saya terhadap Wonosobo, kota dimana saya dilahirkan pada 1978 lalu.
Selama di Wonosobo kemarin, saya juga menyusuri lagi jalanan Wonosobo dan jalan kampung. Beberapa ruas jalan ada yang tidak pernah saya lewati dalam beberapa tahun belakangan. Banyak yang nuansanya sudah sangat lain dengan zaman dulu, ketika saya masih sering menyusuri jalanan-jalanan itu. Yup, waktu berjalan, kondisi juga sudah berubah. Jadi saya bisa mahfum dengan perbedaan nuansa itu.
Cuma ada satu hal yang membuat saya sedih ketika saya menyusuri jalanan kota kelahiran saya. Wonosobo tak cantik, bersih dan rapi lagi seperti dulu. Kesan kotor dan tak rapi langsung menyergap mata saat saya menyusuri jalan kota. Pedagang kaki lima (PKL) tak mau kalah berlomba menghiasi kota dengan keruwetan penataan dagangan mereka.
Kemana gerangan Wonosobo-ku yang cantik?
Dulu, kota ini berkali-kali memperoleh penghargaan Adipura dan Adipura Kencana sebagai kota terbersih dan rapi. Waktu itu - saat saya duduk di bangku SD, SMP hingga SMA sampai awal masa kuliah saya - warga kota peduli dengan kebersihan kotanya. Tanaman penghias dipangkas rapi. Taman di tengah kota terlihat indah. PKL belum bejibun jumlahnya. Dokar - atau delman - juga bisa teratur. Pak kusir mau membersihkan kotoran kudanya yang sering tercecer di jalan.
Tapi sekarang?
Kayaknya apa yang saya sebutkan di atas sudah hilang. Kalaupun masih ada, mungkin hanya tinggal sisa-sisanya. Rasanya sumpek ketika saya menyusuri jalanan Wonosobo. Kok kotaku tambah nggak cantik? Dimana kesadaran warga untuk menjaga kebersihan kotanya? Hiks…..
Mungkin ini terjadi nggak hanya di Wonosobo. Mungkin kota-kota lain - yang dulu juga bangga dengan penghargaan Adipura-nya - juga mengalami hal serupa. Di Solo - yang seingat saya dulu menjadi kota peraih Adipura di awal pemberian penghargaan itu - juga mengalami problem serupa. Kota tak sebersih dulu. Kota lain? Sebagian besar mungkin sama kondisinya. Duh….
Tapi apapun, saya tetap cinta dengan Wonosobo. Apapun, ini kota kelahiran saya. Sejarah hidup saya bermula di kota ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Wonosobo tetap kota yang bermakna dan menjadi bagian tak terpisahkan dari diri saya.
Sekarang saya cuma berharap, ke depan, kotaku ini bisa cantik dan rapi lagi. Bupati dan wakil bupati - yang baru terpilih beberapa waktu lalu - saya harap bisa menggugah semangat masyarakat kota lagi untuk peduli dengan kerapian, keindahan dan kecantikan kotanya lagi. Sehingga Wonosobo menjadi tempat yang nyaman lagi untuk ditinggali, dijadikan tempat mudik bagi para perantau (seperti saya) dan kota yang menarik untuk berinvestasi. Dan akhirnya, slogan Wonosobo ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah) benar-benar pas dengan kondisi kotanya. Semoga…..
NB : selesai ditulis jam 11.15 pagi pada hari ketiga masuk kerja ….. pas lagi bingung nyari ide soal artikel yang bakal ditayangin untuk edisi besok….hiks




nulis artikel ttg dosen yang nyambi jadi op warnet gimana? *kedips*
Comment by vi3 — November 8, 2005 @ 2:26 pm
nulis artikel ttg dosen yang nyambi jadi op warnet gimana? *kedips*
Comment by vi3 — November 8, 2005 @ 2:27 pm
Minal aidin yah Fan. Seru banget cerita mudiknya. Btw, kamu bener, mama mertua abis mudik ke solo dan, pulang bukan membawa cerita bahagia malah ngedumel. Katanya makin gak sreg aja ama tempat lahirnya itu. Panas, sumpek, yg ada resto resto pada menjamur, gak ada pemandangan indah lagi.
Comment by dewi — November 9, 2005 @ 4:10 am
Seumur2 Umm tuh elum pernah ngerasain mudik lebaran. payah deh.
Aslu sunda tapi udah dari lahir n gede di Jakarta n semua family jg udah di Jakarta. jadinya yah udah deh jadi org jakarta.
Makasih yah udah setia mampir ke blog Ummi. sekalian maaf lhr n bthn jg.
Comment by Lili — November 10, 2005 @ 12:26 am
solo tambah parah yah?
terakhir ke sana sih (walo cuman sebentar), kerasa banget crowdednya …
hmmmm, sepertinya aku bakal berkunjung ke solo lagi bulan Januari ini. so, persiapkan segala sesuatunya, ok? … hekekeke … dan TIDAK NGEBUT?!!!!
Comment by reena — November 12, 2005 @ 4:49 am
kok ngebaca crita loe,damai amirr yee ‘fan..he he he,^gud gud..^
Comment by utHe — November 12, 2005 @ 6:27 am
sama Fan, Surabaya dulu juga langganan Adipura dari jaman Pak Purnomo Kasidi (alm), jalananya bersih rapi, ga ada sampah2 beterbangan, saiki po’o.. eh btw penghargaan adipura tuh masih ada gak sih
Comment by May — November 24, 2005 @ 1:32 am