….. So long
….. it was so long ago
….. But I’ve still got the blues for you

(Still Got the Blues - Gary Moore)

“Kenapa kamu suka musik blues?” tanya salah satu teman saya waktu ketemu di Yahoo! Messenger.
Saya yang ditanya malah bingung menjawab. “Kenapa ya, kok saya suka musik blues?” kata itu yang ada di otak saya.
“Karena saya tidak bisa bermain gitar seperti Yngwie Malsteen, John Petrucci, Kirk Hammet, Joe Satriani, Steve Vai, atau pendekar-pendekar gitar lain,” jawab saya kemudian.

Itu jawaban jujur saya. Saya suka blues memang karena jari-jari saya masih bisa mengikuti permainan melodi gitarnya, dibanding permainan gitar yang dilakukan para jawara gitar hebat. Blues - buat saya - bisa jadi lebih simpel. Tapi bukan berarti blues lebih mudah.

Saya seneng blues juga karena saya bisa mengeksplorasi gitar akustik saya. Karena irama blues tetap asyik dimainkan secara akustik. Soalnya saya gak punya gitar listrik. Mahal, bo! hehehehe….

Blues pula yang membuat saya bisa mem-bending senar gitar akustik saya sampai mau putus dan bisa memainkan teknik vibrato sampai jari mau kriting. Bending dan vibrato itu dua teknik gitar yang paling saya suka. Rasane marem, bisa mengeksplorasi enam dawai gitar saya dengan teknik itu. Selain itu, saya juga bisa belajar slide guitar. Permainan slide guitar ini salah satu ciri musik blues, meski sering juga dipakai di musik country.

Blues pula yang menjadi salah satu tempat berkeluh kesah saya dari penat rutinitas. Memutar kaset blues, lalu ikut memainkan nada dan melodinya dengan gitar akustik. Hmmm….. abis itu biasanya sih agak fresh otak saya.

Arti kata blues sendiri menurut kamus adalah merintih. Nggak heran, karena musik ini memang awalnya dari rintihan kaum negro yang hidupnya ditindas perbudakan di Amrik sono. Tapi buat saya, blues bisa berarti macam-macam. Bisa sedih, bisa seneng. Tergantung suasana hati. Tidak selalu harus merintih sedih.

Blues - konon - lahir di New Orleans, yang juga jadi tempat kelahiran musik jazz. Itu juga kalo saya nggak lupa ingat. Yang jelas, jazz adalah pengembangan dari musik blues. Kalo didengerin, akarnya sama. Cuma, jazz lebih rumit karena chord musiknya lebih banyak dibanding blues.

Banyak temen-temen saya yang heran dengan selera musik saya ini. Soale nggak lazim banget. Maklum, tidak banyak orang yang seneng ndengerin blues. Kalo jazz kan masih banyak. Tapi blues, paling juga segelintir orang yang seneng. Tapi, saya sih cuek aja. Berselera beda kan nggak dilarang.

Saya sempat sedih waktu acara siaran blues di salah satu stasiun radio di Solo menghilang, diganti musik country yang bagi saya kurang greget karena monoton iramanya. Saya juga sempat sedih waktu acara Blues Night di TVRI ikut-ikutan menghilang. Padahal untuk nonton acara itu, dulu sempat otot-ototan sama teman saya di kos yang pingin lihat acara lain. Hiks….

Blues….blues…blues……. salam blues!