Kemarin, hampir seharian saya mendengarkan sayatan gitarnya Jimmy Page, dentuman bass-nya John Paul Jones, gebukan drumnya John “Bonzo” Bonham dan lengkingan suaranya Robert Plant dari band legendaris Led Zeppelin (selanjutnya saya sebut Led’Z). Tentu, sambil tetap bekerja.

Led’Z namanya melambung di era 60-an akhir dan meraja di 70-an. Di era itu, konon tidak ada band lain, yang namanya lebih besar dari Led’Z.

Dari yang pernah saya baca di beberapa majalah, Led’Z adalah supergrup yang meletakkan dasar-dasar musik hard rock dan heavy metal yang berkembang di era 80-an dan sesudahnya, sampai sekarang. Seperti Jimmy Hendrix yang menjadi inspirasi permainan para gitaris hebat, Led’Z menjadi inspirasi bagi musik dari band-band besar era 80, 90, sampai sekarang.

Komposisi musik Led’Z memang luar biasa. Rumit, tapi indah. Kompleks, tapi menyatu. Semua personelnya hebat. Tapi- buat saya - yang paling saya sukai dari komposisi lagu-lagunya Led’Z adalah permainan gitar Page - “alumnus” band Yardbirds, yang juga menjadi batu loncatan gitaris Eric Clapton sebelum namanya berkibar di panggung musik dunia - dan pukulan drum Bonham.

Permainan gitar Page - buat saya - sangat enak dinikmati. Ia bisa bermain melodius dalam lagu-lagu Led’Z yang berisik, tapi bisa sangat membius saat Led’Z memainkan komposisi yang slow. Permainan gitar akustiknya juga gila. Beberapa hari lalu, saya dengar lagu Black Dog yang dimainkannya secara akustik, dengan aransemen yang sangat berbeda dengan aslinya. Luar biasa. Keren abis…… Tidak heran kalau majalah Rolling Stone menempatkan dia dalam deretan 100 gitaris terbaik sepanjang masa.

Sementara gebukan drum Bonham sangat khas. Ritmenya - pada beberapa lagu - dimainkan secara patah-patah, memutus alur tempo, kadang terkesan main-main, tapi tetap terjaga sehingga lagunya tetap utuh. Tidak heran kalau Bonham disebut sebagai pelopor permainan drum yang memotong alur tempo di tengah lagu, berintonasi patah-patah. Dan itu menjadi ciri khas lagu-lagunya Led’Z. Tidak heran juga kalau Led’Z kemudian memilih tidak meneruskan karir mereka di dunia musik, setelah Bonham tewas (kalau nggak salah Bonham tewas tahun 1980) karena overdosis alkohol. Karena, tanpa Bonham, musik Led’Z jadi tidak utuh. Salah satu ciri khasnya jadi hilang.

Tiga personelnya kemudian bersolo karir. Cuma, namanya tidak begitu kedengeran. Tidak seperti waktu mereka masih bergabung di formasi Led’Z.

Soal vokal Plant, itu juga jadi nyawanya Led’Z. Musik Led’Z mungkin tidak akan sedahsyat yang bisa didengar, kalo vokalnya bukan Plant. Sedang Jones, ini personel paling pendiam. Tapi di beberapa lagu, dia memberi sentuhan manis lewat permainan keyboard yang enak banget didengar. Tapi di atas panggung, aksi Jones sangat membosankan. Cuma berdiri mematung di samping set drum Bonham, sambil memainkan bass-nya. Saya tahu itu juga pas lihat video konser The Song Remains The Same milik Led’Z.

Ada dua lagu yang sangat saya sukai dari seabrek lagu-lagunya Led’Z. Since I’ve Been Loving You yang kental corak blues, sangat pas didengar saat sedang jatuh cinta…..hehehehehe. Dan juga Stairway to Heaven. Stairway - menurut saya - juga menjadi lagu favorit dari semua penggemar Led’Z di seluruh dunia. Maklum, itu lagu masterpiece mereka, yang anehnya tidak pernah dirilis dalam bentuk single. Achilles Last Stand jadi lagu berikut yang menjadi favorit, karena bikin semangat kalau saya dengar di pagi hari….hehehehe. Tapi, secara umum, hampir semua lagu-lagunya Led’Z saya sukai, meski saya tidak punya semua album rekamannya.

Saya pernah baca review di sebuah majalah pas Led’Z mengeluarkan album kompilasi “Early Days (1999)” dan “Latter Days (2000)”. Disitu disebutkan kalau lagu-lagu terbaik Led’Z tidak cukup hanya dimasukkan dalam dua album kompilasi. Soalnya, lagu-lagu yang terserak di 10 album rekaman mereka, semua layak disebut terbaik. Jadi, bisa dibilang, semua albumnya Led’Z adalah the best. Wow……