hhhhhhhhhh………….. (menghela nafas)

Beberapa hari ini - terutama setelah nahas Mandala Airlines di Medan - kok kuping ini - mau tidak mau - harus mendengarkan berita soal musibah dunia penerbangan terus. Berita Mandala belum lagi mereda, sudah ada berita soal penerbangan beberapa pesawat yang ditunda karena masalah teknis. Ada yang mendarat darurat, ada yang gagal take off, dan macam-macam.

Hari ini, Jum’at, 9 September, bahkan ada kecelakaan pesawat lagi. Pesawat CASSA milik DAS nyungsep. Tadi tahu pas lihat berita di tivi, cuma karena lagi konsen ngedit berita jadi tidak begitu tahu, penyebabnya apa. Hidung pesawatnya ringsek. Selain itu, ada juga pesawat lain yang urung take off karena masalah teknis. Kalau tidak salah juga, pesawat itu milik DAS juga.

Duh, kok musibah dunia penerbangan ini terjadi bertubi-tubi? Ada apa gerangan?

Saya pernah curiga, musibah di dunia penerbangan disebabkan maintenance pesawat kurang baik. Saya su’udzon (berprasangka buruk), itu disebabkan perusahaan tidak mau mengeluarkan biaya perawatan terlalu tinggi. Apalagi setelah harga avtur - bahan bakar pesawat - naik beberapa waktu lalu.

Masih ingat gak, saat terjadi perang tarif gila-gilaan antara maskapai penerbangan satu dengan yang lain? Waktu itu, hampir semua maskapai menjual tiket dengan harga murah untuk menjaring penumpang sebanyak-banyaknya. Kebanyakan penumpang sih senang saja. Bisa naik pesawat dengan harga yang murah, meski dengan pelayanan ala kadarnya. Minimal dapat air mineral gelas dan sekerat roti saat berada di pesawat. Lumayan, bisa ngganjel perut yang laper…….

Dari situlah, su’udzon saya muncul. Dengan harga tiket murah, tentu pemasukan yang diterima maskapai juga tidak besar. Pemasukan itu tentu dipakai untuk biaya operasional maskapai. Selain membayar gaji karyawan dan membiayai tetek bengek administrasi perusahaan, juga - tentu - untuk biaya perawatan pesawat yang tidak murah. Akhirnya, karena pemasukan minim, maka biaya untuk maintenance pesawat dipangkas.

Tapi, entahlah. Semoga saja su’udzon saya hanya sekadar su’udzon.

Pengalaman saya waktu meliput nahas Lion Air, waktu itu ada Ketua KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) Setyo Raharjo. Pak Setyo waktu itu ditanya, apa mungkin penyebab kecelakaan Lion Air karena maintenance pesawat yang tidak baik, yang itu disebabkan minimnya biaya maintenance sebagai efek dari murahnya harga tiket? Tentu saja, pertanyaan itu dibantah oleh Pak Setyo. Tidak ada alasan bagi maskapai untuk tidak mengeluarkan biaya maintenance yang cukup tinggi, hanya karena menjual tiket dengan harga murah. Sebab, maintenance pesawat itu sudah prosedur yang harus ditaati. Termasuk juga menyediakan perlengkapan penyelamatan - seperti pelampung atau kapak untuk memecahkan kaca - di dalam pesawat.

Oke, saya bisa menerima alasan itu. Lagipula logis.

Pernah juga saya ketemu dengan humasnya salah satu maskapai penerbangan yang harga tiketnya murah dan saat itu terlontar pertanyaan yang sama. Dan jawabannya, tentu sama. Tidak ada alasan bagi maskapai tidak me-maintenance pesawat hanya karena menjual tiket dengan harga murah.

Yup, saya makin mantap. Karena maintenance pesawat itu urusannya dengan nyawa orang banyak.

Tapi, dengan musibah dunia penerbangan yang bertubi-tubi belakangan ini, saya jadi ber-su’udzon lagi. Dan lagi-lagi, saya hanya bisa membesarkan hati saya sendiri, semoga su’udzon saya tidak terbukti. Astaghfirullah……