Tulisan ini masih ada hubungannya - meski sedikit - dengan tulisan sebelumnya berjudul “Nina”.

Di postingan berjudul “Nina”, saya menulis soal kesan saya akan keramahan seorang penyanyi bernama Nina, yang sebelum bersolo karis namanya melambung bareng kelompok vokal Warna. Ramah banget, orangnya. Padahal kalo misalnya dia agak kemayu dan jaim pun, mungkin orang awam tidak akan banyak yang protes. “Maklum, orang terkenal,” mungkin begitu pikir orang awam, kalo misalnya melihat seorang public figure kemayu dan jaim.

Sebetulnya, tidak hanya Nina yang sudah saya rasakan keramahannya. Banyak. Pekerjaan saya sebagai jurnalis, membuat saya sering ditugaskan bos saya untuk meliput acara hiburan - terutama konser - dari public figure terkenal. Tidak jarang pula, ada sesi wawancara dengan si artis yang tampil.

Dari sekian banyak public figure yang saya pernah ketemu langsung, selain Nina, saya masih terkesan dengan keramahan Ari Lasso, Iwan Fals, Kelik Pelipurlara, anak-anak Slank, punggawa Naif, beberapa finalis Indonesian Idol 2 (mereka blm begitu terkenal, tapi gak papa lah disebut public figure), Kristina, Inul, Krisna Mukti, dan beberapa lainnya.

Ada juga yang kurang ramah. Paling tidak menurut penilaian saya pribadi. Personel Dewa - Once dan Tyo - menurut saya kurang membumi. Dua kali saya jumpa mereka dalam press conference, dua kali pula saya merasakan kesan yang sama dari mereka, ogah-ogahan. Senyumnya juga terkesan terpaksa. Nggak tahu kenapa, kok sampai seperti itu. Padahal saat itu juga banyak fans Dewa yang hadir. Gak tau, dalam kehidupan aslinya mereka gimana. Fayah….

Mungkin juga ada public figure tidak ramah lain, yang pernah saya tahu. Tapi lupa. Yang paling inget ya, pas ketemu dua orang personel Dewa itu.

Soal keramahan, saya malah merasakan kesan yang dalam dari penyanyi-penyanyi dangdut ibukota. Soal ramah, mereka malah lebih. Jarang sekali saya ketemu dengan penyanyi dangdut yang sok. Dari sekian banyak penyanyi dangdut, saya paling terkesan dengan Kristina. (jatuh bangun aku, mengenalmuuuuu….. namun dirimu tak, mau mengerttiiiiiiiiiiiiiiii……..). Orangnya asyik. Pas wawancara - bareng sama temen2 jurnalis lain - lebih banyak guyonnya daripada seriusnya. Dua jempol buat elo, Kris! hehehehe….

Tapi yang sangat berkesan ya, pas ketemu Iwan Fals waktu press conference saat dia konser “Bersatu Dalam Damai” bareng Slank di Solo. Gak nyangka aja, keinginan saya bertemu dengan “pahlawanku” ini bakal kesampaian. Sayang, saya tidak bisa ngobrol banyak. Kesempatan ngobrolnya ya, pas press conference. Selesai acara, saya nekat maju ke depan, meminta foto bareng dirinya, dan memaksa fotografer teman saya mengambilkan gambar. Cheeerrrsss……!

Saat itu, kesan ramahnya sangat kuat. Dia santai aja ber-haha hehe sama orang2, yang kebanyakan baru dikenalnya. Nggak ada kesan dia ramah dibuat-buat. Natural banget.

Saya cuma bayangin aja, mungkin dunia entertainment bakal tambah asyik kalo semua public figure yang terlibat di dalamnya ramah. Nggak sok, mentang-mentang terkenal. Ah…embuh,,,,

NB : Kapan ya, aku bisa ketemu Iwan Fals lagi? Oh ya, di tulisan ini, saya menuliskan artis itu sebagai public figure, bukan selebritis. Kenapa? Sejak tayangan infotainment makin menjamur dan sering bikin risih dengan ulah pekerjanya, saya juga jadi alergi dengan kata selebritis. Rasanya menyebalkan, saat mendengar kata itu. Hehehe……