Fyuh, dua hari ini Solo diguyur hujan.
Alhamdulillah….
Bikin adem otak yang sedang mendidih.
Selain itu juga bisa membaui wangi tanah yang menyeruak ke udara. Hmmmm…..

Kalo hujan turun, saya selalu ingat sama kebesaran hati seorang kusir andong (andong, dokar atau delman, sama aja) yang pernah kusir itu omongkan ke bapak saya. Kejadiannya sudah lama banget. Mungkin pas saya masih SMA atau kuliah, saya sudah tidak ingat. Kebetulan, rumah saya di desa sana - Wonosobo (paling gak pada ngerti. maklum, kota kecil di kaki gunung) - ada di pinggir jalan. Nah, jalan di depan rumah saya itu dipakai untuk mangkal dokar.

Nah, suatu saat hujan turun dengan derasnya. Otomatis dokar-dokar itu - termasuk kusir dan kudanya, tentu - kehujanan. Kusir dan kudanya itu kedinginan. Di tengah guyuran hujan, ada seorang kusir dokar yang masuk ke toko milik ibu saya (di rumah, ibu punya toko kelontong kecil-kecilan). Kusir itu berniat membeli rokok untuk sekedar mengusir hawa dingin. Kebetulan bapak saya yang menjaga toko waktu itu.

Lalu terjadi dialog singkat antara bapak saya dengan kusir dokar itu. Kira-kira dialognya begini (detilnya sudah gak ingat, wong sudah lama sekali).

“Hujannya deras sekali ya, pak,” kata bapak saya, dengan menggunakan bahasa Jawa.
“Iya. Tapi nggak papa, pak. Disyukuri aja. Karena ini pemberian Allah,” jawab kusir dokar itu, juga dengan bahasa Jawa.

Beberapa saat kemudian, pak kusir delman itu pamitan dan balik ke delmannya. Sambil menghisap rokok yang baru dia beli, dia menunggu penumpang yang berniat menggunakan jasanya di tengah guyuran air hujan yang masih lebat.

Sepenggal dialog itu lalu diceritakan bapak saya kepada saya. Bapak saya rupanya terkesan dengan apa yang dikatakan pak kusir itu. Saya yang mendengarnya tidak langsung dari kusir tapi dari bapak saya, tidak kalah terkesan. Bahkan sampai sekarang, kalau hujan turun, saya sering ingat dengan kata bijak yang dilontarkan pak kusir itu.
“Disyukuri saja, karena ini pemberian dari Allah.”

Tiap hujan, saya juga ingat teguran yang pernah dikatakan teman saya kepada saya. Kejadiannya waktu saya kuliah dan lokasi kejadiannya di rumah kos saya. Ceritanya, saat itu turun hujan. Saya yang saat itu sedang nongkrong sama teman saya tiba-tiba mengumpat dan bilang, “Yah, hujan.” Ceritanya saya sebel, kenapa harus hujan.

Teman saya yang mendengar umpatan dan omongan saya langsung menegur saya. “Kenapa kamu mengumpat begitu kamu tahu hujan turun? Kalau kamu mengumpat turunnya hujan, berarti kamu mengumpat Yang Membuat Hujan?” kata teman saya.

Deg….
Saya langsung terdiam, nggak bisa ngomong sampai beberapa saat. Benar banget apa yang dikatakan teman saya.

Masya Allah……
Padahal saat kemarau, kita mengharap hujan
Tapi begitu hujan turun, malah disesali
Manusia…..
Nggak pernah merasa puas

Duh, betapa hati ini masih jauh dari rasa syukur. Masih sering nggerundel kalo hujan turun, sehingga kegiatan yang harus dilakukan jadi gagal. Masih sering sebel saat hujan turun sehingga tidak bisa jalan-jalan.

Padahal hujan itu rezeki dari langit yang diberikan Sang Khalik kepada penghuni bumi. Padahal hujan itu rezeki yang dicurahkan karena saking sayangnya Sang Pencipta kepada kita.
Astaghfirullah…..

catatan
————
Hujan : sesuai dengan EYD dalam Bahasa Indonesia, artinya … ya hujan.
Ujan : artinya hujan juga, cuma ini sesuai EYD bahasa prokem … hehehe
Udan : artinya juga hujan, cuma ini dalam Bahasa Jawa ngoko alias Bahasa Jawa keseharian untuk ngomong sama teman sebaya atau teman akrab
Jawah : ini artinya idem, hujan juga, cuma ini jenis Bahasa Jawa Kromo, lebih halus dan biasa dipakai untuk berbicara dengan orang tua atau yang dihormati.
Rain : kalau ini artinya … silakan buka kamus sendiri … hehehe