bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh …

mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut …

itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s’lalu naik itu perahu

—————————————————-

30 September 2005, sekitar pukul 09.00, Gesang sedang duduk di teras rumah yang ditinggalinya, sambil memberi makan ikan-ikan di akuarium, saat saya tiba di depan pintu rumahnya. Sesaat kemudian, saya sudah duduk di kursi kayu di ruang tamu rumah, di mana dinding-dindingnya dihiasi beragam foto dan piagam penghargaan yang pernah diterima Gesang.

Hari itu, tepat satu hari sebelum Gesang - nama lengkapnya Gesang Martohartono - berulang tahun yang ke-88. Ia memang dilahirkan 1 Oktober 1917, di Kampung Kemlayan, Solo. Kampung di mana ia tinggal sekarang. Oh ya, rumah yang ditinggali Gesang itu adalah rumah adiknya, Thoyib. Rumah Gesang sebetulnya di Palur, Jaten, Karanganyar. Tapi karena di masa tuanya ia hidup sendiri - Gesang tidak punya anak, juga bercerai dari istrinya - Walinah - pada 1963 - ia kemudian tinggal di rumah adiknya sejak tiga tahun belakangan.

Saya datang ke rumahnya untuk “ngobrol”. Selain soal kehidupannya, tentu soal Bengawan Solo. Sebuah lagu keroncong (Gesang menyebutnya langgam keroncong), yang terkenalnya mendunia. Terutama di Jepang. Yup, lagu itu memang sangat terkenal di negerinya kaum samurai itu.

Lagu itu dibuat Gesang pada 1940, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Ada alasan khusus kenapa Gesang menjadikan sungai Bengawan Solo sebagai tema lagu keroncong terkenal itu? Ternyata tidak. “Waktu itu, ya asal saja. Tidak ada alasan khusus,” kata Gesang.

Ia membuat lagu itu hanya karena ingin menambah daftar lagu untuk dinyanyikannya saat pentas. Gesang - sejak muda - memang sudah sering manggung sebagai penyanyi keroncong dengan beberapa kelompok keroncong yang ada di Solo.

Kemudian, Jepang pada 1942 datang menjajah Indonesia. Kata Gesang, saat Jepang menjajah, musik keroncong berjaya. “Soalnya pada waktu pendudukan Jepang, yang boleh disiarkan di radio cuma lagu daerah, klasik, keroncong sama lagu Jepang,” ujar Gesang.

Pas penjajahan Jepang itu pula, Gesang bergabung dalam kelompok penghibur bernama Jawa Aigasha, yang tugasnya menghibur tentara Jepang yang sakit di kamp-kamp Jepang. Kelompok ini bentukan Jepang, yang terdiri dari beberapa kelompok penghibur, mulai dari grup musik sampai tari-tarian. Bersama kelompok itu, Gesang “road show” ke berbagai kota seperti Pekalongan, Semarang, Surabaya, Madura, Banyuwangi dan Malang. Saat itu, ia sering menyanyikan lagu Bengawan Solo di hadapan tentara Jepang.

Mungkin, dari situlah ihwal kenapa lagu Bengawan Solo kemudian terkenal di dunia, terutama di Jepang. Saat saya tanyakan hal itu kepada si empunya, Gesang juga mengaku tidak tahu, kok lagu itu bisa sangat terkenal di Jepang.

“Saya sendiri juga tidak mengerti. Mungkin ya, berbarengan dengan adanya perang besar itu, Bengawan Solo jadi terkenal. Lagu itu memang sering saya nyanyikan waktu saya menghibur tentara Jepang. Mungkin dulu orang Jepang pas melihat saya nyanyi lagu ini ikut nyanyi, meski pelo-pelo (cadel). Itu saya sampai tidak mengerti, kok bisa sampai terkenal di Jepang.”

Setelah Jepang kalah perang, mereka pun kembali ke negerinya. Lalu sekitar 1965, ada orang Jepang yang mencarinya. Sejak itulah, banyak orang dari Jepang, juga dari negara-negara lain yang sering mendatangi rumah Gesang, bertamu dan beranjangsana karena kekaguman mereka terhadap lagu Bengawan Solo dan terhadap Gesang. Kedatangan mereka menunjukkan rasa hormat kepada si pencipta Bengawan Solo.

Sejak itu pula, Gesang kemudian beberapa kali diundang ke luar negeri. Tentu, termasuk ke Jepang. “Saya diundang ke Jepang itu sudah empat kali. Pertama ke Sapporo, kepulauan hokaido di jepang utara. Lantas 1988, 1990. Terakhir 1995….eh…. (dia lama mikir, berusaha mengingat )……1992 ke Malaysia, 1993….1994…1995, iya, 1995.”

Tiap kali diundang ke luar negeri, Gesang selalu saja diminta menyanyikan lagu yang merupakan karya masterpiece-nya.

“Yang serem sekali itu ketika main di Osaka. Itu yang pertama kali, saya main (maksudnya menyanyi) hanya diiringi piano. Penontonnya penuh. Banyak yang menangis (saat Gesang menyanyikan lagu Bengawan Solo). Mereka gembira, tapi menangis. Soalnya itu kan bekas tentara Jepang semua. Ingat pada waktu perang. Mereka sudah setengah tua-tua.”

Sekarang di usia senjanya, Gesang menikmati hari-harinya tanpa banyak kegiatan. Setiap pagi, ia jalan-jalan di sekitar rumahnya. Kalau siang tidur. Soalnya, jika duduk terlalu lama, ia sering pusing. Mungkin ini pengaruh dari usianya yang sudah udzur.

Mengutip lirik lagu Bengawan Solo yang dulu pernah jadi jargon iklan produk pipa PVC “air mengalir sampai jauh” (dari iklan ini, Gesang - menurut pengakuannya - mendapat royalty Rp 10 juta), lagu ciptaan Gesang betul-betul “mengalir sampai jauh”. “Mengalir” hingga kuping sebagian masyarakat dunia. Hebat.

Selama ngobrol dengannya, saya sangat terkesan. Di usianya yang sudah 88 tahun kurang sehari, ingatannya masih kuat. Tahun-tahun penting dalam kehidupannya masih terekam baik di ingatannya.

Saya juga terkesan, karena yang saya hadapi adalah seorang maestro musik keroncong yang rendah hati. Seorang maestro, yang bagi saya merupakan sosok inspiratif karena mampu mengangkat nama Indonesia ke dunia manca. Tapi tidak terlihat nada pongah dalam bicaranya, padahal dia seorang maestro.

Saya pribadi sangat suka, bila Gesang disebut sebagai seorang maestro. Maestro musik keroncong. Karena dia - bagi saya - memang seorang maestro. Tak ada kata lain.

Meski maestro, jumlah lagu yang diciptakan Gesang tidak banyak. Menurut pengakuannya, jumlah lagu yang diciptakannya ada 25 lagu. Selain Bengawan Solo, Jembatan Merah adalah sisi lain dari masterpiece karya Gesang. Beberapa lagu lain adalah Sapu tangan, Tirtonadi (ini bukan lagu Terminal Tirtonadi-nya Didi Kempot), Dunia Berdamai, Kalung Mutiara, dan sebagainya.

Ada juga langgam Jawa terkenal, yang juga ciptaan Gesang. Judulnya Caping Gunung. Pernah dengar? Sepenggal liriknya seperti ini …. “dek zaman berjuang, njur kelingan anak lanang, mbiyen tak openi, ning saiki ono endi? …… ”

Kapan Gesang terakhir menciptakan lagu? “Terakhir 1970 …. eh, 1972. Kalau langgam Jawa ya, 1975. Caping Gunung. Itu saya ciptakan pas saya di Bali. Kalau langgam biasa (langgam keroncong, maksudnya) 1972. Kalung Mutiara, judulnya,” tuturnya.

Tidak banyak memang, lagu yang diciptakan Gesang. Tapi itu tidak membuat dia batal menjadi seorang maestro musik keroncong.

Salut buat Pak Gesang.
Salut buat Sang Maestro.
Salut …. salut …. salut

(foto di atas diambil oleh Ichwan Prihantoro, rekan jurnalis foto di media tempat saya bekerja)