Sebetulnya udah males mencurahkan uneg-uneg soal pesawat. Soale udah nulis Airplane Crash dan Airplane Disaster sebelum episode Airplane Bosok ini. Tapi sehabis baca koran tadi, otak saya terusik lagi untuk menulis soal pesawat. Kalo gak dicurahkan, takutnya ntar jadi bisul…hehehehe….

Koran yang saya baca tadi salah satu artikelnya berjudul “Empat Pesawat Boeing 737-200 Dikandangkan”. Saya baru baca judulnya, saat saya menebak isi beritanya. Tentu soal pesawat yang dipakai maskapai penerbangan Indonesia, yang sebetulnya sudah waktunya pensiun tapi masih dipaksa terbang.

Saya lalu meneruskan membaca isi artikelnya. Dan tebakan saya tidak terlalu melenceng jauh. Empat pesawat yang dikandangkan itu tidak layak terbang karena soal teknis. Semuanya berjenis Boeing 737-200, tipe yang sama dengan pesawat yang nyungsep di Medan. Empat yang dikandangkan itu ada yang mengalami gangguan di roda. Tapi ada satu pesawat yang penyebab dikandangkannya membuat saya geleng-geleng kepala. Karena high speed rem-nya bermasalah. Apa itu? Kampas rem-nya sudah sangat tipis. Bujubuneng……

Hal itu diketahui saat Menteri Perhubungan Hatta Radjasa melakukan sidak ke Bandara Soekarno Hatta. Saat sidak, ia masuk ke pesawat-pesawat Boeing 737-200 milik Adam Air, Sriwijaya Air dan Batavia Air. (Lha, kok dia gak masuk ke pesawatnya milik Mandala Air, ya? Entah, lupa kali……). Sayang Hatta tidak menyebutkan empat pesawat yang dikandangkan itu milik maskapai mana. Tapi kalau Hatta hanya masuk ke pesawat milik tiga maskapai itu, bisa jadi empat pesawat rusak yang dikandangkan itu milik salah satu maskapai, milik dua maskapai atau milik ketiga maskapai itu. Nah, monggo, silakan menduga……

Yang membuat saya geram, kalau misalnya Hatta tidak melakukan sidak, berarti pesawat bosok (bahasa Jawa, artinya busuk…biasa dipakai untuk menggambarkan barang atau sesuatu yang rusak) itu bakal terus terbang dengan taruhan nyawa penumpangnya? Kalau tidak ada sidak, si maskapai bakal terus cuek menjaring penumpang untuk naik pesawat bosok itu? Dan penumpang tidak ada yang tahu, bahwa pesawat yang dinaikinya bosok bin bobrok bin bosok bin bobrok? Kalau seperti itu, berarti si maskapai sama bosoknya dengan pesawatnya. Oalah……. bosok tenan….

Entah, apakah bosoknya pesawat itu karena memang benar-benar sudah bosok, atau karena maintenance-nya yang juga bosok, minim, karena biayanya tinggi. Kalau memang pihak maskapai mengabaikan soal maintence sampai-sampai pesawatnya ketahuan bosok saat disidak, lha ini nggak ada bedanya dengan teroris, dong? Bedanya, si maskapai ini meneror perasaan takut penumpangnya di pesawat saat dalam perjalanan mereka. Wah, fayah……

Ya, semoga saja setelah ini, pihak maskapai atau siapa saja yang terkait dengan urusan terbang menerbangkan pesawat jadi lebih care, lebih peduli dan punya otak yang tidak bosok.

Memang, penerbangan itu tidak murah. Memang, menjual tiket dengan harga murah itu tidak salah. Tapi, menjual tiket dengan harga murah tapi kemudian mengorbankan hal lain yang lebih besar dan berurusan dengan nyawa banyak orang, tentu akan lebih baik kalau maskapai menjual tiket dengan harga wajar. Atau sedikit mahal juga tidak masalah. Artinya, duit yang masuk juga sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Maintenance pesawat juga terperhatikan dengan baik. Jadi kalau misalnya ada yang bosok langsung bisa diatasi.

Semoga ….

(NB: Semoga juga ada orang penerbangan yang baca uneg-uneg (tidak) bermutu ini. Syukur kalau yang baca Pak Hatta Radjasa……hehehehehehe)