Sudah sejak setahun belakangan, ada lakon “kethoprak” yang - buat saya - (tidak) menarik untuk diikuti. Soal gegeran rebutan tahta di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat antara KGPH Hangabehi dan KPGH Tedjowoelan, yang sama-sama mengklaim dirinya sebagai Paku Buwono (PB) XIII, raja penguasa Keraton Kasunanan Surakarta.

Ontran-ontran di tubuh kerajaan Dinasti Mataram itu “start” sejak Sinuhun PB XII wafat. Sebetulnya, friksi perebutan tahta sudah mulai (mungkin) saat PB XII masih hidup. Tapi belum begitu menonjol. Baru, saat PB XIi meninggal, kericuhan perebutan tahta menguat.

Yang ironis, friksi itu langsung menguat hanya selang beberapa saat - mungkin hitungannya menit - setelah PB XII mengembuskan nafas terakhir. Saat jasadnya masih disemayamkan di keraton, aroma pertikaian sudah mulai terasa. Tapi masih teredam suasana duka.

Ketika PB XII dimakamkan di Astana Imogiri - komplek makam keluarga Dinasti Mataram - aroma friksi juga belum begitu menguat. Baru, selang beberapa waktu setelah pemakaman raja, friksinya memuncak. Dan sampai sekarang belum ada titik temu.

Keraton terpecah jadi dua kubu. Kubu KPGH Tedjowoelan dan kubu KGPH Hangabehi. Keduanya mengklaim sama-sama berhak menjadi PB XIII, menggantikan PB XII, duduk di singgasana. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, dengan alasan masing-masing, yang menurut mereka benar.

Saya sebagai orang awam, hanya bisa mereka-reka, kalau faktor utama perebutan tahta di keraton adalah soal harta. Tapi mungkin juga karena faktor lain yang saya tidak tahu. Sebab, alasan-alasan yang dikemukakan kedua kubu untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing buat saya jadi tidak jelas, mana yang benar mana yang salah. Sebab, bagi kedua kubu, pendapat yang mereka lontarkan untuk mempertahankan tahta adalah benar.

Hampir tiap hari, selalu ada berita terbaru dari keraton, yang intinya masih sama, soal ontran-ontran. Kubu A mengeluarkan statemen ini, kubu B mengeluarkan statemen itu, kubu A mengklaim ini, kubu B mengklaim itu. Terus….seperti itu. Seperti tidak ada ujung pangkalnya.

Saya jadi ingat. Dulu, setiap kali ditugaskan untuk meliput acara di keraton, saya pasti senang. Sebab saya bisa jalan-jalan di dalam komplek keraton. Terutama setelah masuk Kori Kamandungan, terus masuk ke halaman Sasono Ondrowino, yang banyak ditumbuhi pohon sawo, lalu berjalan-jalan di hamparan pasir - tanah di halaman dalam keraton memang pasir - yang katanya adalah pasir dari pantai selatan. Rasanya adem. Tenang. Sejuk. Tidak terasa ada gesekan dan permusuhan diantara putra-putri PB XII.

Sekarang, mungkin suasana bangunannya masih sama. Suasana bangunannya masih teduh dan tenang. Tapi suasana keratonnya yang beda. Panas. Duh……

Kejadian di Keraton Kasunanan Surakarta ini jadi sama seperti yang terjadi di Kasultanan Cirebon setelah penguasanya mangkat. Kisah perebutan tahta terjadi di kerajaan di pesisir utara tanah Jawa itu. Dan kisah itu berulang di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Kisah perebutan kekuasaan di sebuah kerajaan ini, ketika saya kecil, sering saya lihat di pentas-pentas kethoprak. Kisah perebutan tahta dan kekuasaan, yang berujung pada perang antar saudara sedarah. Bedanya, kali ini, saya tidak melihat kethoprak yang ceritanya berdasarkan skenario dan arahan sutradaranya, atau kisah fiksi yang dipanggungkan. Tapi saya melihat “kethoprak reality”, yang skenarionya dibuat atas dasar keserakahan akan derajat, pangkat dan harta. Dimana semua pelakunya seperti menjadi sutradara bagi lakon yang mereka perankan sendiri.

Saya bukan orang asli Solo. Tapi saya hidup di Solo - dimana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri - sudah sejak 1996. Dulu saya kenal keraton hanya dari bangunannya. Baru, setelah menjadi jurnalis, saya mulai tahu soal keraton tidak hanya dari bangunannya.

Saya menulis ini didasari (sedikit) rasa prihatin atas nasib keraton. Saya pribadi tidak begitu peduli, bagaimana nasib keraton kelak. Ada pertentangan soal ideologi yang saya percayai dengan adat istiadat di keraton. Saya suka keraton lebih ke bentuk eksotisnya dan kemegahannya. Saya suka keraton juga karena itu bagian dari sejarah negeri ini. Tapi soal adat istiadat, ya itu tadi, ada beberapa hal yang bertentangan dengan apa yang saya percayai.

Saya menulis ini juga hanya sebagai pelajaran buat saya pribadi - juga buat Anda yang bersedia membaca tulisan ini - bahwa keserakahan akan harta dan tahta, bisa berujung pada pertikaian dan permusuhan. Ini salah satu hal yang sangat saya takuti. Semoga saja, dari keraton ini, saya bisa lebih bijak menapaki hari. Dan tidak silau dengan harta dan tahta. Semoga………