(bagian pertama dari trilogi ceceran cerita pulang kampungku ke ndeso…)

2 Nov 2005
Baju-baju dah dimasukkan ke tas gede dapat minjem dari Anwar, fotografer rekan sekantorku yang anak Makassar. Oleh2 juga dah dimasukkan ke tas. Ups, berat bener pas diangkat.

Wooooiiii….saudara-saudara pembaca sekilas, pelanggan setia, atau pengunjung blog (tak) bermutu milik saya, gue mo mudik lebaran. Naik motor…vrrrooommmmm….

Jam 09.30, start dari depan kos-kosan. Sesaat kemudin, ban sepeda motor GL Pro 1997-ku sudah melindas aspal panas ruas jalan Solo-Semarang. Tangan kanan mantap memegang gas, sementara tangan kiri bersiaga di handle kopling. Mata kadang jelalatan kalo liat pemandangan indah di kiri kanan jalan. Apalagi kalo liat yang cakep-cakep….hehehehe

Jalanan udah rame dengan kendaraan pemudik. Kadang macet di beberapa titik.

Sampe di Salatiga, aku belok ke jalan alternatif, menghindari kemacetan. Aku menyusuri jalanan kecil di pedesaan, yang kadang nggronjal-nggronjal karena aspalnya terkelupas sehingga tubuhku berguncang. Melewati daerah Banyubiru, terus melewati jalanan di pinggiran Rawapening dan….yup, aku dah nyampe daerah….walah, namanya lupa. Yang jelas udah melewati Ambarawa yang macetnya menyebalkan.

Tak lama kemudian, aku sudah berhadapan dengan truk dan bus gede di ruas jalan jalur Semarang-Jogja, yang kiri kanannya ditumbuhi pohon gede. Hutan, meski gak lebat kayak hutan di Afrika. Nggguuueeeennngggg…….

Di Pringsurat, aku belok lagi ke jalan alternatif untuk menghemat waktu, karena aku bisa sampai langsung di Temanggung. Di Temanggung, lagi-lagi aku mengambil jalan alternatif, menyusuri Bulu dan langsung sampe Parakan. Lumayan, hemat 1/2 jam-an.

Dari Parakan, langsung deh aku menyusuri jalan satu-satunya menuju Wonosobo. Seperti biasa, hawa dingin gunung langsung menyergap tubuh. Hmmm…… menyenangkan! Tanpa berhenti, aku langsung tancap gas. Dah gak sabar nyampe rumah. Di Kledung Pass, aku gak berhenti menikmati elok pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing lagi. Pokoknya, tancap terus…..

Ups, 4 km sebelum sampe rumah, aku diserbu air hujan. Walah, nanggung bener, padahal udah hampir nyampe. Ya udah deh, gak papa. Hujan kan rezeki. Akhirnya berhenti di pinggir jalan buat make jas hujan dulu. Habis itu, tancap lagi, sambil hujan-hujanan. Menyenangkan…hehehe

Sekitar pukul 13.00, sepeda motorku tak parkir di trotoar depan rumah. Mantel kulepas, tas kuturunkan. Bapak, ibu, kakak, adik dan ponakanku menyambut di pintu. Kusalami bapak dan kucium tangannya, kusalami ibu dan mencium tangan serta pipinya, kusalami kakak, adik dan mencium ponakan, baru aku masuk ke dalam rumah.

Home, I’m Coming !!!

NB : Judul artikel ini nyontek judul serial Sun Go Kong yang pergi ke barat bersama Biksu Tong mencari kitab suci. Kenapa aku pake judul itu? Soalnya, aku kan kerja di Solo yang notabene ada di daerah timur Jateng. Sementara kampungku di Wonosobo ada di daerah barat (tepatnya sih di tengah Jateng). Karena dari Solo ke Wonosobo aku harus berjalan ke arah barat, makanya aku pakai judul Journey to the West, perjalanan ke barat….hehehehe