Saya baca koran edisi kemarin (24 Okt 2005) dan mendapati sesuatu yang - menurut saya - sangat ironis. Ketika melihat siaran berita di TV sore hari, ironi yang saya dapat dari koran itu bertambah lagi. Sebuah berita yang - lagi-lagi menurut saya - sangat menyakiti perasaan hati rakyat.
Ironi itu adalah berita tentang disetujuinya kenaikan tunjangan operasional buat para WAKIL RAKYAT INDONESIA YANG SANGAT TERHORMAT DI GEDUNG DPR sebesar Rp 10 juta rupiah per bulan.
Di koran hari ini (25 Okt 2005), saya mendapati lagi lanjutan ironi dari hari kemarin. Isinya tentang rapat paripurna membahas tunjangan anggota dewan, dimana para wakil rakyat menyetujuinya. Sedikit sekali yang menolak.
Disitu ada pernyataan dari Agung Laksono, Ketua DPR RI. Dia menyatakan, keputusan kenaikan tunjangan itu sudah final dan tidak bisa dibatalkan. Ia meminta anggota dewan tidak mempermasalahkannya. Kalau memang anggota dewan tidak mau menerima, ia mempersilakan anggota dewan untuk memanfaatkannya sesuai kehendak masing-masing. Sehingga tunjangan itu bisa 100 persen dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat kecil.
Ironi yang saya dapat dari tayangan berita di televisi sehari sebelumnya tidak saya dapati di koran yang saya baca. Ironi dari televisi itu berupa pernyataan, dari salah satu anggota dewan - saya lupa namanya, mungkin juga Agung Laksono - yang menyatakan, “Tunjangan itu harus dicairkan. Sebab kalau tidak dicairkan akan mengganggu anggaran.”
Saya itu orang bodoh, sangat awam dengan masalah anggaran negara. Ketika saya mendengar pernyataan wakil rakyat di tayangan berita itu, yang terpikir di benak saya, “Lho, kalau anggaran tunjangan dewan itu tidak dicairkan, ya tidak akan mengganggu anggaran negara. Kan bisa dialihkan ke pembiayaan pos lain. Kok lucu? Masak tidak dicairkan bisa mengganggu anggaran? Kan bisa juga dianggap sebagai sisa anggaran (karena tidak dicairkan) dan bisa dialokasikan ke anggaran tahun depan, untuk membiayai kepentingan lain yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat banyak? “.
Entahlah, benar atau tidak pernyataan dari wakil rakyat terhormat itu, atau pernyataan itu hanya sekadar justifikasi agar tunjangan dewan itu benar-benar cair, wallahu’alam. Saya tidak tahu. Itu hanya sekadar analisa bodoh dari rakyat jelata yang tidak pintar.
Koran edisi 24 Okt 2005, disitu saya membaca kutipan yang dilontarkan oleh Wapres Jusuf Kalla. Lengkapnya seperti ini :
—————————–
“Soal tunjangan DPR, itu keputusan DPR. Yang menentukan bujet itu kan DPR. Jadi, jangan bandingkan 15 juta rakyat miskin dengan 500 orang anggota DPR.”
Wapres Jusuf Kalla di Jakarta kemarin siang. Wapres meminta masyarakat tidak membandingkan BLT (bantuan langsung tunai) untuk keluarga miskin sebesar Rp 100 ribu per bulan dengan tunjangan anggota DPR sebesar Rp 10 juta per bulan.
——————————–
Sangat, sangat dan sangat - yang lagi-lagi menurut saya - ironis. Sebuah potret buram kepengurusan negeri. Rakyat tergencet, penguasa meraja. Rakyat diminta tidak membandingkan BLT Rp 100 ribu per bulan dengan tunjangan anggota dewan Rp 10 juta per bulan. Dan rakyat negeri ini - mungkin - akan manut. Karena mau membandingkan pun juga tidak ada gunanya. Wong kritik pedas dari berbagai pihak saja soal tunjangan itu juga tidak membuat para wakil rakyat membatalkan pencairan tunjangan itu. Apalagi hanya membandingkan.
Sekadar catatan sebelum menutup tulisan ini, di koran hari ini yang saya baca ada tampilan grafis yang menjelaskan besar take home pay para wakil rakyat. Total, jumlah take home pay anggota DPR mencapai Rp 36.806.560, sudah termasuk gaji, tunjangan dan dipotong pajak. Melihat besaran angka itu, siapa juga yang tidak ngiler untuk menjadi wakil rakyat.
Duh, Gusti Allah, kuatkan hati dan iman kami, agar tidak tergelincir ke jalan serakah yang tidak Engkau ridhoi. Amin…….
NB: Saya tidak tahu, puasa saya batal atau tidak karena menulis opini seperti itu. Semoga saja tidak.




iya tuh.. vi3 juga gregetan pas YK komentar kek gitu… otaknya di dengkul kali ya.. atau matanya pake kacamata kuda?? igh beneran gemes dah…
Comment by vi3 — October 25, 2005 @ 1:11 pm
o-M-g..segitu maruknya kah..wakil2 rakyat yg duduk diatas sana,brati bener donk yg gw baca ditempo 3 thn lalu ,smuanya emang “tikus2 berdasi”…iwwwwwwwww!!!!!
Comment by utHe — October 25, 2005 @ 8:04 pm
ASLII!! emang bikin BeTeeeeeeeeeewww…
koq bisa yaaaaach … tak liatkah mereka antrian rakyak kecil utk ambil kompensasi BBM, sampe TARUHAN NYAWA !! Aaaaaaaarrghhhh gemes bener gw …
Comment by TRie — October 26, 2005 @ 12:28 am
hehe…makin lucu aja anggota DPR kita.
Comment by dewi — October 26, 2005 @ 12:58 am
ergghhh…bikin gerem aja tuh keputusan, udah dana BBM aja semrawuttt…taruhannya nyawa banyak orang, sekarang malah di tambahin keputusan yang macam begitu dan pastinya itu bikin rakyat tambah gerem….apa mereka kekurangan dana buat beli bensin apa yah
Comment by Di — October 26, 2005 @ 4:52 am
iya nih, kenapa ya? selalu saja terjadi ketimpangan di negeri ini. padahal mereka sendiri yang mengembar-gemborkan untuk menghemat dalam segala hal. Bikin pusyiiiiiing
Comment by asty — October 26, 2005 @ 9:50 am
*naekin slogan deligitimasi* PILIH PEMIMPIN, JANGAN PILIH PARTAINYA…DEPE’ER SUXS
Comment by jesie — October 27, 2005 @ 3:24 am
hebat… kepresidenan dapet anggaran 420M, itu toh yang katanya kenaikan BBM sudah dihitung masak2, tepuk tangan buat pemerintah… huek pueh pueh!!
*ga batal puasa kok, lha wong kita didzolimi…*
salut untuk anggota dewan yang secara tegas menyalurkan dana 10 juta langsung ke rakyat miskin.semoga barokah terlimpah pada anda2 yang pengecualian tersebut.
Comment by freely — October 27, 2005 @ 4:08 am
ugh…(sambil pencat pencet kalkulator) 10 juta buat beli ‘minum’ mobil gw,bisa utk berapa tawon, yak?
Comment by Devita/Alya\'s Mom — October 27, 2005 @ 5:47 am
gila … ga waras … ga punya otak … ga punya hati … bukan manusia!!! …
huh!!!
jelas puasaku ga batal. lha wong aku ga puasa. hekekekeke …
hidup wakil rakyat!! … lho???
Comment by reena — October 27, 2005 @ 5:49 am
lebaran libur 3 hari. entah, nanti ke solo apa tidak hehe.. mungkin seminggu setelahnya baru ada waktu
Comment by Imponk — October 27, 2005 @ 4:41 pm
well jujur gw juga empet denger omongan kek gtuh.
but urusan anggaran ituw gak sesederhana ituh mengingat sistem penganggaran di sini dengan orang2an sawahnya yg sperti ituw2 sangatlah susah dinalar dengan pikiran awam. jadi kadang2 anggaran memang mesti dihabiskan, coz kalo tidak malah dinilai tidak sukses! aneh to?
asssshhh….mbuh ah!
insya Allah enggak batal mas! puasa kan bukan brarti bisa membuwat diri kita tak berdaya dan diam saja :p
oh i see, akhirnya ktemu the famous imponk, knalan mas!
Comment by Ash! — October 28, 2005 @ 4:23 pm
met liburan ya bro…
Comment by vi3 — October 29, 2005 @ 5:55 am
yah itulah enaknya jadi wakil rakyat…makanya, bercita2 menjadi wakil rakyat kalo mau cepat kaya nantinya…
Comment by fisto — October 30, 2005 @ 11:29 pm
met lebaran mas irf
maaf lahir dan batin yah
Comment by Di — October 31, 2005 @ 4:41 am
met mudik bro!
Comment by vi3 — November 1, 2005 @ 3:52 am
mas irfan, kapan mudik? lama gak? awas kalo ga mampir cilacap. awas juga kalo ga bawa oleh-oleh … hekekeke …
met lebaran, ya …
minal aidin wal faizin.
salam buat keluarga di wonosobo …
Comment by reena — November 1, 2005 @ 4:07 am